
Setelah kesepakatan yang terjalin antara pihak kepolisian dan ibu dari Kenza tepat hari ini juga Kenza di pindahkan ke rumah sakit jiwa.
Kenza yang masih berusaha untuk melepaskan dirinya sendiri dari borgol-borgol itu sampai pergelangan tangannya juga pergelangan kakinya terluka pun aksinya terhenti kala melihat ada dua pihak kepolisian dan satu perempuan yang tadi malam masuk kedalam penjaranya itu, dimana perempuan itu adalah psikiater masuk kedalam penjara yang ia tempati itu.
"Apa kamu kesini untuk membebaskanku?" tanya Kenza yang ia tujukan untuk psikiater tersebut yang dijawab anggukkan kepala dan senyum manis oleh psikiater itu.
"Benar Nona. Anda setelah ini sudah tidak akan tinggal lagi di penjara ini," ujar psikiater tersebut yang membuat Kenza kini tersenyum.
"Bagus lah kalau begitu berarti setelah ini aku akan langsung melancarkan rencanaku untuk membunuh orang-orang yang menghalangi jalanku untuk bersama dengan Adam." Psikiater tersebut menghela nafas saat dirinya mendengar ucapan dari Kenza itu.
Dan daripada ia menimpali orang yang tidak waras itu, ia memilih untuk memberikan kode kepada dua polisi tadi untuk membawa Kenza keluar dari penjara.
Dan perintah dari psikiater tersebut langsung di jalankan oleh dua polisi itu, hingga mereka berdua kini bergerak untuk melepaskan borgol di kaki Kenza dan tangan perempuan tersebut. Namun saat Kenza ingin berdiri dan segera kabur, kedua polisi itu lebih dulu mencekal lengannya hingga membuat Kenza tak bisa bergerak lagi.
"Lepas sialan. Aku sudah bebas dari penjara menjijikkan ini jadi kalian tidak berhak untuk mencekalku lagi." Kenza kembali memberontak agar cekalan dari dua polisi itu lepas dari lengannya.
"Nona, nona tenang dulu. Apa yang mereka lakukan saat ini itu hanya untuk menjagamu saja bukan untuk mencekalmu kembali. Dan bukannya kaki nona ini tengah sakit, jadi lebih baik Nona jalan dengan di papah oleh dua polisi ini," ucap psikiater tersebut yang membuat Kenza kini menundukkan kepalanya dan benar saja, kakinya kini tengah mengeluarkan darah padahal ia tak merasakan sakit sebelumnya. Tapi setelah melihat luka itu, ia baru merasakan rasa sakit dan hal tersebut membuatnya kini menggeram kesakitan.
"Tuhhh kan, kaki nona sakit. Jadi biarkan dua polisi ini membantu jalan nona untuk keluar dari penjara ini karena aku tidak bisa untuk melakukannya," kata psikiater tersebut.
"Arkhhhh, baiklah-baiklah, aku setuju dengan ucapanmu itu yang terpenting aku keluar dari tempat menjijikkan ini," ujar Kenza yang diangguki oleh psikiater itu sebelum dirinya berjalan terlebih dahulu keluar dari penjara tersebut disusul oleh dua polisi yang tengah memapah Kenza.
__ADS_1
Sesampainya mereka di ruang utama kantor polisi itu, semua orang kecuali Adam, mata mereka langsung tertuju kearah empat orang yang baru saja mendekat itu, terlebih Juwita yang semakin deras saja mengeluarkan air matanya.
Sedangkan Kenza, tatapan mata perempuan itu bukannya mengarah ke ibunya, justru tatapan mata itu tertuju kearah Adam yang tengah mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Adam," ucap Kenza yang justru membuat Adam mengepalkan tangannya. Ia benar-benar benci namanya dipanggil dari bibir mantan kekasihnya itu.
Dan daripada dirinya yang menghabisi Kenza, ia kini berucap tepat disamping Juwita.
"Tante, Adam tidak bisa menemani Tante untuk bertemu dengan Kenza. Adam tidak mau dia melukai Adam lagi seperti dulu. Jadi untuk kebaikan Adam, Adam tunggu Tante di mobil," bisik Adam yang diangguki oleh Juwita yang terus menatap kearah Kenza.
