Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 08


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Yola beberapa hari yang lalu jika saat dirinya keluar dari rumah sakit, ia akan mencari tahu semuanya tentang Adam. Dan hal itu menjadi kesibukan dirinya kala ia tak kuliah atau sesudah pulang kuliah. Sama seperti yang ia lakukan hari ini. Setelah ia selesai kuliah dengan terburu-buru ia keluar dari kelasnya, tak memperdulikan panggilan dari kedua sahabatnya yang turut mengejar dirinya hingga sampai ke parkiran.


"Anjir, kamu mau kemana sih buru-buru amat sampai kita panggil dari tadi gak nyaut sama sekali," protes Amel kala dirinya sudah berhasil menarik lengan tangan Yola.


"Iya ih setelah kamu keluar dari rumah sakit, perasaan nih ya kamu selalu buru-buru kalau habis kuliah gini. Kayak kamu itu sibuk banget gitu loh. Bahkan saat kita ngajakin kamu buat kumpul, kamu selalu nolak dengan alasan ada sesuatu yang harus kamu lakukan dan dengan cepat harus kamu selesaikan. Emangnya apa sih sesuatu itu hingga buat kamu sibuk begini, gak ada waktu buat nongkrong-nongkrong seperti biasanya," timpal Keni.


Yola menghela nafas dengan melihat ke arah dua sahabatnya yang tengah mengerucutkan bibirnya ke depan.


Yola akui memang setiap kedua sahabatnya mengajak dirinya buat sekedar nongkrong atau ngopi-ngopi pasti selalu ia tolak dan alasannya seperti yang dikatakan oleh Keni tadi. Tapi memang benar bukan, kalau saat ini dirinya memang tengah disibukkan dengan mencari tahu seluk beluk Adam sampai ke akar-akarnya kalau bisa.


"Maaf ya kesayangan, aku emang lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Nanti kalau aku udah gak sibuk lagi janji deh kita nongkrong lagi seperti biasa dan biar aku yang traktir. Tapi untuk beberapa hari ke depan aku masih harus menyelesaikan urusanku dulu. Maaf ya sayang-sayangku," ujar Yola dengan mencubit pipi kedua sahabatnya dengan gemas.


"Tapi---" belum sempat Amel menyelesaikan ucapannya, Yola sudah lebih dulu memutusnya.

__ADS_1


"Udah dulu ya sayang-sayangku. Aku pergi dulu bye." Amel dan Keni dibuat melongo melihat Yola yang sudah berlari meninggalkan tempatnya berdiri tadi.


"Aku jadi penasaran sebenarnya apa yang Yola lakuin beberapa hari ini," ujar Keni tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Yola yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Aku pun juga gak kalah penasarannya sama seperti kamu. Tapi ya udahlah ya mungkin apa yang dilakukan Yola akhir-akhir ini merupakan privasi dirinya. Jadi dia tidak bisa menceritakan ke kita lebih detail lagi. Dan kita sebagai sahabatnya juga tidak boleh nuntut dia untuk selalu cerita apapun yang terjadi dengan hidupnya. Dan yakinlah kalau dia bakal cerita jika dia mau, jadi kita jangan nuntut dia untuk sekali terbuka sama kita gitu aja. Biar dia juga merasa kalau dihargai," ucap Amel karena menurut dirinya. Walaupun seberapa lama mereka bersahabat bukan berarti mereka harus tahu semua cerita hidup satu sama lain karena arti dari sahabat yang sebenarnya bukan hanya mendengar keluh kesah dari mereka melainkan mereka harus siap selalu ada jika dibutuhkan dan tidak menuntut satu sama lain dalam hal apapun.


"Bener juga sih. Ya udahlah, kita ke cafe aja berdua," ujar Keni yang diangguki oleh Amel. Dan setelah itu mereka menuju ke mobil masing-masing dan segera keluar dari area kampus.


