
"Geser sini sedikit," pinta Amel yang langsung di lakukan oleh Yola.
Yola menggeser tubuhnya sampai benar-benar tidak menyisihkan jarak sedikitpun antara dirinya dan Amel.
Dimana terkikisnya jarak itu, membuat Amel langsung membisikkan siapa laki-laki yang selama ini ia incar secara diam-diam itu.
"Laki-laki yang aku incar itu adalah Kak Caka," bisik Amel yang membuat Yola melebarkan matanya.
"What!" teriak Yola yang membuat semua orang yang ada di kantin itu menatap dirinya. Sedangkan Amel, ia langsung mengusap wajahnya sebelum dirinya menarik lengan Yola yang tadi sempat berdiri saat berteriak, sampai kini Yola kembali duduk di sebelahnya lagi.
Dimana kembalinya Yola pada posisinya itu membuat Amel langsung mengalihkan pandangannya kearah sekitarnya dengan senyumannya sembari berkata.
"Maaf telah mengganggu kalian. Teman saya tadi hanya terkejut saja. Maaf ya dan silahkan menikmati makanan kalian kembali," ucap Amel meminta maaf kepada semua orang yang ada disana.
Dan setelah ia memastikan jika semua orang sudah kembali dengan kesibukannya masing-masing, ia menatap kearah Yola kembali.
"Kamu ini apa-apaan sih, La. Jangan pakai teriak-teriak segala lah. Malu kan dilihatin banyak orang tadi," ucap Amel yang dibalas dengan cengiran tak berdosanya itu oleh sahabatnya tersebut.
"Maaf-maaf kelepasan dan itu juga karena aku saking kagetnya. Tapi tunggu dulu, aku memang tidak salah dengar kan tadi?" tanya Yola untuk memastikan dan pertanyaannya tersebut dibalas dengan gelengan kepala oleh Amel.
"Astaga ternyata beneran." Amel memejamkan matanya saat nada suara Yola kembali meninggi.
"Sttttt jangan keras-keras bicaranya Yola. Ishhhh," kesal Amel.
"Iya-iya maaf kelepasan soalnya." Amel memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong kamu sudah mulai suka sama Kak Caka sejak kapan?" tanya Yola yang sudah mulai kepo itu.
"Sejak dua bulan yang lalu, saat Kak Caka pertama kali ngajar dan jadi dosen disini. Dan entah kenapa aku langsung jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama," jawab Amel.
"Wahhhhh sama dong. Aku dulu juga jatuh cinta pada pada pandangan pertama sama Kak Adam." Amel menganggukkan kepalanya.
"Ya kita sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi kita berbeda La. Kalau kamu langsung bisa mengungkapkan jika kamu menyukai dokter Adam saat itu juga tapi aku tidak bisa. Entah kenapa aku tidak memiliki keberanian seperti saat aku mengincar laki-laki lain sebelum aku bertemu dengan Kak Caka. Apalagi setelah aku tau jika dia itu sangat galak, mentalku langsung menciut saat itu juga. Jadi aku hanya berani mencintai dia secara diam-diam. Dan aku juga takut dia sudah memiliki tambatan hati karena semua akun media sosialnya tidak ada foto dirinya atau orang lain hanya ada foto pemandangan sama dengan media sosial punya dokter Adam dulu," ujar Amel.
"Kalau masalah dia sudah punya pasangan aku jamin dia belum memilikinya karena dia tipe-tipe orang yang sangat sulit jatuh cinta. Dia saja tidak punya mantan soalnya," ujar Yola yang membuat Amel berbinar.
"Benarkah?" Tanya Amel memastikan.
Dimana pertanyannya itu diangguki oleh Yola.
"Tentu saja. Bahkan kesempatanmu sangat besar untuk mendapatkan hati Kak Caka. Asalkan kamu mulai berani untuk mendekati dia. Dan seperti yang aku katakan tadi tidak akan ada hasil yang mengkhianati usaha. Percaya deh sama aku. Tapi ada kecualinya sih kalau yang masalah percintaan ini, kalau Kak Caka sudah menyukai orang lain. Karena sainganmu bukan lagi orang yang juga tengah mengincar Kak Caka melainkan orang yang dia cintai." Ucapan dari Yola tadi membuat Amel yang tadinya semangat kini loyo kembali.
"Tapi kan ada Allah yang bisa membolak-balik hati seseorang. Jadi tetap yakin saja kamu bisa mendapatkan hati Kak Caka selagi belum ada status yang pasti jika memang benar Kak Caka tengah suka dengan orang lain lho ya. Karena lagi-lagi ingat prinsip kita tidak boleh merusak hubungan orang lain dan tidak boleh menjadi pelakor," sambung Yola.
