Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 114


__ADS_3

Tristan tampak terkejut saat dirinya baru keluar dari kamar inap Heila dan melihat ada dua orang yang sangat-sangat ia kenal tengah tertidur di ruang tunggu itu. Dan Tristan lebih terkejut saat melihat Yola ada disana juga. Namun sesaat setelahnya ia tersenyum melihat wajah damai dari dua anak manusia itu.


"Syukurlah kalau Yola memikirkan ucapanku untuk segera kembali pulang kemarin. Dan sepertinya hubungan mereka sudah kembali membaik lagi. Huh." Helaan nafas lega terdengar jelas keluar dari hidung Tristan.


"Tapi tunggu sebentar, kenapa mereka tidur disini bukan tidur di rumah masing-masing kalau tidak ya di ruangan Adam dimana disana ada kamar yang bisa mereka gunakan untuk tidur. Daripada tidur disini dengan posisi duduk seperti ini yang pastinya tidak nyaman untuk mereka," sambung Tristan sebelum tangannya kini bergerak, mengguncang lengan Adam agar sahabatnya itu terbangun dari tidurnya.


"Dam, bangun Dam. Kalau mau tidur pulang dulu kalau tidak ya pindah ke ruangan kamu. Kasihan Yola kalau harus tidur dalam posisi duduk seperti ini," ucap Tristan disela-sela ia menggoyangkan lengan Adam.


Dan tak berselang lama, Adam yang terganggu tidurnya akibat ulah Tristan pun ia terbangun dengan mata yang menyipit sembari mengusap.


"Jam berapa?" tanya Adam masih dengan mata yang benar-benar mengantuk berat. Maklum semalam begadang memikirkan Yola dan mencari donor darah untuk Heila.


"Sekarang jam 7 malam."


"Ohhh jam 7 malam pantas saja gelap," ujar Adam sebelum ia menutup kembali matanya. Tapi sesaat setelahnya matanya itu terbuka lebar.


"Tunggu, jam 7 malam?" Tristan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Astaga berarti aku ketiduran disini selama 3 jam lebih," ucap Adam dan saat dirinya ingin mengusap wajahnya, ia baru sadar jika bukan hanya dirinya saja yang ketiduran di ruang tunggu melainkan Yola pun juga ikut ketiduran dengan bahu Adam yang dijadikan bantalan oleh perempuan itu.


"Ralat, aku sama Yola ketiduran disini selama 3 jam lebih," kata Adam memperbaiki ucapannya sebelumnya.


"Lagian kamu ngapain disini sih. Dan kenapa sampai ketiduran, bisa-bisa ya kalian ini," ujar Tristan tak habis pikir.


"Jangan keras-keras kalau ngomong. Awas saja kalau sampai Yola kebangun. Aku potong gaji kamu. Dan kamu bisa-bisanya tanya kenapa kita bisa ada disini dan sampai ketiduran seperti ini. Kita disini itu awalnya mau jengukin Heila, tapi saat kita sampai disini, kita berdua malah disuguhkan dengan pemandangan yang sangat-sangat romantis. Alhasil karena kita berdua tidak mau mengganggu dan merusak momen itu, kita memutuskan untuk menunggu saja disini. Tapi ternyata momen romantis itu terus terjadi dan tidak ada hentinya yang membuat kita berdua yang menunggu disini mengantuk dan berakhir ketiduran sampai sekarang!" ucap Adam yang justru membuat Tristan terdiam.


"Haishhhh sudahlah. Karena jam besuk sudah habis. Kita berdua pulang saja dan akan kembali lagi besok. Jagain Heila, dia disini sendiri soalnya. Dan ingat di rumah sakit ini ada orangtua Kenza, aku takut Heila nanti diapa-apain sama mereka agar Heila bisa membujuk kamu untuk mencabut laporanmu kepada Kenza," ujar Adam yang hanya bisa diangguki oleh Tristan.


Adam yang melihat anggukkan itu pun ia segera merubah posisi Yola, menyenderkan tubuhnya kekesihnya itu di senderan kursi tunggu yang terhubung dengan tembok sebelum dirinya mengangkat tubuh Yola ala bridal style.


