Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 54


__ADS_3

"Kamu yakin tidak mau saya antar saja sampai ke rumah kamu?" tanya Adam kala dirinya dan Yola telah sampai di rumah sakit tepat pada pukul setengah 7 pagi.


"Lain kali aja Kak. Lagian saya kan pakai mobil sendiri kemarin kesininya. Nanti kalau saya pulang sama Kakak terus sampai dirumah ditanya sama Mama kemana mobil saya, masa saya jawab saya tinggal di rumah sakit. Yang ada saya langsung kena omel 7 hari 7 malam nanti," ujar Yola yang membuat Adam kini menghela nafas. Laki-laki itu tampaknya tak rela harus berpisah dari Yola. Ingin sekali ia mengurung dirinya bersama Yola di apartemennya tadi. Tapi mengingat Yola harus pergi ke kampus dan dia juga tidak bisa egois karena dia sadar dia tidak ada hak untuk menahan Yola tetap berada di sampingnya pun ia urungkan niatnya tadi. Dan berakhirlah dia merasa tak ikhlas melihat Yola pulang ke rumahnya sendiri.


"Ya sudah. Tapi nanti pulang kuliah saya jemput. Kamu dari rumah di antar supir saja. Dan sekalian kita makan siang sekaligus bertemu dengan pemilik apartemen sebelumnya untuk mengambil kunci apartemen itu beserta surat-suratnya," ucap Adam yang diangguki oleh Yola.


"Siap deh. Kalau gitu saya pulang dulu ya Kak. Saya kabari nanti kalau sudah sampai dirumah. Bye Kak, semangat bekerja," ujar Yola sembari melangkahkan kakinya menuju kearah mobilnya tak lupa ia melambaikan tangan kearah Adam yang dibalas lambaian juga dari laki-laki itu.


Tapi baru saja Yola membuka pintu mobil miliknya, ia menutup kembali pintu tersebut kemudian ia memutar tubuhnya menghadap kearah Adam kembali sebelum dirinya berlari menuju kearah Adam.


Adam yang melihat hal itu pun ia tersenyum sembari merentangkan tangannya. Ia pikir Yola akan memeluknya seperti di sinetron-sinetron saat sepasang kekasih yang akan berpisah. Namun ternyata tebakkannya itu salah, pasalnya saat Yola telah sampai dihadapannya, bukannya langsung memberikan pelukan ke Adam, perempuan itu justru berhenti tegak di depan Adam dengan menatap lekat wajah laki-laki itu sebelum ia berjinjit agar tangannya bisa menggapai kening Adam.


"Huftttt suhunya sudah normal," ucap Yola setelah tangannya menyentuh kening Adam. Dan hal tersebut membuat Adam melongo tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Yola tadi.


"Kamu berlari menghampiri saya tadi hanya untuk memeriksa suhu badan saya?" tanya Adam yang diangguki oleh Yola.


"Astaga," kata Adam dengan menepuk keningnya sendiri.


Yola yang melihat hal itu pun ia mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kak Adam kenapa? Wajah Kak Adam kayak kecewa gitu?" tanya Yola yang tak peka dengan keinginan laki-laki dihadapannya itu.


"Tidak. Saya tidak kenapa-napa. Kamu segeralah pulang sana," ucap Adam dengan wajah yang sangat tak enak dipandang.


"Baiklah, Saya pulang dulu. Bye Kak," ujar Yola yang dibalas dengan deheman oleh Adam dan hal tersebut membuat Yola tak suka.


"Kok Kak Adam cuma balas hmmm aja sih?" protesnya.


"Terus harus jawab apa?" tanya Adam ketus.


"Ehhhh ya udah lah gak papa. Jawab hmmm saja saya sudah bersyukur. Kalau gitu saya pulang," ujar Yola lalu setelahnya ia memutar tubuh dan kembali berjalan menuju kearah mobilnya.


Adam yang melihat itu pun ia berdecak sebelum dirinya yang kini berlari, lalu kemudian...


Adam memeluk tubuh Yola dengan begitu erat.


"Bisakah kamu tetap disini saja Yola?" Yola yang terkejut itu pun ia kini mengerjabkan matanya kala suara syahdu Adam menerpa telinganya.


