Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 131


__ADS_3

Yola melepaskan pelukannya itu dengan air mata haru yang sudah membasahi pipinya itu. Dengan mata yang saling menatap dengan manik mata Adam yang juga tengah berkaca-kaca itu, sebelum laki-laki tersebut bersuara.


"Terimakasih karena kamu sudah menerimaku menjadi tunanganmu dan calon suamimu, sayang," ucap Adam.


"Aku juga berterimakasih kepadamu yang sudah memberiku kejutan yang begitu spektakuler ini. Walaupun tadi sempat bikin parno sendiri karena berasa uji nyali, tapi tak apa karena akhirnya kita sekarang sah menjadi sepasang calon suami-istri." Ucapan Yola tadi membuat Adam tersenyum.


"Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan," ucap Yola yang membuat Adam mengerutkan keningnya.


"Apa?"


"Jadi apa yang kamu katakan kepadaku kalau kamu mau menikahi aku satu bulan yang lagi itu karena kamu sudah menyiapkan ini semua?" tanya Yola pemasaran dengan posisi kening mereka saling menyatu dan tanpa Yola sadari jika Adam tengah membawanya untuk berdansa ditengah-tengah tamu undangan yang juga sedang berdansa itu.


"Tentu saja. Dan kamu tau sayang, saat aku telepon kamu dan mengatakan keinginanku itu, aku sebenarnya habis dari rumah kedua orangtuamu. Memintamu kepada mereka berdua dan meminta izin juga restu untuk menikahimu yang untungnya aku mendapatkan itu semua," ujar Adam menceritakan usahanya untuk meminta Yola kepada kedua orangtua kekasihnya itu.


"Ohhhh jadi karena itu kamu waktu itu sangat yakin kalau Mama sama Papa memberikan restu kepadamu." Adam menganggukkan kepalanya.


"Haishhh pantas sekali kamu sangat pede waktu itu. Ternyata oh ternyata kamu sudah mencuri start terlebih dahulu. Mana aku tidak tau akan hal itu lagi. Ck, menyebalkan," ujar Yola dengan cebikkan di bibirnya.


"Kan aku mau memberimu surprise sayang. Kalau kamu tau aku datang menemui orangtuamu waktu itu yang ada tepat di hari ini juga, surprise tadi tidak akan mungkin ada," ucap Adam.


"Hmmmm benar juga sih. Ya sudah lah tak apa yang terpenting sekarang aku sangat bahagia karena aku bisa membuktikan jika aku bisa mendapatkanmu," ujar Yola dengan tersenyum lebar yang dibalas senyuman pula oleh Adam.


"Selamat sayang. Kamu adalah pemenangnya dalam misi mengejar cintaku ini," tutur Adam dengan mencuri kecupan di bibir Yola yang membuat beberapa orang yang sempat melihatnya tadi menyoraki mereka berdua. Dan hal itu membuat pipi Yola bersemu merah yang membuat Adam semakin gemas saja dengan kekasihnya itu.


Dan aksi dari keromantisan Yola serta Adam itu tak lepas dari sorot kamera media yang menyiarkan langsung acara pertunangan tersebut di televisi tempat mereka bekerja.


Dimana acara pertunangan itu juga disaksikan oleh Kenza yang berada di rumah sakit jiwa.


Dengan gigi yang bergemeletuk, rahang yang sudah mengeras serta tangan yang terkepal erat, ia melempar piring yang berisi makan malamnya itu keatas lantai. Dimana suara nyaring dari pecahan piring itu terdengar sampai telinga kedua polisi yang menjaga di depan ruangan Kenza. Tak hanya suara pecahan saja yang terdengar, melainkan sesaat setelahnya kembali terdengar suara bantingan dan teriakan dari dalam ruangan Kenza tersebut yang membuat kedua polisi itu kini saling pandang satu sama lain.


"Apa yang sedang terjadi di dalam?" tanya salah satu polisi itu.


"Aku juga tidak tau. Lebih baik kita sekarang buka pintu ini dan segera memeriksa apa yang sebenarnya tengah terjadi didalam ruangan ini," jawab polisi satunya lagi yang diangguki oleh rekannya itu sebelum mereka berdua kini membuka pintu ruangan tersebut.


