
Kini tugas matahari digantikan oleh rembulan dimana tepat pada pukul 8 malam, Adam dan Erland tak kunjung menyelesaikan pencariannya. Dan kini mereka mencari Yola di taman kota yang tadi siang Yola datangi.
"Bang, kita pulang aja dulu yuk," ajak Erland. Ia sudah benar-benar capek dan lelah jika harus terus mancari Yola. Apalagi kondisi perutnya yang sudah meronta-ronta karena lapar.
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri. Biar Abang cari Yola sendiri," ujar Adam yang masih berkeliling di area taman yang masih terdapat beberapa orang itu.
Erland yang mendengar jawaban tersebut pun ia kini menghela nafasnya. Dan mau tak mau ia harus tetap mengikuti kemanapun Adam melangkah.
"Yola, kamu kemana?" gumam Adam benar-benar frustasi setelah dirinya berkeliling taman tersebut namun tak menemukan Yola.
"Dia paling sudah pulang ke rumah dia bang. Ini kan sudah jam dia untuk istirahat. Jadi Abang jangan khawatir berlebihan seperti ini," timpal Erland.
"Kamu nyuruh Abang jangan khawatir? Bagaimana kalau kita ganti posisi? Yang sekarang hilang entah kemana itu adalah kekasih kamu gimana? Dia tidak bisa di hubungi, jika bisa pasti langsung menolaknya dan dia memblokir semua akun media sosial milik kamu. Gimana perasaan kamu, Erland, hah?" ucap Adam dengan menaikkan nada suaranya dan hal tersebut baru pertama kali Erland lihat Kakak pertamanya itu semarah ini. Dan hal itu membuat Erland kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Arkkhhhhhhh sudahlah. Kalau kamu masih mau bantu Abang buat cari Yola silahkan. Kalau tidak ya pulang saja," ujar Adam yang kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya lagi. Dan tanpa menunggu Erland, ia menjalankan mobilnya tersebut dengan tujuan kembali ke rumah orangtua Yola. Karena ia yakin Yola tak akan kembali ke apartemen baru ataupun lamanya.
Sedangkan Erland yang sudah benar-benar lelah dan lapar pun ia memilih untuk pulang ke rumahnya. Toh ia memiliki anak buahnya yang mewakili dirinya untuk mencari keberadaan Yola. Walaupun sampai sekarang para anak buahnya itu tak kunjung menemukan Yola ada dimana.
Disisi lain, Kenza yang sedari tadi juga mencari keberadaan Yola pun ia kini sudah kembali ke apartemennya dengan amarah yang membuncah.
"Sialan sialan sialan. Kemana perginya perempuan murahan itu?!" teriaknya kala dirinya sudah masuk kedalam apartemen dimana di ruang tamu itu ada Heila yang tengah bermain ponsel lebih tepatnya saling bertukar kabar dengan Yola ataupun Tristan yang memutuskan untuk menyewa kamar di hotel yang sama dengan Yola dengan kamar yang berada di sebelah kamar yang di sewa Yola itu untuk berjaga-jaga jika ada kemungkinan Kenza ataupun anak buahnya menemukan Yola.
Sedangkan Heila, perempuan itu memilih untuk kembali ke apartemennya 3 jam yang lalu, agar Kenza tak menyadari jika dirinya tadi juga sempat mencari Yola.
Dan saat Kenza pulang ke apartemennya pun, ia sempat mengabari dua orang yang ada di hotel Green Angelica jika Kenza sudah kembali namun dia juga mengingatkan mereka untuk terus berhati-hati karena ia yakin anak buah Kenza masih berkeliaran di luar sana.
Dan setelah mengirimkan sebuah pesan ke dua orang tadi, Heila memilih untuk masuk kedalam kamarnya. Namun baru saja ia memegang kenop pintu, suara Kenza menghentikannya.
__ADS_1
"Heila!" teriak Kenza yang membuat Heila menghela nafas sebelum dirinya kini berjalan mendekati Kenza.
"Ya?"
"Buatkan saya makanan sekarang, cepat!" perintah Kenza yang hanya diangguki oleh Heila.
"Ternyata dia bisa lapar juga. Aku kira dia akan tetap kenyang saat dia terus marah-marah seperti ini," batin Heila. Namun tak urung tangannya kini bergerak untuk memasakkan makanan untuk Kenza dan mengabaikan perempuan itu yang terus berteriak seperti orang gila.