"Begitu ya?" Yola menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Kalau begitu apa kamu dulu juga merasa takut jika dokter Adam waktu itu dihatinya ada seorang perempuan lain?"
"Tentu saja. Aku dulu sangat khawatir akan hal itu. Kamu juga tau sendiri kan Kak Adam itu banyak banget yang suka dan aku kira Kak Adam dulu suka dengan suster yang kamu, Keni dan kedua orangtuaku curigai itu. Tapi ternyata Kak Adam tidak menyukainya. Namun dia waktu itu masih belum bisa move on dari perempuan yang waktu itu melabrakku yang aku baru ketahui karena aku pernah melihat dia masih menyimpan foto perempuan itu dan souvenir yang akan dijadikan souvernir pernikahan mereka jika tidak gagal 7 tahun yang lalu. Dan hal itu sudah menandakan jika didalam hati Kak Adam masih ada perempuan itu. Tapi yang namanya kuasa Allah dan memang sudah ditakdirkan aku dan Kak Adam insyaallah berjodoh, dengan cepat semuanya berubah, Kak Adam justru sekarang sangat sayang sama aku, bucin banget malahan dan melupakan mantan kekasihnya itu bahkan dia berani memenjarakan mantan kekasihnya itu hanya untuk melindungiku. Jadi dari pengalamanku ini kamu bisa menyimpulkan kalau kamu memang berjodoh dengan Kak Caka pasti semuanya akan di mudahkan oleh Allah. Kita hanya tinggal berusaha saja untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika hasilnya memang tidak sesuai dengan apa yang kita mau, kita juga harus menerimanya dengan legowo dan jangan marah kepada siapapun karena perlu kamu tau jika cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kamu mengerti kan, Mel?" jelas Yola panjang lebar.
Dimana ucapannya itu diangguki oleh Amel dengan senyuman di bibirnya perempuan tersebut. Sebelum ia merentangkan kedua tangannya kearah Yola.
__ADS_1
"Mau peluk," ucap Amel yang membuat Yola justru terkekeh mendengarnya. Lalu dengan cepat ia masuk kedalam pelukan sahabatnya itu.
"Terimakasih atas cerita tentang pengalamanmu dan perjuanganmu itu yang membuatku semangat untuk mendapatkan apa yang aku mau itu. Dan aku juga mendapatkan banyak pelajaran dari ceritamu tadi. Terimakasih ya Yola. Terimakasih banyak," ucap Amel yang diangguki oleh Yola.
"Sama-sama. Dan tetap semangat ya. Aku doakan semoga kamu bisa meluluhkan hati Kak Caka," ujar Yola.
"Aamiin," balas Amel.
Dan tanpa Yola juga Amel ketahui, jika tak jauh dari mereka ada seseorang yang sedari tadi tengah menguping pembicaraan mereka berdua dengan senyum bangga yang ia tujukan kepada Yola sebelum orang itu kini berjalan mendekati kedua perempuan itu yang masih saling berpelukan tersebut.
Dan saat dirinya sudah berada disamping mereka berdua, ia berdehem hingga membuat pelukan kedua perempuan tersebut terlepas lalu tatapan mata Yola maupun Amel langsung tertuju kearah sumber suara tadi.
Dimana Yola langsung berdiri dari duduknya.
"Lho kok kamu ada disini?" tanya Yola.
"Memangnya aku tidak boleh datang kesini jemput calon istri yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar itu," ucap orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Adam.
"Dan 15 menit lagi kita harus sampai di butik Vivian. Jadi tolong pending dulu mengobrolnya, disambung besok lagi karena kita harus pergi sekarang juga," ucap Adam yang membuat Yola kini melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu hingga membuat matanya melotot sempurna. Bisa-bisanya ia menghabiskan waktunya itu hanya untuk mengobrol dengan sahabatnya itu sampai ia melupakan jadwal fitting baju pernikahannya.
"Ya ampun aku lupa. Amel, aku pergi duluan ya. Kamu gak papa kan sendirian disini?" tanya Yola.
"Ahhhh tidak apa-apa. Kalau kamu mau pergi, pergi saja," ucap Amel.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Bye sampai ketemu besok," ujar Yola sembari memberikan pelukan sekilas kepada sahabatnya itu. Dimana pelukannya itu dibalas oleh Amel. Lalu setelah pelukan itu terlepas, Yola segara mendekati Adam. Dan dengan menggandeng tangan calon suaminya itu, mereka berdua mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kantin tersebut dengan Yola yang masih menyempatkan dirinya untuk melambaikan tangannya kepada Amel yang otomatis dibalas oleh sahabatnya tersebut.
__ADS_1