
Yola terus berlari bahkan saking tak sabarannya dia untuk menunggu lift, ia sampai menggunakan tangga darurat yang ada di gedung apartemen tersebut. Dan dengan nafas yang tersengal-sengal Yola akhirnya sampai di basemen gedung tersebut.
Ia kini mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Adam. Dimana tatapan matanya kini berhenti saat ia melihat mobil Adam yang sudah mulai keluar dari deretan mobil milik orang lain tersebut.
Dimana hal itu membuat Yola memelototkan matanya sebelum dirinya berlari dan dengan ide yang benar-benar sangat membahayakan dirinya sendiri. Yola kini menghadang laju mobil Adam itu secara mendadak. Dan apa yang dilakukan oleh Yola itu membuat Adam terkejut hingga ia kini mengerem mobilnya secara mendadak. Dan karena hal itu membuat kepala Adam sampai terkantuk di stir mobil tersebut.
Adam yang merasakan pusing di kepalanya itu, ia justru tak mempedulikan hal itu. Dan ia memilih untuk segera turun dari dalam mobilnya, menghampiri Yola dan memeriksa keadaan calon istrinya yang kini tengah menutup matanya itu dengan posisi yang masih merentangkan tangannya.
Dimana rentangan tangan itu membuat Adam langsung masuk kedalam pelukan Yola dengan kaki yang bergetar hebat kala ia baru saja melihat posisi mobilnya yang hampir sejengkal lagi, mobil yang ia kendarai tadi menabrak tubuh belahan jiwanya itu.
Dan berkat dari pelukan Adam tadi membuat Yola perlahan membuka matanya kembali.
"Ehhhh aku belum mati?" Beo Yola yang membuat Adam langsung melepaskan pelukannya itu kemudian ia menepuk pelan bibir Yola itu.
"Jaga ucapanmu itu. Dan apa yang kamu lakukan tadi hmmm? Kenapa kamu tiba-tiba berdiri di depan mobilku? Apa kamu tau, jika saja aku tadi tidak sigap untuk mengerem atau malah aku salah menginjak gas, nyawa kamu akan melayang di tanganku sendiri. Dan jika hal itu terjadi aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," ucap Adam yang benar-benar marah dengan aksi Yola tadi.
Yola yang melihat kemarahan Adam itu pun ia menundukkan kepalanya dengan berkata, "Maafkan aku. Aku tadi hanya berniat untuk menghentikanmu."
"Kalau kamu mau menghentikanku bukan seperti tadi caranya. Ada cara lain yang bisa kamu lakukan. Kamu punya ponsel kan, kamu juga punya dan menyimpan nomor ponselku. Kamu bisa menggunakan alat canggih itu untuk menghubungiku. Dan dari situ kamu bisa menghentikanku. Bukan dengan cara kamu membahayakan nyawa kamu sendiri. Astaga," kata Adam yang berusaha untuk tidak meninggikan suaranya. Walaupun jujur saja ia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya saat ini juga.
"Maafkan aku," ucap Yola yang tak bisa mengatakan sesuatu yang lain selain kata maaf karena ia mengakui jika dia bersalah.
Adam tampak memejamkan matanya dengan kepala yang menengadah serta helaan nafas berkali-kali yang terdengar jelas di telinga Yola itu. Dimana hal itu semakin membuat Yola semakin takut saja dan ia juga semakin tak berani menatap Adam yang mungkin sekarang tengah memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat-sangat menyeramkan, pikir Yola.
__ADS_1
Sedangkan Adam yang merasa jika emosi yang berada didalam dirinya sudah berkurang pun ia menatap kembali kearah Yola yang masih setia menundukkan kepalanya itu. Sebelum Adam kini memeluk tubuh calon istrinya dengan sangat erat.
"Tolong, aku benar-benar meminta tolong kepadamu sayang untuk tidak mengulangi hal yang membahayakan seperti tadi. Aku benar-benar meminta kepadamu, sayang. Jadi tolong menurutlah kepadaku untuk sekali ini saja," ucap Adam yang benar-benar memohon kepada calon istrinya itu.
Yola yang tadinya menundukkan kepalanya, ia kini meletakkan dagunya di bahu Adam dan dengan mata yang berkaca-kaca, ia menganggukkan kepalanya.
"Aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi. Dan maafkan aku yang sudah bertindak bodoh seperti tadi," ujar Yola yang sangat menyesal telah melakukan hal gila tadi dan berujung membuat Adam marah besar kepadanya.
"Iya, aku memaafkanmu. Tapi jika kamu mengulanginya lagi, aku tidak akan segan-segan untuk tidak memberimu maaf lagi. Kamu mengerti sayang?" Adam melepaskan pelukannya tadi lalu kedua tangannya kini menangkup wajah cantik Yola.
"Ya, aku mengerti," ucap Yola yang membuat Adam kini tersenyum kearahnya. Sebelum tangannya kini bergerak untuk menghapus keringat yang berada di kening Yola itu.
"Apa kamu habis lari maraton sayang sampai kamu mengeluarkan keringat seperti ini?" tanya Adam penasaran, apa yang baru saja terjadi kepada kekasihnya itu?
"Ya benar sekali aku habis lari maraton dari lantai lima sampai sini, dan sepanjang aku berlari, aku menuruni puluhan anak tangga," jawab Yola.
"Kalau aku nungguin lift, yang ada kamu sudah pergi duluan. Jadi terpaksa aku pakai tangga darurat dan untungkan aku masih bisa menahan kamu untuk pergi sendiri ke kampus tempatku belajar." Adam yang mendengar ucapan dari kekasihnya itu, ia menggelengkan kepalanya.
"Ya kan memang aku harus pergi sendiri ke kampus kamu itu bukan kah kamu tidak mau ikut?" Yola kini berdecak.
"Itu niatku tadi. Tapi kalau sekarang aku sudah berubah pikiran," jawab Yola.
"Jadi?" tanya Adam.
__ADS_1
"Ya jadi aku memutuskan untuk ikut kamu ke kampus. Kita akan mengklarifikasi fitnah yang di berikan oleh Kenza itu kepada kita," ucap Yola.
"Kamu yakin akan keputusanmu itu?" tanya Adam untuk memastikan.
"Ya, aku yakin."
"Kamu tidak takut dengan ucapan orang-orang disana yang mungkin masih mencemoohmu?" Yola tampak menggigit bibir bawahnya.
"Kalau kamu takut, kamu di apartemen saja tidak apa-apa. Dan biar aku sendiri saja yang menyelesaikan permasalah itu," ucap Adam dengan mengelus kepala Yola.
Namun sesaat setelahnya, Yola menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku mau ikut ke sana. Aku tidak akan takut mereka mencemoohku lagi selagi ada kamu disisiku," tutur Yola.
"Aku juga tidak mau kamu nanti tercantol perempuan lain di sana," sambung Yola dengan suara lirihnya. Tapi suaranya itu masih bisa didengar oleh Adam hingga membuat laki-laki itu kini terkekeh dengan tangan yang kini bergerak untuk mencubit gemas pipi calon istrinya itu.
"Berubah haluan untuk mencintai orang lain selain kamu itu tidak semudah membalikkan tangan sayang. Kamu juga tau sendiri kan bagaimana sulitnya aku luluh dengan seorang perempuan. Jadi kamu tidak perlu khawatir, ada atau tidak adanya kamu di sampingku saat aku di kampusmu nanti, tidak akan bisa merubah cintaku untukmu. Aku sudah benar-benar jatuh cinta sama kamu, sayang. Jadi tidak akan ada perempuan lain yang bisa membuat hatiku goyah," ucap Adam.
"Yakin?" Adam menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja. Jadi kamu benar-benar siap untuk datang ke kampus hari ini?" Yola tampak menghela nafas panjang sebelum dirinya kini menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang. Tenang saja aku akan selalu ada di sampingmu, akan melindungimu jika mereka nanti mencemoohmu," ujar Adam sembari menggandeng tangan Yola dan membawanya mendekati ke pintu kursi penumpang yang berada di samping kemudi.
__ADS_1
Dan setelahnya ia membuka pintu untuk calon istrinya itu.
"Masuk sayang," ucap Adam yang diangguki oleh Yola dan saat Yola sudah masuk, barulah Adam menutup pintu mobil itu kembali, lalu setelahnya ia berlari kecil memutari mobil tersebut sebelum ia masuk ke kedalam mobilnya tepat di kursi kemudi.