"Saya tidak rela jika harus berjauhan denganmu," ucap Adam.

__ADS_1


"Jadi tetaplah di sini. Menemani saya bekerja sampai saya pulang dan kita akan tinggal satu apartemen lagi seperti kemarin," sambungnya yang membawa Yola kini berdehem sesaat untuk menetralkan detak jantungnya itu sebelum dirinya membalas ucapan dari Adam tadi.


"Ehemmm Kak, bukannya aku ehhhh saya tidak mau menemani Kak bekerja disini. Saya mau banget malahan, tapi kan saya harus pulang kerumah dulu, takut orang rumah khawatir. Walaupun saya kemarin sudah memberitahu keberadaan saya tapi saya tidak menjamin kalau keluarga saya terutama Mama tidak mengkhawatirkan saya. Saya juga harus masuk kuliah pagi ini. Saya mau sukses sama seperti Kakak. Jika Kakak menjadi dokter maka saya ingin sukses dengan menjadi seorang desainer terkenal. Biar saya nanti bisa mengimbangi Kakak," jelas Yola dengan begitu lembut jangan lupakan ia juga mengusap-usap tangan Adam yang melingkar di perutnya.


"Toh kita nanti siang juga akan bertemu lagi. Jadi biarkan saya pulang dan kuliah dulu ya," sambung Yola.


"Janji deh besok kalau saya tidak ada jadwal kuliah, saya temani Kak Adam kerja dari pagi sampai selesai. Gimana Kak Adam mau kan?" ucap Yola yang masih berusaha membujuk Adam.


Terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari hidung Adam sebelum laki-laki itu melepaskan pelukannya itu yang membuat Yola kini memutar tubuhnya agar bisa menghadap wajah Adam.


"Baiklah, aku mengizinkanmu untuk pergi sekarang. Tapi janji kamu tadi harus kamu tepati. Dan satu lagi ubah panggilan yang awalnya saya menjadi aku. Karena aku lebih nyaman pakai bahasa aku-kamu daripada saya-kamu," tutur Adam yang diangguki setuju oleh Yola dengam senyuman manis dibibirnya yang tak pernah ketinggalan.


"Ya sudah kalau begitu hati-hati dijalan. Aku tunggu kabar kamu saat kamu sampai di rumah nanti," ucap Adam.


"Siap. Kak Adam semangat kerjanya. Kalau masih pusing jangan dipaksain, oke?" Adam menganggukkan kepalanya. Dan setelah Yola melihat anggukan kepala itu pun ia memutar tubuhnya namun saat dirinya ingin beranjak, lengannya dicekal oleh Adam.


Yola menghela nafas panjang, sebegitu sulit kah Adam melepaskan dirinya untuk pergi saat ini juga. Yola kini memutar tubuhnya kembali dan sebelum dirinya melayangkan sebuah pertanyaan, Adam kembali memeluknya sesaat sebelum laki-laki itu melepaskannya. Dan tanpa Yola duga-duga saat kedua tangan Adam mendarat di pipinya, saat itu juga Adam memberikan kecupan di keningnya dan kedua pipinya berkali-kali hingga membuat nafas Yola seakan tercekat. Sudah dibilang bukan jika Yola tidak akan pernah kuat jika mendapat perlakuan manis dari Adam karena dirinya akan berubah menjadi jeli setelahnya.


"Sudah. Pergi sana gih," ucap Adam setelah dirinya berhasil membuat wajah Yola memerah. Yola yang sudah tak bisa berkata apapun, ia dengan kaki yang bergetar hebat berjalan menuju ke mobilnya meninggalkan Adam yang masih berdiri di tempat sebelumnya dengan melambaikan tangannya kearah Yola. Bahkan sampai Yola masuk kedalam mobilnya dan menjalankan mobil itu secara perlahan, Adam masih tetap melihatnya hingga mobil itu kini hilang dari penglihatan laki-laki itu.

__ADS_1


Dan saat Adam tak melihat lagi mobil Yola, ia tersenyum sangat lebar.


"Vitamin dipagi hari," gumam Adam dengan begitu bahagia karena sudah mencium Yola sepuasnya tadi.


__ADS_2