Adam yang sudah mendapatkan persetujuan dari wanita paruh baya itu pun ia dengan segera pergi dari dalam kantor polisi tersebut. Dan kepergiannya itu tak luput dari pandangan Kenza.
"Adam! Kamu mau kemana?! Aku sekarang sudah bebas Adam! Jadi tunggu aku, aku mau ikut denganmu!" teriak Kenza dan saat dirinya ingin mengikuti Adam, langkahnya terhenti kala lengannya justru semakin kuat dicekal oleh dua polisi tersebut.
"Kenza," panggil Juwita kala dirinya sudah berdiri didepan Kenza.
Dimana Kenza langsung menatapnya.
"Mama," beo Kenza.
"Mama, bilangin ke mereka berdua Ma untuk melepaskan Kenza," pinta Kenza.
__ADS_1
"Iya sayang iya. Mama akan bilangin mereka untuk melaksanakan kamu. Tapi setelah kamu sampai di rumah baru kamu ya." Kenza mengerutkan keningnya.
"Rumah baru?"
"Ya, kamu akan tinggal di rumah baru kamu untuk sementara waktu sampai kondisi di luar sana baik-baik saja. Karena ada beberapa orang yang sedang mengincar kamu sekarang ini sayang, jadi kamu terpaksa Mama jauhkan dari orang-orang itu. Dan kalau semuanya sudah baik-baik saja Mama akan menjemput kamu di rumah barumu itu. Ini semua juga demi masa depanmu sayang. Takutnya kalau Mama membiarkan kamu bebas di luar sana, orang-orang itu akan menyakitimu. Jadi tidak apa-apa kan sayang kalau kamu Mama bawa ke rumah baru kamu ini? Disana kamu tidak akan sendirian kok, tapi akan ada banyak teman-teman kamu nanti dan Nona cantik ini yang akan menemani kamu juga. Ya, kamu mau ya," ucap Juwita dengan berbohong tentunya.
"Benarkah ada orang yang berusaha untuk menyakitiku?" tanya Kenza untuk memastikan.
"Ya dan orang-orang itu benar-benar orang berbahaya, tidak ada yang bisa mengalahkan dia di dunia ini."
"Benarkah?" Juwita menganggukkan kepalanya.
"Tapi kalau aku diasingkan di rumah baru itu, aku tidak akan bisa melihat Adam dong?"
"Untuk sementara waktu saja sayang. Nanti kalau semuanya sudah baik-baik saja kamu akan bertemu Adam kembali. Karena jika kamu memaksa Adam untuk melindungi kamu, justru Adam yang akan terluka. Apa kamu mau melihat Adam terluka nanti?" Dengan cepat Kenza menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak mau melihat Adam di lukai oleh orang lain selain diriku." Juwita yang mendengar ucapan dari Kenza itu ia tampak memejamkan matanya sesaat. Sebelum dirinya berusaha untuk memperlihatkan senyumannya.
"Nah kalau tidak mau. Kamu harus nurut ucapan Mama ini dan kalau kamu sudah berada di rumah baru nanti, kamu harus nurut sama Nona cantik ini ya biar orang-orang yang mengincarmu itu pergi dan kamu segera bebas kembali. Kamu mengerti sayang?" Kenza tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya aku mengerti Ma. Aku akan menuruti ucapan Nona cantik ini supaya aku cepat bebas dan bertemu dengan Adam kembali." Juwita yang sudah tidak bisa menahan air matanya pun dengan cepat ia memeluk tubuh Kenza agar anaknya itu tak melihat dirinya menangis.
__ADS_1
"Kamu baik-baik ya di rumah baru kamu. Dan selalu ingat pesan Mama tadi," ujar Juwita dengan berusaha untuk mengeluarkan suara seperti biasanya dengan tangan yang kini mengusap air matanya.
"Iya Ma," balas Kenza. Dan setelahnya Juwita melepaskan pelukannya itu, dimana lepasnya pelukannya itu membuat dua polisi tersebut menggiring Kenza menuju ke mobil rumah sakit jiwa itu dan kepergian mereka diiringi dengan lambaian tangan Juwita.