Dan saat pintu itu terbuka lebar, bertepatan dengan hal itu, satu kursi melayang menuju kearah mereka. Jika saja mereka berdua tadi terlambat untuk menundukkan kepala mereka, sudah dipastikan kepala mereka akan gagar otak karena terkena lemparan kursi besi itu.


"Ya Tuhan, dia mengamuk lagi. Cepat panggil psikiater itu untuk menenangkan dia," ujar polisi tersebut yang langsung membuat rekannya itu kini berlari menuju ke ruangan psikiater cantik yang menangani Kenza.


Dimana perginya salah satu polisi tadi, membuat satu polisi lainnya langsung menutup kembali pintu tersebut. Takut jika dia akan menjadi sasaran empuk kemarahan dari wanita gila itu.


Disisi lain, polisi yang berlari menuju ke arah ruang kerja psikiater tadi, ia kini telah sampai. Dan tanpa menunggu waktu lama, ia mengetuk pintu ruangan tersebut.


Tok tok tok!!

__ADS_1


Dengan sekali mengetuk pintu, pintu ruangan itu terbuka yang langsung memperlihatkan psikiater cantik itu dari balik pintu ruangannya itu.


"Ada apa pak?" tanya psikiater tersebut.


"Nona tolong. Kenza sekarang tengah mengamuk di dalam ruangannya," ucap polisi itu yang membuat psikiater tersebut tampak terkejut.


"Astaga. Kalau begitu kita kesana sekarang pak," ujar psikiater itu. Dan setelah menutup pintu ruangannya juga sudah membawa obat penenang, psikiater itu berlari bersama dengan polisi tadi menuju ke ruangan Kenza.


Dan saat mereka berdua tengah menuju ke ruangan Kenza, wanita gila itu yang berada di dalam ruangannya, ia menatap tajam kearah televisi yang masih menampilkan adegan romantis yang tercipta di tempat pertunangan itu terjadi.


"Yola bedebah! Berani-beraninya dia merebut Adam dariku!" teriak Kenza seperti orang kesetanan.


"Aku akan membunuhmu, Yola! Aku akan melenyapkanmu!" teriak Kenza kembali sembari berjalan menuju ke arah pintu ruangannya itu dengan kabut amarah yang menggelapkan matanya.


Namun saat dirinya ingin membuka pintu itu, Kenza tidak bisa membukanya. Karena tanpa Kenza ketahui di depan pintu itu polisi tadi dengan sekuat tenaganya ia menahan pintu tersebut.


"Ya Tuhan. Apakah dia belum juga sampai diruangan psikiater itu?" gumam polisi tersebut yang perlahan-lahan tenaganya mulai menipis.


"Kenapa mereka lama sekali sampai sini? Astaga, aku benar-benar sudah tidak kuat untuk menahan pintu ini. Orang gila di dalam ruangan ini tenaganya benar-benar sangat besar," sambungnya dengan keringat yang mulai bercucuran. Bahkan konsentrasinya untuk menahan pintu tersebut harus terbagi kala ia mendengar teriakan dan tendangan atau bahkan gedoran keras yang terjadi di pintu itu yang benar-benar membuat kupingnya terasa pengang.


Dari kejauhan seorang psikiater dan seorang polisi berlari menuju ke arah salah satu polisi yang masih berusaha untuk menahan pintu tersebut.


"Akhirnya kalian sampai juga. Buruan bantu aku untuk menahan pintu ini," ujar polisi tersebut kala ia melihat dua orang yang baru saja sampai disampingnya.


"Nona Kenza. Tolong tenang dulu!" teriak psikiater tersebut.


"Kita bicarakan kemauan nona secara baik-baik oke?! Nanti akan aku bantu mencari solusi untuk memenuhi kemauan Nona!" sambungnya.


"Jadi saya harap Nona, tenang. Ambil nafas panjang dan buang perlahan!"


Kenza yang mendengar perintah dari psikiater tersebut ia langsung melakukannya.


"Nona sudah tenang kan? Kalau sudah saya akan masuk. Tapi kalau Nona masih memberontak, saya tidak akan membantu apapun untuk nona." Ucapan dari psikiater tersebut tak mendapat balasan apapun. Bahkan apa yang dilakukan Kenza tadi sudah tidak dilakukan lagi oleh perempuan itu. Dan hal itu bisa diartikan jika Kenza sudah tenang.