"Ahhhh satu lagi, aku sarankan kamu untuk gerak cepat sebelum kamu terlambat dan akan menyesalinya nanti karena Heila itu incaran beberapa laki-laki diluaran sana. Udah dulu ya, jangan lupa besok pagi suapin sarapan buat Heila seperti tadi," sambung Adam sedikit memberikan sindiran kepada Tristan sebelum dirinya benar-benar pergi dari hadapan Tristan yang kini tampak terdiam dengan tatapan mata yang terus melihat kearah Adam yang semakin lama semakin menjauh darinya.


"Tunggu sebentar, apa dia sedari tadi menyindirku? Apa dia juga melihatku menyuapi Heila tadi? Ya, dia dan Yola pasti sudah melihatnya. Astaga," ucap Tristan takut jika mereka berdua akan berpikir yang tidak-tidak kepadanya. Padahal dia menolong Heila tidak ada maksud tertentu tapi benar-benar tulus dari hatinya yang paling dalam. Tapi entah dengan hati kecilnya yang masih abu-abu tentang perasaannya itu yang menganggap Heila itu hanya seseorang yang perlu ia tolong saja atau malah justru lebih. Entahlah, Tristan saja belum tau.


Sedangkan disisi lain, lebih tepatnya didalam penjara khusus Kenza terus meronta-ronta mencoba untuk melepaskan dirinya dari borgol yang berada di kaki dan tangannya itu. Bahkan luka tembakan yang belum kering itu kembali terbuka lagi yang membuat luka tersebut mengeluarkan darah segar kembali, Kenza tak perduli sama sekali karena yang ada di pikirannya saat ini adalah bisa bebas dari borgol-borgol menyebalkan itu dan segara keluar dari penjara khusus tersebut kalau bisa keluar dari lapas itu kemudian membunuh orang-orang yang menurut dirinya tidak pantas untuk hidup di dunia ini karena hidup mereka hanya menjadi penghalang untuk dirinya bersatu dengan Adam itu.

__ADS_1


Tapi sayangnya mau ia mengeluarkan tenaga sedalam apapun usahanya itu tak membuahkan hasil sama sekali.


"Arkhhhh sialan!" teriak Kenza menggema di penjara khusus tersebut.


Dan teriakannya itu terdengar sampai keluar dari penjara yang ia tempati itu.


"Apakah orang yang baru saja teriak itu yang akan melakukan pemeriksaan, Pak?" tanya seorang perempuan cantik yang tengah berjalan disamping pimpinan kepolisian.


"Benar nona. Dan sebentar lagi kita akan sampai di penjaranya," ujar pimpinan polisi tersebut yang diangguki oleh perempuan cantik itu.


Sesuai dengan yang di diskusikan oleh Adam dan Juwita tadi pagi serta disetujui oleh pihak kepolisian, akhirnya pihak kepolisian malam ini mendatangkan salah satu psikiater untuk memeriksa kesehatan mental Kenza itu.


Kenza yang tadinya masih meraung-raung didalam penjaranya itu, ia langsung terdiam kala pintu penjara khusus tersebut terbuka yang langsung menampilkan satu psikiater dan tiga polisi disana yang langsung di sambut tatapan tajam penuh dengan permusuhan oleh Kenza.


Dan tatapan tajam dari Kenza itu dibalas dengan senyuman oleh psikiater tersebut sebelum dirinya kini masuk kedalam penjara tersebut sendirian. Dimana saat dirinya benar-benar masuk kedalam, pintu penjara tersebut di tutup kembali.


Sedangkan ketiga polisi tadi, mereka tetap mengawasi kegiatan yang akan terjadi didalam penjara itu lewat CCTV karena jika mereka ikut masuk kedalam penjara, yang ada justru Kenza akan semakin ngamuk dan berakhir pemeriksaan itu berjalan dengan tidak lancar.

__ADS_1


Psikiater tadi terus melangkahkan kakinya mendekati Kenza yang terus menatapnya seakan-akan psikiater itu adalah makanannya. Namun psikiater itu tak peduli sama sekali, ia sekarang justru duduk tepat di depan Kenza dan hanya memberikan jarak satu meter saja diantara mereka. Dan dengan mengambil nafas panjang, psikiater itu memulai pekerjaannya.


__ADS_2