
Disisi lain Kenza yang sudah sampai di rumah sakit jiwa itu dengan dua polisi yang masih mencekal kedua tangannya itu pun ia mengerutkan keningnya saat ia melihat banyaknya orang di rumah barunya itu dengan keadaan yang begitu aneh.
"Apakah semua orang ini adalah orang yang akan menemaniku dirumah ini?" tanya Kenza kepada psikiater cantik yang berjalan di depannya itu. Dan ucapan dari Kenza itu membuat psikiater tadi menolehkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya.
"Ya, mereka akan menjadi temanmu ketika kamu disini," jawab psikiater itu sembari menatap kembali kearah depan.
"Kamu yakin?" Psikiater itu menganggukkan kepala tanpa menatap kearah Kenza.
"Tapi aku tidak mau berteman dengan mereka. Mereka tampak aneh semua. Mereka bertingkah seperti orang gila. Ada yang bermain boneka, ngomong sama pohon, dan apa itu, orang itu terlihat tengah menangis tapi setelahnya dia tersenyum. Kenapa rumah ini sangat menyeramkan untuk ditempati orang normal seperti kita ini? Dan aku yakin mereka semua disini tidak ada yang waras," ucap Kenza yang sudah mulai curiga dengan tempat barunya itu.
"Mereka waras Nona Kenza hanya saja mereka tengah menghibur diri mereka sendiri-sendiri." Kenza menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Orang menghibur diri itu bukan dengan cara seperti yang mereka saat ini lakukan. Dan katakan sebenarnya aku ini dimana? Aku tidak melihat jika bangunan ini seperti rumah pada umumnya tapi terlihat seperti rumah sakit yang memiliki banyak kamar."
"Ini rumah Nona. Rumah yang memang memiliki banyak kamar. Seperti apartemen, tapi bedanya kalau gedung apartemen itu menjulang tinggi bangunannya, tapi kalau bangunan ini memang hanya di desain dengan satu lantai saja. Biar unik begitu," ucap psikiater tersebut yang untungnya memiliki banyak cara untuk membohongi Kenza.
"Dan kamu tau Nona, mereka semua yang ada disini itu memiliki nasib yang sama dengan Nona. Nyawa mereka sekarang tengah terancam, makanya mereka di bawa kesini oleh keluarga mereka agar mereka tetap aman. Dan Nona tenang saja, kalau Nona tidak mau berteman dengan mereka, saya jamin mereka tidak akan menggangu Nona," sambung psikiater tersebut.
"Kamu yakin mereka tidak akan masuk kedalam ruanganku nanti?" tanya Kenza yang benar-benar takut dengan orang-orang yang tengah berada disekitarnya saat ini. Bahkan sedari tadi matanya itu tak bisa berhenti menatap orang-orang aneh itu.
__ADS_1
"Tentu saja. Saya bahkan akan menjaminnya, lagian saya juga sudah menyiapkan dua polisi yang akan standby didepan ruangan Nona untuk menjaga Nona dari gangguan mereka semua," jawab psikiater tersebut yang membuat Kenza kini menolehkan kepalanya kearah dua polisi di sampingnya itu.
"Apakah yang Nona cantik itu katakan benar? Kalian berdua akan menjagaku?" Kedua polisi itu tampak saling pandang satu sama lain sebelum keduanya kini menganggukkan kepalanya.
"Benar Nona. Kita akan menjaga Nona disini." Ucapan dari salah satu polisi itu membuat Kenza kini bisa menghela nafas lega. Setidaknya ia akan merasa aman dan terjauh dari orang-orang aneh itu.
"Nah dan ini adalah ruangan Nona," ucap psikiater tersebut yang sudah membuka pintu kamar yang akan menjadi kamar Kenza nantinya.
"Untuk melihatnya lebih jelas, kita masuk saja," sambung psikiater tersebut sebelum dirinya masuk kedalam ruangan Kenza diikuti oleh orang-orang di belakangnya.
