
Amel dan Yola yang melihat Keni berlari pun mereka menghela nafas panjang sebelum tatapan mereka kembali ke depan.
"Hari ini adalah hari buruk bagi Keni. Semoga saja Kak Caka tidak memberikan hukuman yang berat ke dia atau jangan sampai Kak Caka tidak memberikan nilai ke Keni," ucap Yola.
"Aamiin. Semoga saja begitu. Tapi btw, kita lupakan tentang Keni. Dan sekarang ceritakan kenapa kamu bisa pergi menghilang dan tiba-tiba muncul di acara pertunangan kamu. Ceritakan sekarang juga karena aku mau tau ceritanya," ujar Amel yang membuat Yola mendengus namun sesaat setelahnya ia tersenyum kala mengingat betapa romantisnya Adam yang melamarnya waktu itu.
Sedangkan Amel yang melihat sahabatnya itu tengah senyum-senyum sendiri dengan gemas dirinya meraup wajah Yola.
"Ditanya malah cengar-cengir sendiri. Dasar," ucap Amel yang membuat Yola mencebikkan bibirnya.
"Kalau aku ceritakan semuanya secara detail mungkin dengan waktu satu hari ini tidak akan cukup," ujar Yola.
"Kalau gak cukup ya tinggal sambung besok kan bisa. Jadi cepat ceritakan sekarang juga," pinta Amel.
"Baiklah-baiklah aku akan menceritakan semuanya tentang hilangnya diriku dan tiba-tiba muncul saat pertunanganku." Amel menganggukkan kepalanya sembari memasang telinganya baik-baik.
Sedangkan Yola, ia kini menghirup oksigen banyak-banyak sebelum akhirnya ia mulai menceritakan secara detail tentang kejadian yang telah ia lalui beberapa minggu kebelakang ini. Dengan sesekali diangguki oleh Amel untuk merespon cerita dari sahabatnya itu.
Cerita itu terus terjadi sampai tak terasa waktu kini sudah pukul 12 siang, dimana sudah 3 jam Yola bercerita tentang dirinya. Sampai ia tak sadar jika Adam sejak 3 jam yang lalu menghubungi dirinya. Karena kebetulan ponsel Yola di silent oleh perempuan itu yang menyebabkan Yola tak mendengar ada notifikasi yang masuk kedalam ponselnya.
Sedangkan Adam yang masih berada di rumah sakit ia tampak khawatir dengan calon istrinya itu yang tadi sempat berpamitan kepadanya untuk menenangkan Keni di kantin kampus dengan berjanji akan menghubungi dirinya 30 menit setelahnya untuk Adam agar bisa menjemputnya. Dan calon istrinya juga berpesan jika Adam tidak boleh menjemputnya terlebih dahulu jika dia belum mengubunginya. Padahal di jam 1 ini mereka akan pergi ke butik milik Vivian untuk melakukan fitting baju pernikahan mereka. Tapi sampai detik ini juga si calon mempelai perempuan masih belum bisa Adam hubungi lebih tepatnya, semua pesan dan telepon yang ia lakukan tak di jawab oleh Yola. Dan hal tersebut membuat Adam benar-benar frustasi.
"Apakah dengan menenangkan Keni harus sampai 3 jam lamanya seperti ini?" gumam Adam dengan perasaan kesalnya.
__ADS_1
"Memangnya sahabatnya itu memiliki masalah apa sampai harus selama ini membuat dia tenang kembali. Mana semua pesan dan teleponku tidak dijawab sama sekali oleh dia lagi. Astaga! Aku tidak bisa disini dan menunggu dia sampai menghubungiku. Aku harus mencari dia di kampusnya sekarang juga," ujar Adam dan dengan cepat ia menanggalkan jas dokternya itu di dalam ruang kerjanya sebelum dirinya bergegas menuju parkiran lalu menjalankan mobilnya ke kampus Yola.
Disisi lain, akhirnya cerita Yola telah selesai yang membuat perempuan itu kini menghela nafas lega namun tak urung senyuman di bibirnya kembali terlihat.
"Wow, jadi sebelum dia mengatakan ingin menikah denganmu dia sudah meminta izin dulu kepada kedua orangtuamu secara diam-diam?" Yola menganggukkan kepalanya.
"Dan berakhir dengan surprise lamaran spektakuler itu yang masih trending di jagat dunia maya itu?" tanya Amel yang lagi-lagi dijawab dengan anggukan pula oleh Yola.
