Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 45


__ADS_3

Yola kini keluar dari persembunyiannya saat Nana sudah keluar dari ruang kerja Adam. Ia sedari tadi mendengar apa yang dibicarakan oleh Adam dan Nana. Jika ditanya, kesal, sebal, marah? Tentu saja, apalagi saat dirinya tadi mendengar Nana yang sempat mengelak sebelum akhirnya ia jujur juga. Ia tadi juga berniat untuk bergabung dengan Adam untuk mengomeli Nana, namun ia sadar jika sampai dirinya marah-marah ke Nana justru akan membuat reputasinya sendiri jelek di mata Adam. Jadi lebih baik ia menahan dirinya untuk tak memarahi Nana. Bahkan ia tadi juga sempat terkejut saat Adam memutuskan untuk mengeluarkan Nana hanya gara-gara ulah perempuan itu yang sebenarnya tak terlalu fatal.


Yola kini membuka pintu ruang kerja Adam dan baru saja kakinya melangkah masuk kedalam, suara Adam terdengar hingga membuat ia menghentikan langkahnya.


"Sudah saya bilang bukan, jangan pernah menginjakkan kaki kamu di ruangan ini lagi!" ucap Adam dengan suara meninggi. Laki-laki itu sepertinya tidak sadar jika yang masuk kedalam bukanlah Nana melainkan Yola karena saat ini Adam tengah duduk di meja kerjanya dengan membelakangi pintu ruangan tersebut.


"Ahhhh baiklah. Maaf karena sudah lancang masuk kedalam, Dok. Kalau begitu permisi," ucap Yola jadi tak enak sendiri.


Adam yang mendengar suara seseorang namun bukan suara Nana pun ia segera memutar kursinya menjadi menghadap kearah Yola yang saat ini sudah memutar kenop pintu ruangan tersebut.


"Berhenti!" teriak Adam yang berhasil menghentikan Yola yang hampir saja keluar dari ruang kerjanya itu.


Yola dengan takut-takut menolehkan kepalanya kearah Adam.


"I---iya dok, ada apa ya?" tanya Yola dengan gugup.


"Kesini!" perintah Adam. Yola yang sudah takut dengan ekspresi Adam yang terlihat begitu dingin dan datar pun ia tak bisa menolak lagi alhasil ia berjalan mendekati Adam hingga ia kini berdiri di depan laki-laki tersebut. Tapi hal tersebut membuat Adam terlihat sebal bahkan suara decakan pun terdengar.


"Ck, lebih dekat kesini lagi," ucap Adam.


"I---ini sudah dekat dok," ujar Yola.

__ADS_1


"Belum. Itu masih jauh. Yang dekat itu jika kamu berdiri disamping saya. Jadi cepatlah mendekat sini!" perintah Adam tak terbantahkan.


Yola yang tak mau jika Adam akan marah kepadanya pun ia dengan patuh bergerak menuju ke samping tempat duduk Adam. Dan saat dirinya telah sampai di samping laki-laki tersebut, Adam memutar kursi kerjanya itu hingga mereka kini saling berhadapan. Dan tanpa Yola duga, dengan pergerakan yang cepat Adam memeluk tubuh Yola, menyandarkan kepalanya di perut perempuan tersebut karena posisinya masih duduk sedangkan Yola berdiri.


Yola yang mendapatkan pelukan secara tiba-tiba itu, ia terdiam. Pikirannya seakan tak bisa bekerja lagi, jantungnya pun sudah tak karuan, bahkan kakinya terasa begitu lemas. Dan jika ia tak segara menyadarkan dirinya sendiri, ia yakin saat itu juga ia akan terjatuh. Tak hanya itu saja perutnya yang terasa geli karena kepala Adam sesekali bergerak disana ditambah ia merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya itu. Dan efek dari itu semua membuat pipinya menjadi semu kemerahan.


