
Kini mobil yang dikendarai oleh Yola telah berhenti saat sampai di apartemen Adam, dimana di gedung itu juga dulu Yola pernah memiliki sebuah apartemen untuk memata-matai Adam namun apartemen tersebut sekarang sudah ia jual.
"Sudah sampai. Mari kita turun dokter Adam," ucap Yola sembari melepaskan seat belt-nya. Namun saat dirinya sudah membuka pintu mobil disampingnya, pergerakannya terhenti saat ia tak merasakan adanya pergerakan dari tubuh Adam. Dan saat ia menolehkan kepalanya kearah kursi samping kemudi dimana Adam duduk di sana, ia melihat jika mata Adam kini tertutup rapat.
Yola yang awalnya ingin turun terlebih dahulu pun ia urungkan niatnya dan dirinya memilih untuk menghadap sepenuhnya kearah Adam dengan tangan yang terulur untuk menyentuh kening laki-laki tersebut.
"Stttt ya ampun panas banget. Dia demam begini masih nekat buat ke rumah sakit, astaga," gumam Yola karena ia sudah yakin jika Adam sakit bukan secara tiba-tiba melainkan sudah sejak pagi tadi. Namun ia tak habis pikir, kenapa Adam masih saja memaksakan dirinya untuk masuk kerja disaat dirinya sakit seperti ini. Dan apa yang akan ia lakukan sekarang? Yola bingung sendiri jadinya. Mau membangunkan Adam atau membiarkan laki-laki itu tetap tidur dulu di mobil itu dan setelah bangun baru mereka masuk kedalam apartemen. Tapi sepertinya Yola tak akan tega melihat Adam yang terlihat tak nyaman tidur didalam mobil itu. Dan hal tersebut membuat Yola mau tak mau ia harus membangunkan Adam sekarang juga. Karena tak mungkin ia membopong tubuh Adam yang beratnya saja jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
"Dokter Adam," panggil Yola dengan tangan yang ia gunakan untuk mengelus lengan Adam.
"Dokter Adam, kita sudah sampai di apartemen dokter. Jadi bangun dulu ya. Tidurnya disambung nanti kalau sudah sampai didalam apartemen," ucap Yola. Namun apa yang ia lakukan itu sama sekali tak membuat Adam terusik dari tidurnya. Ehhhh tunggu, Adam sekarang tengah tidur atau justru pingsan? batin Yola. Dan hal tersebut membuat Yola kini menjadi khawatir saja.
"Dok, bangun ihhh. Jangan bikin saya khawatir dok," ujar Yola yang kini mulai menggoyangkan lengan Adam. Tapi lagi-lagi Adam tak memberikan respon apapun kepada Yola.
"Dokter. Please bangun." Hening, tak ada jawaban dari Adam yang berhasil membuat Yola kini mulai panik.
"Dokter ihhhh. Jangan pingsan dulu dong. Kalau dokter pingsan saya harus gimana? Saya gak bisa gendong dokter masuk kedalam apartemen. Dokter bangun," ucap Yola yang semakin kencang menggoyangkan lengan Adam.
__ADS_1
"Astaga. Ini fiks sih dokter Adam pingsan. Kalau begini aku harus gimana. Panggil ambulance buat kesini? Atau memberi nafas buatan saja? Ahhhh tidak-tidak memangnya kamu pikir Dokter Adam habis tengelam, gimana sih Yola ini astaga," geram Yola pada dirinya sendiri yang benar-benar tak bisa ia andalkan saat terjadi masalah genting seperti ini.
Padahal tanpa Yola ketahui, jika Adam sebenarnya sedang tidak pingsan melainkan laki-laki itu memang memiliki niatan untuk mengerjai Yola. Bahkan saat dirinya mendengar jika Yola ingin memberikan nafas buatan untuknya, didalam hatinya, Adam sudah bersorak gembira. Namun setelah Yola membatalkan rencananya itu, Adam benar-benar kecewa. Gagal sudah ia bisa merasakan sensasi bibir Yola yang entah sejak kapan sangat menarik di mata Adam itu. Tapi sebisa mungkin Adam harus menyembunyikan kekecewaannya itu karena ia masih ingin mengerjai Yola saat ini.
