
Dipagi harinya tepatnya pada pukul 8 pagi, dimana si tuan rumah yaitu Kenza masih tertidur pulas di kamarnya karena ia baru pulang pukul 3 dini hari tadi. Jangan tanya apa yang dilakukan oleh Kenza jika bukan untuk mencari Yola di penjuru ibu kota Jakarta tersebut. Namun lagi-lagi ia tak mendapatkan hasil sama sekali. Dan disaat itu juga suara ketika pintu di apartemen tersebut berbunyi yang membuat Heila yang tengah memasak makanan di dapur dengan cepat ia melangkahkan kakinya menuju ke pintu apartemen tersebut.
Tok tok tok!!!
"Ya tunggu sebentar," teriak Heila, entah bisa didengar oleh orang di balik pintu itu atau tidak.
Dan setelah pintu itu berhasil ia buka, dirinya mengerutkan keningnya kala ia melihat satpam apartemen lah yang datang.
"Selamat pagi Non," sapa satpam tersebut.
"Ya, selamat pagi juga. Maaf, ada apa ya Pak?" tanya Heila begitu sopan sekaligus penasaran dengan tujuan satpam tersebut ke apartemen Kenza itu.
"Ahhhh begini Non. Saya kemarin sore dapat surat ini dari orang pos. Dan sebenarnya dari kemarin sore saya sudah kesini mau nganterin surat ini tapi saat saya ketuk-ketuk pintunya, tidak ada jawaban dari dalam dan saya kira kemarin nona tidak ada di rumah jadi saya memutuskan untuk mengantarkan surat ini pagi ini. Jadi ini suratnya Nona," ujar satpam tersebut sembari menyerahkan sebuah amplop tadi kearah Heila yang langsung diterima oleh perempuan tersebut.
"Baiklah kalau begitu terimakasih ya Pak," ucap Heila.
"Sama-sama Non. Kalau begitu saya permisi dulu. Mari Non." Heila menganggukkan kepalanya dengan senyum ramahnya.
Dan setelah memastikan jika satpam tadi sudah menjauh, Heila masuk kembali kedalam apartemen tersebut dengan matanya yang fokus ke amplop yang tengah ia bawa itu.
"Amplop apa ini?' tanya Heila penasaran dengan membolak-balik amplop tersebut Hingga ia melihat ada sebuah alamat pengirim yang tertempel di amplop coklat tersebut dimana alamat itu menunjukan sebuah kantor polisi yang lumayan jauh dari apartemen tersebut.
"Astaga. Surat dari kantor kepolisian. Tapi untuk siapa surat ini? Apa untuk aku? Ahhhh tidak-tidak ini jelas-jelas ada nama Nona Kenza yang tertera sebagai penerimanya yang berarti jika surat ini untuk dia bukan untukku," gumam Heila dengan helaan nafas lega karena bukan dirinya lah yang akan berurusan dengan pihak berwajib.
__ADS_1
Dan setalah ia tau surat itu untuk Kenza, Heila segara melangkahkan kakinya menuju ke kamar Kenza berada.
Tok tok tok!!!
Heila terus mengetuk pintu kamar tersebut yang semakin lama ketukan tadi berubah menjadi gedoran. Dan hal tersebut membuat tidur Kenza terusik.
"Sialan! Siapa yang sudah berani mengganggu tidurku!" geram Kenza dengan melempar guling yang tadi sempat ia peluk sebelum tangannya kini menarik bantal yang tengah ia gunakan untuk menutup telinganya. Hingga suara ketukan itu mereda.
Tapi ingat ketukan itu hanya mereda saja bukan berhenti, dan itu masih sangat mengganggu Kenza.
"Sialan!" marah Kenza masih dengan melempar bantalnya tadi sebelum dirinya kini mau tak mau harus beranjak dari ranjangnya.
"Sialan! Apakah kamu tidak tau jika aku baru tidur, hah?!" sentak Kenza kala pintu kamarnya itu terbuka lebar dan ia tau siapa pelaku yang menggedor pintu kamarnya itu.
