
Sesampainya mereka berdua di rumah sakit milik Adam, tujuan mereka langsung ke ruang inap Heila. Dimana di dalam ruangan itu sudah ada Tristan, tapi untungnya untuk kali ini Adam lebih dulu mengetuk pintu kamar inap itu jadi mereka tidak akan di suguhi adegan romantis yang terjadi diantara dua anak manusia di dalam ruangan tersebut.
Heila tersenyum kala Yola dan Adam lah yang datang. Sedangkan Yola, ia sangat-sangat terkejut melihat luka yang masih terlihat jelas di beberapa bagian wajah dan tubuh Heila itu.
"Ya Tuhan, aku gak bisa bayangin saat kamu di aniaya oleh perempuan gila itu," ujar Yola yang hanya dibalas senyuman oleh Heila.
"Gak usah di bayangin kali. Untuk apa bayangin hal-hal mengerikan seperti itu," timpal Tristan yang diangguki setuju oleh Yola.
"Iya juga sih. Tapi aku benar-benar tidak menyangka kenapa dia bisa sejahat ini sama kamu, Heila. Padahal kamu itu tangan kanannya yang sepertinya sudah sangat akrab." Heila tampak menghela nafas.
"Jangan heran Yola. Orang yang dia sayangi saja bisa dia lukai apalagi aku yang hanya tangan kanannya saja. Dia orangnya memang tempramental banget. Dan sebenarnya ini bukan kali pertama aku mendapat amukan dari dia, tapi yang kali ini benar-benar sangat parah," jawab Heila.
"Benarkah?"
"Ya betul itu. Bahkan setelah dia menganiaya Heila, paginya dia mencoba untuk menghabisi ayahnya sendiri," timpal Tristan.
"Astaga, kenapa bisa seperti itu?"
"Ya karena mental dia sudah tidak beres lagi sayang. Bahkan hari ini aku dan ibu dia harus pergi ke kantor polisi untuk membicarakan tentang hasil pemeriksaan mental dia. Kamu tidak apa-apa kan kalau kamu disini dulu selagi aku ke kantor polisi nanti? Aku takut kalau kamu ikut dan dia lihat kamu, dia akan memberontak dan berakhir akan melukai kamu," ujar Adam dengan mengelus kepala Yola dengan sayang. Dan ucapan dari Adam tadi membuat Heila dan Tristan saling pandang satu sama lain dengan pertanyaan yang memutar di otak mereka masing-masing mengenai hubungan keduanya sampai Adam sudah sangat berani memanggil Yola dengan sebutan sayang didepan mereka berdua.
Sedangkan Yola, ia kini menatap Adam kemudian ia menganggukkan kepalanya, setuju saja dengan apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu.
"Aku juga tidak mau bertemu dengan dia," balas Yola.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu tunggu disini. Aku pergi sekarang juga, oke." Lagi-lagi Yola menganggukkan kepalanya sebelum Adam memberikan kecupan di keningnya yang membuat asumsi Heila dan Tristan mengenai hubungan keduanya semakin bisa di percaya.
__ADS_1
"Tristan, aku titip Yola sama Heila. Jaga mereka selagi aku pergi," ujar Adam.
"Siap. Tenang saja mereka berdua bakal aman kalau sama aku," jawab Tristan.
"Oke, aku percayakan mereka kepadamu. Aku pergi dulu," pamit Adam sembari mengacak rambut Yola sebelum dirinya pergi dari hadapan ketiga orang tersebut.
"Hati-hati sayang!" teriak Yola sebelum Adam benar-benar keluar dari kamar tersebut. Dan ucapan dari Yola tadi membuat Adam menolehkan kepalanya dengan anggukkan kepalanya. Lalu setelahnya ia keluar dari kamar inap tersebut meninggalkan ketiga orang yang menatap kepergiannya.
Dan setelah Adam benar-benar sudah tak terlihat lagi, Heila dan Tristan dengan kompak menatap kearah Yola.
"Kita butuh klarifikasi darimu," ujar Tristan yang membuat Yola mengerutkan keningnya.
"Klarifikasi tentang apa?" tanya Yola tak paham.