"Ya Tuhan Yola bingung mau berbuat apa sekarang. Hiks, kalau dokter Adam terus pingsan seperti ini, Yola takut nanti dokter Adam kebablasan tidurnya alias tidur selamanya alias nyawanya sudah tidak ada didalam raganya," ucap Yola yang membuat Adam langsung membuka matanya kemudian tangannya kini bergerak untuk menyentil bibir Yola yang sudah seenaknya berbicara itu.
"Kalau bicara itu yang baik-baik saja. Jangan bicara sembarangan seperti tadi. Kalau sampai ada malaikat lewat terus ucapanmu itu di aamiinkan sama malaikat gimana hmmm?" ucap Adam menegur.
"Kamu mau saya benar-benar mati saat ini juga?" sambung Adam yang di balas gelengan kepala oleh Yola.
Dan tanpa Adam duga, tubuh Yola kini langsung memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"Hiks maaf karena saya tadi tidak menjaga ucapan saya. Saya benar-benar khawatir dengan Dokter yang pingsan tadi. Saya bingung harus berbuat apa dan saya takut jika Dokter kenapa-napa. Tapi syukurlah dokter Adam sekarang sudah siuman, hiks," ucap Yola dengan sesenggukan.
Adam tersenyum kala ia mendengar perkataan Yola tadi. Lalu setelahnya ia melepaskan pelukannya dari Yola itu kemudian tangannya kini bergerak untuk menangkup kedua pipi gadis dihadapannya itu. Ia menatap manik mata hitam milik Yola tersebut sembari berkata, "Kamu tidak perlu khawatir sekarang karena saya sudah baik-baik saja. Jadi jangan menangis lagi oke."
Yola berhenti menangis, ia seperti terhipnotis dengan kata-kata dan tatapan mata Adam saat laki-laki itu tadi tengah berbicara dengannya. Bahkan rasa resah yang sedari tadi mengendap dihatinya kini dengan seketika hilang begitu saja.
__ADS_1
"Udah ya jangan nangis. Dan lebih baik kita masuk kedalam sekarang," ucap Adam setelah tangannya selesai mengusap sisa air mata Yola di pipi perempuan tersebut.
Yola dengan patuh ia menganggukkan kepalanya. Lalu setelah mendapat anggukan persetujuan dari Yola tadi, Adam segara turun dari mobilnya begitu juga dengan Yola.
Tak lupa sebelum mereka benar-benar masuk kedalam gedung apartemen tersebut, Adam mengambil belanjaan Yola tadi.
"Biar saya saja yang membawanya dok," ucap Yola dengan tangan yang sudah bergerak untuk meraih satu kantong plastik tadi. Namun sebelum tangannya berhasil merebut plastik itu Adam sudah menjauhkannya dari jangkauan Yola.
"Biar saya saja," ucap Adam.
"Tapi dokter Adam sekarang kan tengah sakit. Jadi biar saya saja ya yang membawa barang belanjaan itu." Adam menghentikan langkah kakinya yang otomatis membuat Yola juga berhenti.
Adam menatap lekat manik mata Yola sebelum dirinya kini bersuara.
"Dengar ya Yola, saya hanya pusing biasa bukan sedang mengalami sakit parah. Jadi tidak masalah jika saya hanya membawa barang belanjaanmu ini. Dan lebih baik kamu sekarang diam saja. Jangan meminta barang ini untuk kamu bawa sendiri. Biarkan saya yang bawa," ucap Adam yang sudah tak mau mendengar bantahan dari Yola sama sekali. Lalu setelah mengucapkan hal tersebut Adam segara melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Yola, perempuan itu kini hanya bisa menghela nafas panjang sebelum kakinya ia langkahkan mengikuti langkah Adam yang sudah menjauh darinya itu.
__ADS_1