
Sesuai dengan apa yang ia katakan dengan kedua orangtuanya tadi, Adam kini berada di rumah sakit dengan perban yang masih menempel di pelipisnya. Ia terus berjalan menuju ke ruang inap Heila dengan sesekali ia membalas sapaan para suster dan dokter yang berpapasan dengannya.
Adam terus berjalan hingga akhirnya ia sudah sampai di depan ruang inap Heila. Ia menyempatkan dirinya untuk mengetuk pintu ruang inap tersebut.
Tok tok tok!
Tristan yang saat itu tengah memeriksa keadaan Heila yang belum juga sadarkan diri dari kemarin pun ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara sebelum dirinya kini berjalan mendekati pintu tersebut untuk ia buka.
Dan saat pintu itu terbuka lebar ia bisa melihat sosok sahabatnya berdiri di depannya itu.
"Lho Adam. Kok kamu kesini? Sudah pulih kah?" tanya Tristan.
"Kalau aku sudah sampai disini berarti aku memang sudah pulih. Dan bagaimana dengan keadaan Heila sekarang?" ucap Adam dengan tatapan yang lurus kedepan dimana disana ada brankar yang berisi Heila di atasnya.
"Masuk saja dan lihat sendiri kondisinya," ujar Tristan mempersilahkan masuk Adam.
Adam menganggukkan kepalanya sebelum kakinya bergerak mendekati brankar Heila.
Adam yang sudah berada di samping Heila dan melihat langsung kondisi Heila pun ia memejamkan matanya.
"Ternyata bukan hanya gagar otak ringan saja yang dia alami tapi tulang hidung dia juga mengalami keretakan," jelas Tristan yang baru mendapatkan kabar itu tadi pagi oleh dokter yang menangani Heila kemarin.
"Ya Tuhan. Terus apa dia sekarang tengah koma? Kenapa dia belum sadar juga?"
"Dia tidak koma hanya pingsan saja tapi entahlah kenapa dia belum juga sadar sampai sekarang," jawab Tristan.
__ADS_1
"Ya sudah biarkan dia istirahat terlebih dahulu. Dan aku mau tanya sama kamu, darimana kamu tau jika Heila dianiaya oleh wanita gila itu? Apa kamu lihat secara langsung?" Tanya Adam penasaran. Dan hal tersebut membuat Tristan menghela nafas panjang.
"Aku tidak melihat secara keseluruhan Kenza menganiaya Heila, tapi aku melihat Kenza mengayunkan pisau yang dia bawa ke Heila." Tristan menyambung ucapannya itu dengan menceritakan apa yang telah ia lihat dan kenapa dirinya bisa berada di apartemen itu untuk menolong Heila.
"Tapi aku belum tau motif dari penganiayaan ini terjadi," sambung Tristan sekaligus untuk mengakhiri ceritanya itu.
"Untuk motifnya sepertinya kita hanya bisa tanya langsung dengan salah satu pihak terkait. Kita tanya saja pada Heila jika dia nanti sudah sadar karena keteranganmu tadi pasti akan sangat berguna untuk di pengadilan nanti. Dan aku yakin kamu akan menjadi saksi dalam kejadian ini. Jadi kita tanyakan secara detail kronologi kejadian itu kepada Heila nanti," ucap Adam yang diangguki oleh Tristan.
Dan setelah percakapan itu berakhir, tak ada lagi percakapan dari dua laki-laki tampan itu karena dua-duanya tengah melihat kearah Heila. Hingga tak berselang lama, terlihat kelopak mata Heila bergerak sebelum akhirnya kelompok mata itu perlahan terbuka.
Tristan yang melihatnya pun ia segera memeriksa keadaan Heila. Sedangkan Adam yang paham akan situasinya pun ia bergegas minggir bahkan menjauh dari samping brankar Heila tadi.
Heila yang baru tersadar dan tau jika dirinya diruangan itu tidak sendirian pun ia menolehkan kepalanya kearah Tristan yang kini tengah tersenyum kearahnya.