"Dokter---"


"Stttt, diamlah. Biarkan posisi kita seperti ini terlebih dahulu. Karena saya perlu ketenangan saat ini," ujar Adam memutus ucapan Yola tadi. Yola yang mendengar ucapan dari Adam itu pun ia segara mengunci bibirnya rapat-rapat, tak lagi berbicara lagi setelahnya dan membiarkan Adam memeluk tubuhnya itu.


Hingga 15 menit telah berlalu, aktifitas mereka berdua harus terganggu saat suara ketukan di pintu ruang kerja Adam terdengar.


Sedangkan Yola, ia kini mengelus dadanya karena sempat terkejut saat kursi tadi terjatuh.


"Sudah berapa kali aku kaget hari ini? Untung saja aku tidak memiliki riwayat penyakit jantung," gumam Yola sembari membenarkan kursi tadi.


Dan bertepatan dengan itu, Adam kembali mendekati dirinya dengan wajah yang terlihat begitu masam.


"Ada apa Dok?" tanya Yola.


"Tetap disini. Jangan kemana-mana. Saya periksa pasien dulu. Pulangnya nanti saja. Kalau bisa pulangnya di jam saya pulang nanti," ucap Adam yang membuat Yola mengerjabkan matanya berkali-kali. Dan saat dirinya ingin kembali bersuara untuk bertanya kenapa dirinya tidak diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu dan harus menunggu jam pulang Adam, laki-laki itu sudah lebih dulu pergi lagi dari ruangan tersebut. Dan hal itu membuat Yola kini menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Aku lihat-lihat dokter Adam hari ini aneh banget," gumam Yola yang bingung sendiri akan perubahan sikap Adam itu. Namun setelahnya ia menggedikkan bahunya dan memilih untuk duduk di kursi kerja Adam.


40 menit telah berlalu, Adam tak kunjung kembali juga dan hal tersebut membuat Yola benar-benar bosan.


"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" gumam Yola dengan kepala yang sudah ia sandarkan di atas meja.


"Perutku lapar banget ishhhh. Pengen cemilan," ucapnya dengan mengelus perutnya yang tiba-tiba keroncong itu.


"Apa aku keluar cari cemilan dulu ya? Toh disamping rumah sakit ini juga ada supermarket. Jaraknya juga sangat dekat dan aku yakin sebelum dokter Adam kembali aku sudah kembali lagi," ujarnya. Dan karena ia benar-benar sudah tak betah untuk menahan rasa lapar di perutnya itu ia segara beranjak dari duduknya, lalu kakinya kini ia gerakan keluar dari ruang kerja Adam.


Sedangkan disisi lain, Adam dibuat tak konsen saat menangani pasien yang sekarang tengah terbaring di dalam ruang operasi itu karena otak Adam saat ini dipenuhi oleh Yola seorang. Hingga tepukan di bahunya menyadarkan dirinya.


"Jika kamu lelah istirahat lah. Biar kita yang menangani pasien ini," ucap Tristan yang ikut melakukan operasi pengangkatan tumor pada pasien tersebut.


"Iya benar. Wajah kamu juga masih sangat pucat seperti tadi pagi. Jadi istirahatlah dulu. Dan percayalah, operasi ini akan tetap berjalan lancar," timpal Bobby, salah satu dokter di rumah sakit itu juga.


Adam yang sebenarnya masih pusing karena efek begadang yang belum hilang ditambah pikirannya terus tertuju ke Yola pun ia menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia benar-benar tidak bisa ikut dalam operasi tersebut, mengingat jika ia masih nekat ikut, ia takut akan berdampak pada pasiennya nanti.


"Baiklah kalau begitu, saya serahkan pasien ini ke kalian. Dan semoga operasinya berjalan lancar," ucap Adam yang dibalas dengan kata aamiin oleh semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Saya keluar dulu," kata Adam lalu setelahnya ia segera keluar dari ruang operasi sembari melepaskan atribut operasi yang ia kenakan tadi.

__ADS_1


__ADS_2