"Saya rasa nona sudah tenang. Dan saya akan masuk kedalam," ujar psikiater tersebut dengan menatap kearah kedua polisi tadi untuk terus berjaga-jaga apabila dirinya nanti memerlukan bantuan. Dimana tatapan mata dari psikiater tersebut diangguki oleh dua polisi tersebut.


Dan setelah melihat anggukkan kepala dari dua polisi tadi, psikiater itu kini membuka pintu ruangan Kenza. Dimana saat pintu itu terbuka, ia langsung bisa melihat Kenza dengan muka yang memerah, mata yang menajam dan kepalan di tangannya yang begitu erat sampai memperlihatkan urat-urat ditangannya. Tampak menyeramkan memang namun psikiater itu justru tersenyum kearahnya.


"Nona. Mari kita duduk dulu," ajak psikiater tersebut dengan menuntun Kenza menuju ke arah ranjang di ruangan tersebut.


Dan saat mereka tengah berjalan, mata psikiater tersebut melirik kearah televisi yang masih menyala dan memperlihatkan sebuah pesta yang sekarang tengah trending dimana-mana itu. Dan hal tersebut membuat psikiater itu kini menghela nafas panjang.


"Pantas saja dia ngamuk. Orang dia baru saja lihat mantan kekasihnya bertunangan dengan perempuan lain selain dirinya. Huh, lagian tuan Adam kenapa harus membelikan dia televisi disini sih kalau dia mau mengadakan pesta untuk di tayangkan di media seperti ini, aduhhh," batin psikiater tersebut yang sudah tau alasan Kenza mengamuk itu.

__ADS_1


Dan setelah ia mendudukkan Kenza di atas ranjang dengan posisi Kenza membelakangi televisi tadi, psikiater tersebut melirik kearah dua polisi yang memantau mereka dari ambang pintu sembari memberikan kode untuk merubah channel televisi tersebut.


Polisi yang paham akan kode itu pun salah satu dari mereka berjalan pelan menuju ke televisi tersebut disela-sela psikiater itu mulai berbicara kepada Kenza.


"Jadi apa yang membuat Nona Kenza melempar semua barang yang ada disini tadi?" tanya psikiater tersebut dengan lembut.


"Aku benci Yola. Perempuan itu telah merebut Adam dariku!" ucap Kenza dengan suara yang benar-benar keras hingga memenuhi ruangan itu.


"Yola? Siapa orang itu?" tanya psikiater tersebut pura-pura tidak tau.


"Apa kamu tidak melihatnya di televisi? Perempuan bernama Yola itu baru saja bertunangan dengan Adam dan acara mereka di siarkan di televisi!" bentak Kenza.


"Masa sih? Kok saya tidak melihat berita tentang tuan Adam. Nona salah lihat kali. Karena saya sebelum kesini tadi, saya juga melihat televisi tapi tidak menemukan apapun tentang berita itu," ucap psikiater tersebut.


"Tidak mungkin kamu tidak melihat berita tentang Adam! Kalau memang kamu tadi tidak sempat melihatnya, maka lihat di televisi itu yang sekarang tengah memperlihatkan situasi di acara sialan itu?" Kenza kini menunjuk kearah televisi namun badan dan matanya masih tertuju kearah psikiater tadi yang kini tengah menatap kearah televisi di ruangan Kenza itu.


"Ya ampun Nona, televisi anda itu sekarang tengah menyiarkan acara Upin, Ipin dan Apin." Kenza mengerutkan keningnya sebelum dirinya kini memutar tubuhnya dan melihat kearah televisi yang memang tengah menyiarkan acara kartun anak-anak itu.


"Lho kok bisa acara kartun seperti itu!" ucap Kenza tak percaya.


"Kan saya tadi sudah bilang kalau Nona ini hanya salah lihat karena didalam pikiran nona saat ini hanya ada tuan Adam dan kebencian nona dengan perempuan bernama Yola itu. Sehingga memunculkan imajinasi di otak nona ini." Kenza menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak salah lihat tadi apalagi sedang berhalusinasi. Pasti channel televisi itu sudah diganti oleh seseorang. Aku harus memeriksanya," ucap Kenza yang kini berdiri dari posisi duduknya dan dengan langkah lebar ia mendekati televisi tersebut.