"Selain kepala dan hidung, apa kamu merasakan rasa sakit di bagian tubuhmu yang lain?" tanya Tristan kepada Heila.
"Dimana? Katakan saja!" ujar Tristan.
Dengan perlahan Heila menunjuk ke bagian dadanya yang begitu sesak saat bayang-bayang kejadian tadi malam terlintas di pikirannya itu.
"Ehhh disitu?" ucap Tristan yang diangguki oleh Heila.
"Sa---sakit," kata Heila.
"Sakit ya, tahan sebentar oke. Kita rontgen dibagian situ dulu yuk. Biar tau penyebab sakit di dada kamu itu." Heila menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lho kenapa tidak mau, hmmm?" tanya Tristan dengan mengelus puncak kepala Heila dengan sangat lembut. Tapi apa yang di lakukan oleh Tristan itu membuat Heila justru mengeluarkan air matanya. Dan hal tersebut membuat dirinya panik seketika.
"Lho ini kenapa malah menangis? Sakitnya semakin parah ya? Makanya ayo kita ke ruang rontgen dulu biar kita tau penyebab sakit itu dan biar saya bisa segara memberikan obat untuk menyembuhkan sakit kamu itu," ujar Tristan yang lagi-lagi di balas gelengan kepala oleh Heila. Dan hal tersebut membuat Tristan menghela nafas panjang. Kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Adam yang sekarang tengah duduk manis disalah satu sofa di dalam ruangan tersebut.
Adam yang sedari tadi melihat keromantisan antara dua anak manusia di depannya pun ia kini mengangkat sebelah alisnya saat melihat Tristan yang tengah menatapnya.
Dan dengan pergerakan di bibirnya dan tanpa bersuara, Tristan berucap, "Bantu aku untuk membujuk dia."
Adam yang paham dengan pergerakan di bibir Tristan pun ia menggelengkan kepalanya.
"Bujuk saja sendiri," balas Adam dengan cara yang sama dengan yang Tristan lakukan untuk berkomunikasi dengannya tadi.
Dan hal tersebut membuat Tristan mendelik tajam yang dibalas gedikkan bahu oleh Adam.
Namun saat Tristan akan membalas Adam, tarikan di ujung jas dokternya membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk membalas Adam yang tampak cuek bebek itu kepadanya yang tengah kebingungan. Dan karena itu ia memilih untuk menolehkan kepalanya kearah Heila, si pelaku yang menarik ujung jas dokternya tadi.
Dan sebelum dirinya bertanya, Heila lebih dulu berucap.
"A---aku tidak perlu di bawa ke ruang rontgen karena aku tidak memiliki penyakit apapun yang berkaitan dengan area dada. Di bagian ini juga tadi malam tidak terkena apapun dari Kenza. Aku hanya merasakan sesak yang sangat menyakitkan jika harus mengingat kejadian tadi malam. Dimana dia benar-benar menginginkan nyawaku," ujar Heila pada akhirnya dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Tristan yang memang tidak tega melihat keadaan Heila pun dengan inisiatifnya sendiri, ia memeluk tubuh Heila yang masih terbaring lemah diatas brankar tersebut.
"Kalau mau menangis, menangis lah. Jangan ditahan, keluarkan semua yang membuat dadamu sesak," ujar Tristan dengan tangan yang terus bergerak mengelus puncak kepala Heila mencoba untuk menenangkan Heila yang memang tengah memerlukan tempat untuk berkeluh kesah.
Heila yang mendengar ucapan tersebut pun ia semakin terisak dengan tangan yang mencengkram erat jas dokter di punggung Tristan.
__ADS_1
Dan apa yang tengah terjadi di dalam ruangan itu tak luput dari penglihatan Adam yang sekarang tengah menghela nafasnya kala melihat adegan romantis yang Tristan dan Heila perlihatkan kepadanya.
"Sabar Adam sabar. Ini memang ujian terberatmu melihat mereka berdua tengah beradegan romantis seperti itu. Arkhhhh tidak bisa, tidak bisa. Aku juga pengen beradegan romantis seperti mereka. Yola! Aku merindukanmu!" jerit Adam didalam hatinya.