
Sejak penangkapannya tadi malam, Kenza masih uring-uringan didalam penjara itu. Walaupun dirinya sudah tidak berteriak seperti sebelumnya, tapi ia masih ngedumel dengan sesekali ia menumpati para polisi yang menjaga dirinya. Bahkan semalam dirinya tidak tidur sedikitpun.
Dumelan Kenza terhenti kala ia melihat ada seorang polisi yang menghampiri dirinya dengan sepiring makanan di tangannya. Ia menatap polisi itu dengan tajam tak lupa kedua tangannya bersedekap di depan dada.
"Sarapan kamu. Makan lah," ucap polisi tadi dengan membuka sedikit pintu penjara tersebut dan setelah dirinya menaruh makanan dan minuman untuk Kenza, pintu itu ia tutup kembali.
Sedangkan Kenza, perempuan itu menatap sekilas makanan dan minuman tersebut sebelum...
Prankkkk!
Piring yang berisi makanan tadi ia tendang hingga makanan yang berada didalam piring tadi jatuh berhamburan kemana-mana. Tak hanya piring yang menjadi sasaran empuk Kenza itu, melainkan gelas yang berisi air putih pun juga melayang hingga pecah menjadi beberapa bagian.
"Kamu mau bikin aku sakit perut dengan memakan makanan murahan seperti itu hah? ngotak sedikit dong, makanan itu tidak sepantasnya untukku tapi untuk rakyat jelata yang ada di penjara sini juga. Dan makanan yang pantas untukku paling rendah ya ayam goreng. Jika kalian tidak mampu membelikanku makanan mahal ya belikan aku ayam goreng yang harganya murah itu. Jangan cuma tahu, tempe sama sop bayam seperti tadi. Dan minuman apa tadi yang kamu berikan? Air putih? Kamu harus memberiku susu untuk sarapan bukan air putih yang entah darimana kamu dapatkan yang belum tentu bersih. Sialan, kamu benar-benar sialan ingin membuat perutku sakit dengan makanan dan minuman itu," marah Kenza.
"Jangan pilih-pilih makanan. Syukur-syukur kamu disini di beri makan dan untuk kebersihan air putih yang saya berikan tadi sudah terjamin kebersihannya. Jangan manja karena kamu sekarang tengah berada di lapas bukan di rumah kamu sendiri yang bisa seenaknya memerintah pembantumu. Kamu juga bukan tengah berada di hotel bintang 5 yang semua keinginanmu dengan senang hati para karyawan pekerja hotel menurutinya. Tapi sekali lagi saya tegaskan kamu itu tengah berada di lapas yang entah kamu dari kalangan orang berada ataupun tidak maka kita semua yang ada disini tidak memberikan keistimewaan untukmu karena kamu setara dengan penghuni lapas yang lainnya. Tidak ada yang perlu kita istimewakan. Jadi bersyukurlah karena kita masih memperhatikan tentang kebutuhan pokokmu," balas polisi tersebut.
__ADS_1
"Sialan! Tapi setidaknya kamu tanggungjawab karena kamu yang sudah mengurungku di tempat jelek itu. Jika kamu tidak mau menuruti semua keinginanku, maka keluarkan aku sekarang juga!" teriak Kenza.
Polisi yang mendengar ocehan dari Kenza pun ia menghela nafas panjang. Dirinya tidak mau membalas ucapan Kenza tadi karena jika ia membalas pasti urusannya akan semakin panjang dan membuat waktunya terbuang. Dan daripada hal itu terjadi, dirinya memilih untuk menjauh dari depan penjara Kenza itu tanpa mempedulikan teriakan Kenza.
"Heyyy sialan! Mau kemana kamu?! Urusan kita belum selesai! Kembali!" teriak Kenza yang hanya diabaikan oleh polisi tadi.
Sedangkan disisi lain, Om Harun baru sampai di kantor polisi yang paling dekat dengan lokasi apartemen milik Kenza. Dimana kantor polisi itu tepat di tahannya Kenza.
"Selamat pagi," sapa ketua kepolisian di kantor polisi tersebut.
