Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 24


__ADS_3

"Saya sudah selesai berbicara dengan Anda dan saya rasa kita tidak memiliki urusan lain yang perlu kita bicara kan lagi, Nona. Jadi silahkan anda segera keluar dari ruangan saya," ujar Adam.


Yola mengerjabkan matanya dan dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Tunggu Dok. Jika saya tidak di perbolehkan untuk mengikuti dokter Adam dan menyukai dokter Adam secara diam-diam. Apa saya boleh mencintai Dokter Adam secara terang-terangan? Maksudnya izinkan saya berjuang untuk menaklukkan hati dokter Adam," ucap Yola.


Adam mendengus sebal.


"Tidak," balas Adam.


"Please Dok. Berikan saya kesempatan untuk berjuang. Kalau tidak begini saja beri saya waktu hmmm 3 bulan. Jika saya tidak bisa menaklukkan hati Dokter Adam, tanpa diminta saya akan mundur. Bagaimana, Dokter setuju kan?"


"Tidak."


"Kok tidak sih Dok. Haishhh pokoknya saya akan berusaha menaklukkan hati Dokter Adam dalam waktu 3 bulan ini. Tapi kalau di pertengahan jalan dokter sudah memiliki kekasih, dokter tenang saja saya juga akan mundur saat itu juga. Tapi ingat, itu harus kekasih yang nyata bukan bohongan," ucap Yola.


Dan saat Adam ingin menimpali ucapannya tadi, Yola lebih dulu memutusnya karena ia tau jika Adam akan menolak perkataan tadi.


"Pokoknya dokter Adam tidak boleh menolak titik gak pakai koma. Dan perjanjian ini akan saya mulai dari sekarang. Jadi mohon kerjasamanya ya Dokter Adam," ujar Yola.


"Ahhhh satu lagi, akun media sosial yang memiliki username Fayy_Mafaza itu adalah akun media sosial punya saya Dok. Jadi diharap untuk membaca pesan saya ya Dok. Berhubung saya sudah menyampaikan maksud dan tujuan saya, saya permisi dulu. Jangan lupa makanannya dimakan ya Dokter tampan. Dan jangan lupa pesan saya dibalas. Bye dokter, sampai ketemu besok. Assalamualaikum," sambung Yola sembari berdiri dari duduknya kemudian ia segera keluar dari ruangan tersebut. Tapi sebelum dirinya menutup pintu ruang kerja Adam, ia menyempatkan diri untuk memberikan lambaian tangan kearah Adam yang terus saja menatap datar kearahnya tanpa ada raut senang sedikitpun.


Dan setelah pintu itu tertutup, Adam menyandarkan tubuhnya disandaran kursinya sembari memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.


"Cobaan apa lagi yang harus hamba hadapi, Tuhan. Astaga. Ingin sekali aku menenggelamkan perempuan tak tau malu itu di laut bebas jika aku tidak ingat jika perbuatan itu dosa. Tapi jika tidak aku yakin dalam waktu 3 bulan kedepan aku akan tekanan batin jika harus bertemu dengan perempuan itu," gumam Adam. Belum apa-apa saja ia sudah dibuat pusing tujuh keliling dengan Yola apalagi saat perempuan itu sudah mulai aksinya. Entah seberapa pusingnya dia nanti.


Namun beberapa saat setelahnya, Adam menegakkan tubuhnya kembali saat ia baru ingat satu perkataan Yola tadi.

__ADS_1


"Sebentar, dia tadi bilang kalau dalam jangka waktu 3 bulan ini aku sudah memiliki kekasih maka dia akan mundur sendiri bukan walaupun jauh dari waktu perjanjian? Jadi apakah aku harus mencari kekasih mulai saat ini? Tidak tidak, aku tidak bisa memiliki kekasih disaat aku masih mengingat tentang dia. Aku juga tidak akan mempermainkan hati seorang perempuan karena saat aku melukai hati perempuan berarti aku juga melukai hati Mommy, Mama, Vivian dan Edrea. Jadi tidak mungkin aku melakukan hal itu. Kalau begitu aku harus bagaimana? Apa aku harus membayar seseorang untuk menjadi kekasih bohonganku? Hmmm sepertinya ini cukup menarik selagi aku bisa menyembunyikan identitas calon kekasih bayaranku itu, aku yakin perempuan sinting itu tak akan tau tentang statusku yang sebenarnya. Ya, sepertinya ini jalan terakhir yang akan aku ambil agar dia bisa menjauhiku," gumam Adam dengan memantapkan pilihan untuk mencari kekasih bayaran untuk sementara waktu.