Yola kini menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, ia masih malu-malu kucing jika harus menceritakan tentang hubungannya dengan Adam kepada orang lain.
Dan saat Yola ingin berucap, bibirnya kembali terkatup kala Tristan kembali bersuara.
"Kita tidak menerima penolakan. Ceritakan sekarang juga," ujar Tristan yang membuat Yola menghela nafas panjang sebelum dirinya menganggukkan kepalanya pasrah dan ia mulai menceritakan hubungannya dengan Adam.
Sedangkan disisi lain, Adam telah sampai di depan kamar inap ayah Kenza. Dimana di sana sudah ada Juwita yang menunggu kedatangannya.
"Tante," ucap Adam sembari menyalami tangan Juwita yang dibalas anggukan oleh wanita patuh baya tersebut.
"Kita berangkat sekarang saja ya Dam, sebelum Om Harun bangun," ujar Juwita.
__ADS_1
"Baik Tan," balas Adam dengan mempersilahkan Juwita untuk jalan terlebih dahulu darinya.
Mereka akan berangkat dalam satu mobil yang sama yaitu memakai mobil Adam. Tak ada percakapan yang terjadi di sela perjalanan mereka berdua hingga sampai di kantor polisi.
Dan dengan berjalan beriringan, kedua orang itu kini masuk kedalam kantor polisi dimana tujuan mereka langsung ke meja pimpinan kepolisian tersebut.
"Selamat siang, tuan Adam dan nyonya," sapa pimpinan kepolisian tersebut sembari menyalami keduanya.
"Silahkan duduk," katanya kembali yang diangguki oleh Adam maupun Juwita.
"Jadi bagaimana dengan hasil pemeriksaannya pak?" tanya Juwita dengan harap-harap cemas. Ia berharap apa yang berada di pikirannya itu tidak menjadi kenyataan, jika sang anak tengah mengalami gangguan mental.
Pimpinan polisi tersebut menghela nafas kemudian ia mengambil beberapa lembar kertas hasil dari pemeriksaan Kenza tadi malam, lalu ia sodorkan kearah dua orang yang duduk dihadapannya saat ini.
"Itu adalah hasil dari pemeriksaan tadi malam. Dimana hasil itu menyatakan jika kecurigaan kita mengenai mental Kenza yang terganggu itu memang benar adanya. Dia tidak bisa mengontrol emosinya dan kata psikiater yang memeriksa dia tadi malam, dia akan merasa puas jika orang yang membuat dia emosi mati di tangannya. Dan karena hal itu psikiater tadi malam menyarankan jika Kenza lebih baik di bawa ke rumah sakit jiwa agar memudahkan para psikiater memantau perkembangan Kenza," jelas pimpinan kepolisian tersebut dimana perkataannya itu membuat Juwita shock berat, ia tak menyangka jika ketakutannya itu menjadi kenyataan sekarang.
"Ya Tuhan, Kenza hiks," tangis Juwita pecah, beberapa hari ini masalah silih-berganti menerpa dirinya yang membuat dirinya terpuruk, mulai dari berita suaminya yang hampir mati di tangan anak kandungnya sendiri, berita tentang anak pertamanya yang harus masuk bui karena terlibat protitusi dan memakai obat-obatan terlarang dan kali ini ia harus mendengar berita tentang Kenza yang mengalami gangguan mental. Sumpah demi apapun, Juwita ingin menjerit sekencang-kencangnya melihat keluarganya yang sudah hancur seperti ini.
Adam yang berada di samping Juwita pun ia mengelus punggung wanita paruh baya itu mencoba untuk menenangkan wanita tersebut, sebelum dirinya kini angkat suara.
"Bagaimana? Apa Tante bersedia memasukkan Kenza kedalam rumah sakit jiwa?" tanya Adam hati-hati takut pertanyaannya itu melukai hati Juwita.
Juwita yang tadinya menelungkupkan wajahnya dibalik kedua tangannya, kini ia menyingkirkan keduanya tangannya itu dengan helaan nafasnya, mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Lakukan apapun yang sekiranya itu terbaik untuk Kenza," ujar Juwita yang diangguki oleh Adam dan pimpinan kepolisian tersebut.
__ADS_1