"Berita apaan, cepat katakan!"
Heila sempat menghembuskan nafas panjang sebelum dirinya kini menyerahkan amplop tadi ke hadapan Kenza.
"Apa?" tanya Kenza dengan menunjuk kearah amplop yang masih di tangan Heila.
"Ambil dan baca sendiri. Nanti kamu akan tau apa isi dari amplop ini. Karena saya tidak berani membukakan," ucap Heila yang membuat Kenza berdecak namun tak urung tangannya kini merampas amplop tersebut dari tangan Heila. Dan setelah mendapatkan amplop itu, ia berjalan menuju kearah ruang tamu dan saat melewati Heila ia sempat menyenggol lengan tangan kanannya itu sangat keras hingga membuat Heila sempat terhuyung kebelakang tadi.
Tapi Heila hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Dan setelahnya ia memilih untuk kembali melanjutkan aktivitasnya sebelumnya.
__ADS_1
Sedangkan Kenza yang sudah duduk di sofa, ia kini mulai membuka amplop yang memang di tujukan untuknya itu lalu ia mulai membaca isi surat tersebut.
Hingga beberapa menit setelahnya...
Brakkk!
"Sialan! Berani-beraninya Adam melaporkanku ke pihak berwajib!" teriakan serta gebrakan meja tadi membuat Heila yang ada di dapur terkejut, apalagi saat mendegar ucapan dan Kenza tadi.
"Jadi surat itu berisi tentang pelaporan tuan Adam untuk Nona Kenza? Tapi dengan dugaan apa? Apa dugaan tentang masa lalu mereka atau jangan-jangan---" belum sempat Heila menerka-nerka, suara Kenza kembali terdengar dan itu menjawab semua pertanyaannya tadi.
"Dan apa ini, dia melaporkanku dengan tuduhan pencemaran nama baik? Apa dia gila, kapan aku mencoba untuk mencemarkan nama baik dia. Apa jangan-jangan surat panggilan ini ada kaitannya dengan aku yang melabrak perempuan murahan itu lagi. Jika benar gara-gara itu, sialan sekali Yola itu dan awas saja aku akan membalasnya," ucap Kenza penuh amarah.
"Ahhhh gara-gara kasus kemarin ternyata. Tapi kalau aku jadi tuan Adam, aku pasti akan melakukan hal yang sama dengannya. Ya siapa yang terima coba, jika dirinya di klaim menjadi suami orang di depan banyak orang yang mengakibatkan para netizen di luar sana pasti akan menganggap jika dia tengah selingkuh padahal tidak sama sekali, belum lagi gara-gara hal itu dia sampai harus menjauh dengan orang yang benar-benar ia sayang yang entah kapan akan kembali," gumam Heila yang berada di pihak Adam.
Sedangkan Kenza yang sudah benar-benar murka pun ia merobek-robek surat panggilan tadi menjadi kecil-kecil lalu dengan santainya dia menyebar robekan kertas itu di lantai apartemennya itu.
"Kalian anggap aku takut dengan tuntutan murahan ini? Tidak sama sekali Adam, dan jangan harap aku akan datang ke kantor polisi karena hal itu tidak akan pernah terjadi," ujar Kenza dengan senyum miringnya sebelum dirinya memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamarnya dan melanjutkan aktivitas tidurnya tadi.
Dan kepergiannya itu membuat Heila berdecak sebal kala melihat tempat disekitar sofa yang diduduki oleh Kenza berhamburan kertas dari pihak kepolisian itu.
"Sialan. Kasih kerjaan lagi tuh orang," ucap Heila kesal.
"Memasak saja aku belum selesai sudah ditambah kerjaan lain lagi. Sialan memang manusia aneh satu itu. Sialan," kata Heila penuh dengan emosi yang memuncak dan kata-kata umpatannya itu yang ia tujukan untuk siapa lagi kalau bukan Kenza alias atasannya sendiri.
__ADS_1