Sedangkan di sisi lain, Yola kini telah sampai di rumah sakit tempat kerja Adam. Hari ini karena dirinya tadi kuliah sore alhasil ia berniat untuk mengikuti Adam kemanapun laki-laki itu pergi.


Maka dari itu sebisa mungkin ia harus mengetahui rumah keluarga Adam agar ia bisa menanyakan tentang Adam secara detail lagi dari keluarganya langsung. Tapi sejauh ini Adam akan pulang ke apartemen pribadinya dan setelah laki-laki itu masuk ke dalam apartemen, ia tak pernah keluar lagi dan ia akan keluar di pagi harinya. Itu pun hanya berangkat kerja saja ke rumah sakit. Dan selama pengikutnya itu ia juga bisa menyimpulkan jika hidup seorang dokter tampan itu sangat monoton. Hanya seputar rumah sakit dan apartemen saja. Dan hal itu membuat Yola sebal sendiri jadinya. Tapi ia harus tetap semangat agar bisa mengetahui semuanya tentang Adam dan segera menetapkan hatinya untuk terus berjuang atau berhenti ditengah jalan.


Bahkan saking niatnya dia mengikuti Adam, ia sampai membeli sebuah apartemen di gedung yang sama bahkan di lantai yang sama juga dengan laki-laki itu. Walaupun sedikit jauh tapi tak apalah selagi mempermudah dirinya mengawasi Adam.

__ADS_1


Dan dengan topi hitam juga masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya, Yola menunggu Adam di dalam mobilnya. Karena ia tahu sebentar lagi Adam akan keluar dari rumah sakit itu. Dan benar saja hanya berselang 3 menit akhirnya orang yang ia tunggu-tunggu terlihat juga.


Laki-laki berpawakan tinggi tegap dengan pahatan wajah yang sempurna kini tengah berjalan menuju mobil pribadinya. Dan orang itu siapa lagi kalau bukan Adam.


"Masyaallah calon masa depan," gumam Yola. Ia selalu saja mengucapkan hal tersebut jika melihat Adam karena ia percaya kalau ucapan sama dengan doa. Siapa tahu ucapannya itu bisa dikabulkan oleh sang maha membolak-balikkan hati manusia.


Yola kini menjalankan mobilnya saat ia melihat mobil Adam mulai berjalan. Ia terus mengikuti kemana arah mobil itu pergi. Hingga ia menyadari sesuatu jika mobil yang dikendarai oleh Adam melaju bukan menuju ke apartemen laki-laki itu melainkan ke arah lain. Dan hal tersebut membuat Yola bertanya-tanya, mau kemana lagi tampan itu sekarang? batin Yola menggebu-gebu.


Dan tak berselang lama mobil Adam berhenti di sebuah toko roti sekaligus toko bunga.


"Mau ngapain dia ke sini?" gumam Yola bingung. Namun sesaat setelahnya ia ikut turun dan kembali memakai topi dan maskernya.


Ia kini berdiri di belakang bunga-bunga yang tersusun rapi menjuntai dari atas ke bawah. Ia terus memperhatikan Adam yang tengah disibukkan dengan memilih beberapa bunga ditemani oleh salah satu karyawan di sana.

__ADS_1


"Dia beli bunga buat siapa? Apa jangan-jangan buat pacarnya lagi? Arkhhhh gak gak gak, gak mungkin. Kamu ini mikir apa sih Yola. Jauhi pikiran negatif kamu itu," ujar Yola mencoba untuk berpikir positif, mungkin dia membeli bunga untuk ibunya atau adiknya, pikir Yola.


Tak berselang lama, sebuah buket bunga telah berada di genggaman tangan Adam tak hanya itu saja melainkan satu paper bag yang ia yakini itu adalah roti atau jenisnya juga ada di tangan Adam. Dan saat Yola melihat Adam sudah membayar barang belanjanya, Yola dengan cepat kembali ke dalam mobilnya sebelum dirinya ketahuan oleh Adam dan berakhir semua rencananya itu nanti akan gagal.


__ADS_2