Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 58


__ADS_3

Mobil Adam telah sampai di gedung apartemennya yang sekarang di gedung itu juga Yola memiliki sebuah apartemen. Dan karena Adam tak ingin melihat Yola pingsan saat berjalan nanti, ia berinisiatif untuk menggendong Yola ala bridal style yang membuat Yola sempat terkejut.


"Stttt diam. Jangan protes," ucap Adam kala bibir Yola ingin melontarkan kata-katanya.


"Dan lebih baik kamu sekarang lingkarkan tangan kamu itu ke leherku. Karena aku tidak akan tanggungjawab jika tubuhmu ini nanti jatuh dari gendonganku," sambung Adam. Dan tanpa melakukan bantahan terlebih dahulu, Yola kini melingkar kedua tangannya di leher Adam saat laki-laki itu mulai berjalan.


"Masih pusing?" tanya Adam saat mereka sudah masuk kedalam lift.


"Sedikit," jawab Yola yang sebenarnya ia sangat sebal atas kelakuan Adam yang ugal-ugalan membawa mobil tadi.


"Maaf," celetuk Adam yang membuat mata Yola yang tadi terpejam karena malas menatap wajah Adam kini terbuka.


Adam menatap manik mata Yola tersebut dan dengan sangat kesusahan ia mengecup kening Yola.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini," ujar Adam yang membuat Yola sempat tertegun sebelum perempuan itu mengerjabkan matanya lalu ia mencebikkan bibirnya.


"Syukurlah kalau kamu merasa bersalah. Lagian ngapain juga sih kamu tadi bawa mobil kayak mau ngajak orang mati aja?" ucap Yola yang sepertinya sudah tak bisa memendam kekesalannya itu.


"Aku membawa mobil seperti tadi juga gara-gara kamu," balas Adam tak mau kalah.


"Kok gara-gara aku sih. Memangnya aku ngapain coba? Perasaan aku gak ngapa-ngapain dan gak bikin salah juga," ucap Yola.


"Kamu buat salah Yola."

__ADS_1


"Enak saja. Tidak ya. Aku tidak membuat salah apapun," ujar Yola tak terima disalahkan.


"Kamu yakin tidak membuat salah sama sekali?" Yola dengan mantap menganggukkan kepalanya dan hal tersebut membuat Adam berdecak sebal.


"Aku akan jelasin kesalahan kamu setelah kita sampai di apartemen nanti," ujar Adam sembari berjalan menuju ke arah ruang apartemen bau Yola dengan tangan yang masih mengendong tubuh Yola.


Dan setelah sampai di depan pintu apartemen baru milik Yola, Adam menurunkan tubuh Yola lalu setelahnya tangannya ia gerakkan untuk mengambil kunci yang tadi sempat ia ambil di jok belakang mobilnya dari dalam saku celana jeansnya itu.


Dan setelah pintu itu berhasil ia buka, Adam kembali membopong Yola masuk kedalam apartemen tersebut lalu ia segara mendudukkan tubuh Yola di sofa di ruang tamu apartemen itu.


"Tunggu disini. Jangan kemana-mana," ujar Adam sebelum dirinya berjalan menuju ke arah pintu keluar tadi untuk menutup pintu itu dan ia bergegas menuju ke dapur disana.


Yola yang di perintahkan untuk tetap di tempat duduknya itu pun ia hanya bisa menghela nafas dengan mata yang menatap pergerakan Adam itu. Rasanya ia ingin melanjutkan acara marahnya tadi kepada Adam namun ternyata ia tak bisa. Ia benar-benar tak bisa marah lama-lama dengan laki-laki itu.


Adam kini keluar dari dalam dapur tersebut dengan membawa teh manis hangat di tangannya.


Yola meneguk teh manis itu secara perlahan hingga habis setengah.


"Terus minum teh itu sampai rasa mual kamu berkurang," ucap Adam yang hanya diangguki oleh Yola.


"Jadi apa kamu sekarang bisa menjelaskan kesalahanku?" ujar Yola penasaran. Pasalnya ia tak merasa jika dirinya melakukan kesalahan tadi. Tapi kenapa laki-laki itu justru menuduhnya melakukan kesalahan?


Adam berdecak sesaat kala bayangan tentang keakraban yang terjadi diantara Caka dan Yola tadi muncul di otaknya.

__ADS_1


"Kamu tau, aku menunggu kamu di depan kampus selama 2 jam lamanya," ujar Adam yang membuat Yola terkejut.