Dan hal itu membuat psikiater tadi menelan salivanya dengan susah payah. Jika sampai Kenza kembali menemukan berita itu lagi, mati sudah dirinya nanti karena ia akan ketahuan bohong oleh pasiennya itu.


"Tidak. Aku harus segera mencegahnya," ucap psikiater tadi dengan berlari menuju kearah Kenza.


Kenza mengerutkan keningnya karena sedari tadi ia tidak menemukan berita tentang pertunangan mantan kekasihnya itu dan disemua channel televisi itu hanya berisi kartun saja.


"Lho kok ini isinya karun semua," ujar Kenza yang membuat psikiater tadi yang berniat ingin menyuntikkan obat penenang itu berhenti dengan kepala yang kini menoleh kearah televisi yang channelnya masih dipindah-pindah oleh Kenza itu.


"Nahhh kan. Nona itu hanya berhalusinasi saja tadi. Dibilangin ngeyel sih. Sekarang sudah terbukti kan kalau tidak ada berita apapun tentang tuan Adam," ujar psikiater tadi sembari menutup jarum suntik itu sebelum ia memasukkan kembali obat penenangnya tadi ke dalam saku blazernya itu.


"Masa sih aku hanya menghayal atau halusinasi saja."


"Kemungkinan memang seperti itu. Nona juga sih kenapa terus memikirkan tuan Adam dan menanamkan kebencian di hati nona kepada Yola. Jika saja nona tidak memikirkan tuan Adam dan tidak membenci Yola, nona tidak akan mengalami yang namanya halusinasi yang membuat Nona menjadi tersiksa sendiri seperti tadi. Dan mulai sekarang, lebih baik nona mencoba untuk melupakan tuan Adam dan dengan perlahan menghapus rasa benci nona ke Yola. Saya jamin setelah itu, hidup nona tidak akan dipenuhi oleh halusinasi yang nona ciptakan sendiri," ucap psikiater tersebut dengan menepuk pundak Kenza agar duduk di sofa di ruangan tersebut. Dimana setelahnya, barulah ia ikut duduk disamping Kenza.


"Saya tau hal itu tidak akan mudah nona lakukan, mengingat nona sangat cinta dengan tuan Adam. Tapi nona harus mencobanya untuk kebaikan nona sendiri. Nona lakukan saja secara perlahan-lahan. Dimana saat nona mengingat dan membayangkan wajah tuan Adam, nona harus menggantinya dengan bayangan orang lain yang sekiranya membuat diri nona tenang. Contohnya dengan mengganti bayangan ibu nona. Saya yakin jika nona membayangkan dan terus memikirkan tentang ibu nona, nona akan lebih tenang daripada saat memikirkan tentang tuan Adam. Begitu pula saat nona tengah membenci Yola, mulai sekarang cobalah untuk berpikir positif tentang Yola jangan berpikir yang negatif tentang dia. Mencoba lah untuk merubah semua yang ada di diri nona. Jika nona membenci orang, pikirkan hal positif tentang orang yang nona benci. Dan saat hati Nona tengah dirisaukan dengan seseorang, lupakan orang itu, jauhkan orang yang sudah membuat risau nona dari pikiran dan hati nona. Mulai sekarang rubah semuanya, saya disini akan membantu Nona untuk merubahnya," sambung psikiater tersebut panjang lebar.


Dimana ucapan dari psikiater itu seakan-akan menghipnotis Kenza hingga membuat perempuan yang sedari tadi diam dan menyimak semua ucapan dari psikiater tadi kini ia menganggukkan kepalanya.


"Aku akan mencoba untuk merubah semuanya mulai sekarang," ucap Kenza yang membuat psikiater itu tersenyum lalu memeluk tubuh Kenza yang dibalas pelukkan juga oleh perempuan itu. Tapi tanpa disangka-sangka jika saat ini Kenza tengah meneteskan air matanya. Entah kenapa ada rasa sakit juga lega didalam dirinya saat mengucapakan jika ia ingin merubah semuanya yang ada di dirinya mulai saat ini.

__ADS_1


__ADS_2