Toh dengan cara itu ia juga tak perlu melukai hati seorang perempuan bukan? Karena nanti yang akan menjadi kekasih bayarannya itu akan mendapatkan uang sesuai yang perempuan itu inginkan, sedangkan dirinya akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi mereka akan sama-sama saling menguntungkan.


Sedangkan disisi lain, Yola berjalan dengan riang gembira menelusuri lorong rumah sakit tersebut dengan sesekali ia melempar senyum lebar kearah orang-orang yang kebetulan ia lewati. Hingga saat dirinya ingin berbelok menuju ke lobi utama rumah sakit itu tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang yang juga ingin berbelok arah. Dan sudah terhitung 2 kali dirinya menabrak seseorang dalam satu hari ini.


Yola tampak mengaduh sesaat sebelum dirinya menengadahkan kepalanya. Dan saat matanya bertatapan dengan mata tajam seseorang di hadapannya itu, ia meringis hingga deretan giginya terlihat.


"Hehehe si Kakak lagi. Maaf Kak, aku lagi-lagi gak sengaja nabrak tubuh Kakak," ucap Yola yang ingat jika seseorang yang ia tabrak kali ini adalah orang yang sama seperti yang ia tabrak sebelumnya.


"Nama," ucap laki-laki tersebut yang membuat Yola mengerjabkan matanya.


"Ehhh gimana Kak?" tanya Yola tak paham.


"Ck, nama," ulang laki-laki itu.


"Aku, Yola. Fayyola Mafaza Orlin. Hehehe," ucap Yola sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia benar-benar gugup berhadapan dengan laki-laki datar nan dingin itu. Sedangkan laki-laki itu, ia menganggukkan kepalanya. Sebelum laki-laki itu kembali bersuara.


"Ngapain?" tanya laki-laki tersebut.


"Hah?" beo Yola tak paham.


"Ngapain kamu kesini?"


"Ohhhh aku kesini ketemu sama salah satu Dokter disini," jawab Yola.


"Siapa?"

__ADS_1


"Hah?" Laki-laki itu tampak menghela nafas saat Yola terus saja melontarkan kata Hah saat dirinya mulai bertanya. Apakah perempuan itu tak bisa mengerti maksud ucapannya itu tanpa ia mengulanginya lagi?


"Siapa dokter itu?" Yola mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dokter Adam," jawab Yola yang membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya.


"Sakit?" Sebelum Yola kembali menjawab kata Hah, laki-laki itu kembali bersuara.


"Kamu sakit?" Yola menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku sehat kok. Tadi hanya ada urusan sebentar dengan dokter Adam. Oh ya Kakak sendiri ngapain kesini? Kakak lagi sakit?" Laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


"Jadi Kakak tidak lagi sakit? Kalau begitu Kakak kesini mau ngapain?" tanya Yola kepo.


"Bertemu seseorang," ujar laki-laki tersebut.


"Ohhh begitu ya," ucap Yola yang tak tau lagi harus bertanya apa dengan laki-laki dingin ini.


Hingga beberapa saat mereka dilanda keheningan, suara dering telepon membuyarkan suasana canggung itu.


"Kak, hp Kakak bunyi," ujar Yola yang diangguki oleh laki-laki tersebut.


Kemudian setelah laki-laki itu melihat siapa yang memanggilnya, ia kembali menatap kearah Yola.


"Aku pergi," ujar laki-laki tersebut.


"Ehhhh baiklah. Silahkan Kak. Hmmm hati-hati dijalan ya takutkan nanti kesandung dan Kakak jatuh di tengah jalan. Hehehe," ucap Yola sembari menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan laki-laki itu. Dan ucapan dari Yola tadi hanya diangguki oleh laki-laki tersebut sebelum laki-laki itu bergerak untuk meninggalkan Yola yang menatap punggungnya.

__ADS_1


"Ya ampun dingin banget kayak kulkas 50 pintu. Udah muka datar, irit bicara lagi. Untung tampan kalau tidak hmmmm gak tau lagi deh," gumam Yola dengan gedikkan di bahunya. Lalu setelahnya ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi menuju ke parkiran rumah sakit, jangan lupakan senyuman manisnya yang terus tercetak di wajahnya selama perjalanan Yola menuju parkiran itu.


__ADS_2