Kenza mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan tersebut, ruangan itu tampak kecil memang dari apartemen yang ia miliki tapi isi dari ruangan itu sangat-sangat memanjakan matanya. Ia kira didalam ruangannya tadi hanya akan ada ranjang reot dan kursi kayu sudah itu saja seperti kamar yang tadi sempat ia lihat. Tapi ternyata ruangan yang akan ia tempati ini berbeda dengan ruangan lain yang sempat ia lihat itu. Dimana didalam ruangannya tersebut terdapat televisi, sofa, ranjang dengan ukuran queen size, karpet bulu dan masih banyak lagi yang membuat dirinya merasa jika ia tengah berada di apartemen baru. Benar-benar sangat nyaman untuk ia tinggali.
"Bagaimana? Apa Nona suka dengan ruangannya?" tanya psikiater tersebut.
"Syukurlah kalau Nona menyukai ruangan ini. Dan saya harap Nona akan betah disini sampai waktunya Nona keluar nanti. Dan untuk masalah makan, Nona tidak perlu khawatir, kita sudah menyiapkan juru masak yang paling handal di negara ini." Kenza menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, saya permisi ke ruangan saya dulu. Tapi Nona harus ingat ya, Nona tidak boleh keluar dari gedung ini. Kalau Nona butuh sesuatu yang mengharuskan Nona keluar, panggil saya. Saya akan membantu Nona nantinya," ujar psikiater tersebut.
"Baiklah. Aku akan memanggilmu nanti jika aku membutuhkan sesuatu," kata Kenza yang diangguki oleh psikiater tersebut. Sebelum psikiater itu keluar dari dalam ruangan Kenza.
__ADS_1
"Kalau begitu kita berdua akan menunggu didepan ruangan anda ini, Nona. Permisi," ucap salah satu polisi tersebut yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Kenza.
Dan setelah kedua polisi itu pergi, Kenza berjalan mendekati ranjangnya kemudian ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuk itu.
"Huh akhirnya aku bebas dari penjara sialan itu. Dan kehidupan mewahku kembali lagi," gumam Kenza dengan senyuman dibibirnya.
Saat dirinya tengah menikmati fasilitas yang berada didalam ruangannya, disisi lain psikiater yang akan menangani Kenza telah sampai didalam ruangannya sendiri. Dan sesampainya dirinya di ruangannya itu, membuat dia langsung menghubungi seseorang.
"Halo tuan Adam. Saya psikiater yang menangani Nona Kenza," ucap psikiater tersebut kala sambungan teleponnya itu telah terhubung.
Ya, ia kini tengah menghubungi Adam yang ikut terlibat dalam masuknya Kenza kedalam rumah sakit jiwa itu.
📞 : "Oh ya. Kenapa? Apa dia menyakitimu? Atau dia berhasil kabur?" tanya Adam dari seberang telepon tersebut.
"Tidak tuan. Saya hanya ingin melaporkan jika nona Kenza suka dengan ruangan yang telah tuan siapkan. Nona Kenza tadi sempat curiga dengan tempat yang akan dia tinggali ini, tapi syukur saya bisa berbohong kepadanya," ujar psikiater tersebut.
📞: "Syukurlah kalau memang seperti itu. Saya mohon tegap awasi dia karena saya takut dia akan melukai orang-orang disana," ucap Adam.
"Tentu tuan. Ya sudah berhubungan saya hanya ingin menyampaikan berita itu saja, saya tutup dulu teleponnya. Maaf telah mengganggu waktu tuan. Selamat siang," ujar psikiater tersebut.
__ADS_1
📞 : "Ahhhh tidak apa-apa, santai saja. Dan terimakasih karena kamu tadi bisa meyakinkan dia hmmmm lebih tepatnya berbohong untuk kebaikan dia tadi. Selamat siang," kata Adam sebelum sambungan telepon tersebut terputus.
Dan ya, semua fasilitas yang tengah di nikmati oleh Kenza di rumah sakit jiwa itu adalah pemberian dari Adam. Adam yang menyiapkan semuanya tentunya itu semua bukan kehendaknya sendiri melainkan pemintaan dari Juwita, ibu Kenza yang hanya bisa ia turuti saja daripada ia melihat wanita paruh baya itu akan memohon-mohon kepadanya nanti yang justru akan membuat ia merasa risih sendiri nantinya.