Hingga beberapa menit sudah terlewatkan dan kini Heila sudah menyajikan masakannya itu di atas meja makan sebelum dirinya kini berjalan mendekati Kenza yang terus uring-uringan di ruang tamu.
"Makanan sudah siap," ujar Heila yang membuat Kenza menatapnya sebelum dirinya berjalan menuju ke arah meja makan meninggalkan Heila yang hanya bisa menghela nafas dan masuk kedalam kamarnya. Membiarkan nona gilanya itu makan dengan tenang.
...****************...
Waktu cepat berlalu kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi, dimana di jam itu adalah jam keberangkatan Yola.
"Iya Ma, Yola akan jadi anak penurut disana tapi kalau tidak khilaf," jawab Yola diakhiri dengan kekehan di bibirnya dan hal tersebut langsung dihadiahi pukulan di bokongnya oleh sang ibunda.
"Kamu ini!"
"Hehehe bercanda Ma bercanda. Yola akan jadi anak baik di sana. Tenang saja oke," ujar Yola.
"Baiklah Mama akan mencoba percaya sama kamu. Jadi tunggu apa lagi, pergi sana, noh udah di boarding suruh masuk ke pesawat," ucap Mama Erika. Dan hal itu membuat Yola menganggukkan kepalanya.
"Pelukan dulu dong sama Mama, Papa," ucap Yola sembari merentangkan kedua tangannya yang langsung membuat kedua orangtuanya memeluk dirinya.
"Yola sayang Mama sama Papa. Yola pasti akan kangen sama kalian. Love you," ucap Yola dengan memberikan kecupan di kedua pipi kedua orangtuanya itu setelah pelukannya ia lepaskan.
__ADS_1
"Love you too," balas kedua orangtua Yola secara bersama yang membuat Yola kini tersenyum sebelum matanya ia alihkan ke arah Tristan yang juga menyempatkan dirinya untuk mengantar Yola.
"Kak Tristan. Terimakasih ya tadi malam sudah dengar semua keluh kesah Yola dan terimakasih karena sudah membuat Yola jadi tau mana yang salah dan mana yang benar. Yola pamit pergi dulu ya, jaga diri kakak baik-baik dan tolong jaga Kak Adam untuk Yola," ucap Yola dengan kekehannya. Dan hal tersebut membuat Tristan tersenyum sebelum ia menganggukkan kepalanya mensetujui apa yang dikatakan oleh Yola tadi.
"Kamu hati-hati disana. Berangkat dengan selamat maka kembali juga dalam keadaan selamat," ucap Tristan.
"Tentu. Ya sudah Yola berangkat dulu semuanya. Bye Ma, Pa. Bye juga Kak Tristan. Jangan lupa dengan permintaan Yola tadi malam ya, jangan katakan kepergian Yola ini ke siapapun. Bye. Assalamu'alaikum!" ucap Yola sembari melangkahkan kakinya menjauh dari ketiga orang yang mengantar kepergian itu.
"Waalaikumsalam!" balas salam ketiga orang tersebut sembari membalas lambaian tangan Yola itu yang perlahan mulai menjauh dan menghilang dari pandangan mata ketiga orang tersebut.
"Tante, Om. Saya mau pamit pulang dulu," ucap Tristan berpamitan kepada kedua orangtua Yola.
Keduanya pun tersenyum ramah lalu menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih ya Tristan karena kamu sudah peduli dengan Yola dan terimakasih sudah menenangkan Yola tadi malam," ucap Papa Yola.
"Yola sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri om. Jadi jika dia tengah bersedih maka saya juga harus siap menenangkan dia," balas Tristan.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi duluan ya Om, Tante karena setengah jam lagi saya harus sudah sampai di rumah sakit ada pasien yang sudah membuat janji dengan saya soalnya," sambung Tristan.
"Baiklah. Kamu hati-hati di jalan." Tristan menganggukkan kepalanya sebelum dirinya menyalami tangan kedua orangtua Yola itu.
"Saya permisi Om, Tante. Assalamu'alaikum," ucap Tristan.
"Waalaikumsalam," balas dua orang tersebut.
Tristan yang mendengar balasan tersebut pun ia segera pergi dengan sedikit berlari menuju mobilnya. Sedangkan kedua orangtua Yola hanya menghela nafas panjang sebelum mereka juga ikut pergi dari area bandara tersebut.
__ADS_1