"Selamat pagi. Saya akan langsung mengucapakan tujuan saya kesini. Saya mau menjemput putri saya yang tadi malam pihak kepolisian tangkap dengan tuduhan penganiayaan yang bernama Kenza," ucap Om Harun to the point.
"Membawa anak saya pulang ke rumah lah memangnya menjemput itu bisa di artikan lain begitu?" ucap Om Harun yang emosinya masih meletup-letup.
"Maaf Pak, tidak bisa. Tersangka Kenza tidak bisa bapak bawa pulang jika pihak pelapor tidak mencabut tuntutannya dan jika hakim memutuskan dia tidak bersalah," kata ketua polisi tersebut yang membuat Om Harun berdecak kesal.
__ADS_1
"Kamu tenang saja saya akan menjamin keluarnya anak saya dengan nominal yang tinggi sesuai dengan kemauanmu. Jika perlu saya akan memberikan uang sendiri kepadamu," ujar Om Harun mencoba untuk menyogok pihak kepolisian itu.
Ketua kepolisian yang berhadapan langsung dengan Om Harun hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari laki-laki paruh baya didepannya itu sebelum dirinya membalas ucapan Om Harun tadi.
"Maaf Pak, kita tidak menerima sogokan dalam bentuk apapun. Hukum di negara kita akan tetap berlaku untuk seseorang yang bersalah dan melakukan kesalahan. Uang bukan segalanya untuk kita pak, tapi keadilan untuk masyarakat yang mengalami kejahatan lebih penting dari uang yang bapak ingin berikan tadi. Apalagi kasus anak bapak ini sudah sangat-sangat berbahaya, menyangkut nyawa seseorang. Banyak pasal-pasal yang anak bapak langgar. Kita akan tetap memproses kasus ini secara hukum seperti yang diinginkan oleh pihak pelapor. Jika saat persidangan nanti anak bapak di nyatakan tidak bersalah, silahkan bawa anak bapak pergi tapi jika anak bapak dinyatakan bersalah, maka dia akan tetap kita penjara sesuai dengan hukum yang berlaku," jelas ketua kepolisian itu masih dengan sabar menghadapi manusia yang ingin menang sendiri itu.
Dan ucapan dari ketua kepolisian itu membuat Om Harun mengepalkan kedua tangannya dengan gigi yang bergemeletuk.
"Kalau memang anak saya di pengadilan dinyatakan tidak bersalah maka saya yang akan menuntut kamu dan semua orang yang terlibat dalam kasus ini termasuk pelaporan sialan itu," ujar Om Harun yang diangguki oleh ketua kepolisian itu.
"Silahkan laporkan saja, jika memang itu kemauan bapak. Tapi jika anak bapak itu benar-benar bersalah, bapak harus legowo menerimanya karena bukti yang sudah kita terima mengacu jika anak bapak akan berakhir di dalam penjara," kata ketua polisi tersebut yang sepertinya sudah mulai terpancing emosinya.
"Halah palingan bukti yang kalian terima itu adalah hasil dari editan pihak pelaporan saja. Karena saya yakin anak saya tidak akan pernah melakukan hal tersebut."
"Terserah bapak mau percaya atau tidak. Kita tunggu saja keputusan hakim nanti. Dan saya mau memberitahu bapak jika anak bapak bukan hanya mendapat tuduhan sebagai tersangka akan penganiayaan yang dia lakukan. Tapi dia juga dilaporkan dalam masalah pencemaran nama baik oleh tuan Adam Geovano Abhivandya sudah satu Minggu yang lalu," ujar ketua polisi tersebut yang membuat Om Harun terkejut bukan main saat dirinya mendengar jika Adam juga melaporkan anaknya ke pihak kepolisian.
__ADS_1
"Jangan bohong kamu!"
"Saya hanya memberitahu anda saja jika anak anda itu sudah sepantasnya mendapatkan hukuman dan bimbingan dari kita. Karena anak anda benar-benar trouble maker dan sangat membahayakan," ucap ketua kepolisian yang membuat Om Harun semakin mengepalkan kedua tangannya.