"Ya ampun sweet banget sih. Jadi pengen pasangan kayak dokter Adam itu. Huh, tapi jika aku ingin pasangan seperti dokter Adam berarti aku juga harus berjuang seperti dirimu. Tapi sepertinya aku tidak akan bisa jika harus berjuang sepertimu itu karena mentalku tidak sekuat mentalmu. Aku dapat sekali bentakan dari orang yang aku incar pasti akan langsung nangis saat itu juga dan berakhir aku akan langsung menyerah begitu saja. Sangat-sangat berbanding terbalik denganmu yang hatinya sudah kokoh, sampai berkali-kali mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari dokter Adam dulu, kamu masih terus maju pantang mundur hingga usahamu akhirnya membuahkan hasil seperti yang kamu inginkan. Aku benar-benar bangga sama kamu, Yola," ucap Amel dengan menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu.
"Ya yang namanya ingin mendapatkan apa yang kita mau, berarti kita juga harus berusaha sekuat yang kita bisa. Jika kamu tidak akan menyerah maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan itu tapi kalau kamu menyerah ya kamu harus ikhlas melepaskan apa yang kita mau itu," kata Yola yang diangguki oleh Amel.
"Benar apa katamu itu. Kita harus berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan doakan saja ya sahabatmu ini bisa mendapatkan pasangan yang dia inginkan dan do'akan semoga mental sahabatmu ini sekuat mentalmu agar sahabatmu ini mendapatkan hasil yang sama dengan hasil yang kamu dapatkan itu," ucap Amel yang justru membuat Yola mengerutkan keningnya. Ia sepertinya curiga dengan ucapan Amel itu.
Dimana pertanyaan dari Yola itu membuat Amel langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tidak. Aku tidak memilik laki-laki yang aku incar saat ini," ucap Amel. Namun yang namanya Yola, ia tak akan percaya begitu saja dengan sahabatnya itu.
"Jangan menutupi apapun dariku, Amel. Karena kalau aku tau dari orang lain, aku tidak akan memaafkanmu," ujar Yola yang membuat Amel kembali menatapnya.
"Kok gitu?" Yola menjawab dengan gedikkan dibahunya.
"Makanya kalau kamu tidak mau hal itu terjadi, katakan sekarang dengan jujur. Kamu tengah mengincar seorang laki-laki kan? Jawab. Kalau kamu menjawab dengan jujur siapa tau aku bisa membantumu memberikan tips and trik untuk meluluhkan hati laki-laki itu. Jadi jawab cepat!" ucap Yola benar-benar tak sabaran.
__ADS_1
Amel yang terpojokkan oleh sahabatnya itu ia menghela nafasnya sembari menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Nah kan benar kalau kamu sekarang tengah mengincar seseorang. Jadi siapa orang yang tengah kamu incar itu katakan. Apakah orang itu seorang Dokter seperti Kak Adam?" Amel menggelengkan kepalanya.
"Bukan seorang dokter ya. Hmmm mungkin CEO?" Lagi-lagi Amel menggelengkan kepalanya.
"Bukan CEO juga. Kalau begitu bagaimana dengan pengusaha? Apa dia pengusaha?" Amel kembali menggelengkan kepalanya.
"Ehhh bukan juga. Kalau begitu apa dia seorang aparat kepolisian, TNI, Pilot, Masinis, nahkoda, atau mahasiswa seperti kita ini?" tanya Yola yang membuat Amel menghela nafasnya.
"Bukan Yola."
"Lha masih bukan. Kalau begitu dia bekerja apa dong?" tanya Yola frustasi.
"Ahhhh apa jangan-jangan orang yang kamu incar itu adalah seorang guru atau dosen? Pasti salah satu dari itu kan? Kali ini benar kan?" Dengan senyumannya, Amel menganggukkan kepalanya.
"Ya, laki-laki yang aku incar ini berprofesi sebagai dosen," jawab Amel.
"Dosen? Di universitas mana? Jangan bilang di universitas ini lagi?"
"Kali ini kamu benar lagi untuk kedua kalinya. Aku tengah mengincar salah satu dosen disini," jawab Amel yang membuat Yola melongo tak percaya.
"Kalau begitu siapa nama dosen yang kamu incar itu! Cepat katakan karena aku sudah tidak sabar untuk mendengarnya," ucap Yola excited yang justru membuat Amel tersenyum lebar kearahnya.
__ADS_1