"Hah 2 jam? Astaga, bukan kah aku tadi sudah bilang, jemput aku saat aku sudah mengirim kamu pesan," ucap Yola tak habis pikir.


"Aku tidak bisa menunggu pesan kamu itu Yola. Aku tidak tahan jika harus bekerja saat pikiranku terus tertuju ke kamu. Dan kalau aku tadi tidak kesana, aku tidak akan mungkin melihatmu yang tengah bermesraan dengan Caka tadi. Jika aku menunggu pesanmu itu aku tidak mungkin melihat hal yang benar-benar membuat aku marah. Disaat aku menunggu dan mencarimu didalam kampus tadi, kamu justru tengah enak-enakan bermesraan dengan laki-laki lain. Dan karena itu alasanku marah tadi yang berakhir aku melampiaskan kemarahanku itu dengan menyetir mobil seperti tadi," jelas Adam dengan menggebu-gebu.


"Ehhhh jadi kamu marah hanya gara-gara melihatku dengan Kak Caka?"


"Jangan panggil dia dengan sebutan Kakak. Tidak patut seorang mahasiswi memanggil dosennya dengan sebutan itu," ujar Adam.


"Tapi Kak Caka bukan hanya sekedar dosen untuk Yola," jawab Yola yang membuat Adam kini terdiam sesaat sebelum ia kembali bersuara.


"Jangan bilang dia itu. Arkhhhh!" erang Adam dengan menjambak rambutnya sendiri kala pikirannya itu sudah berpikir hal yang negatif. Ia merasa di permainkan oleh Yola saat ini. Jika perempuan itu sudah memiliki kekasih, kenapa dia harus mendekati dirinya? Dan saat dirinya sudah mulai nyaman dengan Yola, perempuan itu justru menghancurkannya dengan begitu mudahnya. Apakah selucu itu para perempuan mempermainkan hatinya? batin Adam.


Dan karena ia sudah tak tahan lagi untuk melampiaskan amarahnya, ia memilih berdiri dari duduknya berniat untuk pergi dari hadapan Yola. Tapi belum sempat kakinya itu bergerak, tangannya dengan cepat di cekal oleh Yola.


"Kak Adam mau kemana?" tanya Yola dengan takut melihat wajah Adam yang memerah itu yang bertanda jika laki-laki itu benar-benar marah kepadanya.


"Bukan urusanmu," ujar Adam dengan menyentak kasar tangan Yola yang memegang tangannya itu hingga terlepas. Kemudian ia segera melanjutkan langkahnya.


"Kak Adam, tunggu. Kakak pasti sedang salah paham sekarang," ucap Yola yang kini berlari dan berakhir berdiri tepat didepan Adam, menghadang jalan laki-laki itu.


"Minggir!" ucap Adam. Demi apapun, Adam sekarang mati-matian menahan amarahnya agar tak meluapkannya di hadapan Yola yang mungkin akan membuat perempuan itu akan takut kepadanya nanti atau bahkan ia takut jika sampai melukai Yola. Makanya ia memilih untuk pergi saja.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak mau minggir. Kakak harus dengerin dulu ucapanku ini. Dan setelah dengar perkataanku ini, Kakak mau marah sama aku, marah saja tidak papa asal marahnya didepanku. Jadi begini, Kak Caka itu memang bukan hanya sekedar dosen bagi Yola tapi Kak Caka itu sepupu Yola, Kak. Dia anak dari Kakak Mama. Dan aku keruangannya tadi itu cuma ngasih oleh-oleh dari Papa yang baru pulang dari Singapura. Dan biar Kakak tambah percaya lagi, aku lihatin foto keluarga dulu. Tunggu sebentar jangan keluar!" ucap Yola sebelum dirinya berlari menuju ke tasnya yang tergeletak diatas sofa tadi. Lalu setelah mendapatkannya, ia kembali berlari ke hadapan Adam dengan tangan yang bergerak untuk mencari foto yang akan ia jadikan barang bukti itu.


"Nih lihat. Ini foto keluarga dari pihak Mamaku yang diambil tahun lalu. Lihat baik-baik, yang ada di tengah ini Kak Caka dan di ujung ini adalah aku. Dan di samping kakek nenek, itu adalah Mamaku dan Mama Kak Caka," ujar Yola dengan mengezoom foto yang terdapat wajah Caka dan dirinya itu serat wajah dua wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Yola juga Caka itu. Agar Adam bisa melihatnya dengan jelas sehingga laki-laki itu tidak salah paham lagi seperti tadi.


__ADS_2