Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 57


__ADS_3

Adam menelusuri ruangan para dosen itu hingga akhirnya ia menemukan satu nama yang merupakan nama dosen yang tengah Yola temui. Dan saat tangannya bergerak untuk mengetuk pintu ruangan itu, pintu tersebut sudah lebih dulu di buka dari dalam.


Dimana saat pintu itu terbuka, Adam bisa melihat dua orang yang ingin keluar dari dalam ruangan tersebut dengan saling tertawa sebelum tawa dua orang itu yang tak lain adalah Yola dan Caka terhenti kala melihat Adam yang berdiri didepan pintu tersebut dengan wajah galaknya.


"Adam. Ngapain kamu kesini?" tanya Caka yang membuat Yola kini menolehkan kepalanya kearahnya.


"Kak Caka kenal sama Kak Adam?" tanya Yola yang diangguki oleh Caka.


"Dia teman Kakak waktu SMA dulu," jawab Caka. Dan percakapan dari dua orang itu membuat Adam panas. Hingga dengan cepat ia meraih tangan Yola dan tanpa mengucapakan sepatah kata pun untuk Caka, ia pergi dari hadapan laki-laki itu yang membuat Caka menjadi bingung sendiri. Ada apa dengan Adam yang terlihat begitu marah? Dan mau di bawa kemana Yola oleh Adam? batin Caka sebelum dirinya berlari menyusul langkah kedua orang tadi.


Namun sayang saat dirinya sampai di depan gerbang kampus tersebut, Yola sudah di bawa kabur oleh Adam. Dan hal tersebut membuat dirinya berdecak sebal.


"Kalau sampai kenapa-napa sama Yola. Aku tidak akan melepaskanmu Adam," ucap Caka dengan bergidik ngeri saat melihat laju mobil Adam yang begitu kencang itu.


Sedangkan didalam mobil, Adam tak berbicara sedikitpun kepada Yola. Matanya fokus kearah jalanan yang lumayan ramai itu tanpa memperdulikan teriakan Yola yang ketakutan dan menyuruhnya untuk berhenti.


"Kak, jangan cepat-cepat. Aku belum mau mati Kak. Aaaa!" teriak Yola disepanjang jalan. Tapi lagi-lagi Adam seakan menulikan telinganya. Ia masih saja melajukan mobilnya hingga sampai di cafe yang menjadi tempat pertemuan mereka dengan pemilik apartemen yang telah di beli Adam kemarin.


Dan tanpa menunggu Yola bahkan tak memperdulikan Yola yang wajahnya sudah pucat itu, Adam keluar dari mobil tersebut dan meninggalkan Yola di dalam mobil tersebut dengan rasa mual yang dirasakan oleh perempuan itu.

__ADS_1


Dengan perasaan yang benar-benar dongkol Adam masuk kedalam cafe, lalu berjalan mendekati pemilik apartemen yang ia beli kemarin.


Adam menghela nafasnya untuk menetralkan emosinya itu sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya didepan seorang laki-laki yang tengah tersenyum ramah kepadanya.


"Maaf karena saya tidak memiliki waktu lama, tanpa basa-basi terlebih dahulu bolehkah langsung ke intinya saja?" ucap Adam yang diangguki oleh laki-laki tersebut dengan tangan yang kini bergerak untuk menyerahkan sebuah map di hadapan Adam.


"Itu surat-surat kepemilikan apartemen. Dan ini kuncinya," ucap laki-laki tersebut.


Adam yang tak ingin ada kesalahan pun ia kini membuka map tersebut, mengecek surat-surat tersebut. Dan dirasa sudah lengkap, ia kembali memasukkan ke map.


"Oke, semuanya aman. Dan ini cek pembayarannya. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Adam sembari berjabat tangan dengan laki-laki tersebut.


"Baiklah. Hati-hati dijalan. Dan terimakasih," ujar laki-laki itu yang hanya diangguki oleh Adam kemudian ia segara meninggalkan cafe tersebut menuju ke mobilnya kembali.


Adam yang melihat hal tersebut pun, rasa marah yang tadi ia miliki langsung hilang begitu saja dan digantikan dengan rasa khawatir saat melihat kondisi Yola saat ini.


Adam kini berlari menuju kearah Yola. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat wajah pucat Yola dan sepetinya perempuan itu baru mengeluarkan isi perutnya karena terlihat ada cairan yang berada di samping tubuh Yola. Dan kekhawatiran Adam semakin tak karuan kala melihat mata Yola sudah tertutup.


"Astaga Yola," ucapanya sembari tangannya melempar map serta kunci apartemen yang akan ia serahkan kepada Yola tadi ke jok belakang mobilnya. Lalu setelahnya ia berjongkok disamping Yola.

__ADS_1


"Yola bangun heyyy," ucap Adam sembari menepuk-nepuk pipi Yola. Dan hal tersebut berhasil membuat Yola membuka matanya kembali namun mata itu tampak sayu.


Adam yang tak tega melihatnya pun ia segara membopong tubuh Yola masuk kedalam mobilnya.


"Kamu kenapa hmmmm?" tanya Adam saat dirinya telah mendudukkan tubuh Yola di kursi sebelah kemudi.


"Pusing, mual," ucap Yola dengan suara lirihnya.


"Astaga. Tahan sebentar oke. Kita ke rumah sakit sekarang," kata Adam dan saat laki-laki itu ingin menutup pintu mobil disebelah kursi Yola itu, Yola lebih dulu mencekal lengannya yang membuat Adam menatap Yola kembali.


"Aku tidak mau ke rumah sakit. Tolong antar aku pulang saja," ucap Yola. Sudah di bilang bukan sebenarnya ia paling benci dengan bangunan yang dominan bercat putih dan berbau obat-obatan itu. Tapi berhubung dirinya yang tengah memperjuangkan Adam, mau tak mau setiap hari ia harus masuk kedalam tempat yang tak ia sukai itu. Karena itu merupakan bentuk perjuangannya melawan kebenciannya sendiri untuk mendapatkan hati seorang Adam.


"Tidak. Kamu harus ke rumah sakit sekarang juga," kekeuh Adam yang dibalas gelengan kepala oleh Yola.


"Aku mohon Kak. Jangan bawa aku ke rumah sakit. Kalau Kakak tidak mau mengantarku ke rumah, bawa aku ke apartemen saja. Aku hanya butuh istirahat sekarang," ujar Yola yang masih merasakan mual di perutnya itu.


Dan hal tersebut membuat Adam menghela nafas panjang sebelum laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Tapi biar Kakak yang menemani kamu di apartemen. Dan sampai di sana Kakak tetap akan memeriksa keadaanmu. Dan saat Kakak menyarankan kamu untuk minum obat jangan di tolak," ucap Adam yang hanya bisa diangguki oleh Yola.

__ADS_1


Dan setelah mendapat anggukan kepala dari Yola itu, Adam segera menutup pintu mobil itu dan ia berlari menuju kursi kemudi. Dan dengan perlahan ia menjalankan mobilnya.


Didalam perjalanan itu, Yola terus menutup matanya sedangkan Adam, laki-laki itu sesekali melirik kearah Yola dengan perasaan bersalah yang teramat besar. Ia baru menyadari jika yang menyebabkan Yola seperti saat ini adalah dirinya. Jika saja ia tadi tidak terpancing amarah gara-gara melihat kedekatan Yola dan Caka tadi, ia tak mungkin melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan tadi dan Yola tidak mungkin akan merasakan apa yang perempuan itu rasakan sekarang. Adam benar-benar sangat menyesal. Ia juga menyesali dirinya yang tak bertanya baik-baik tentang hubungan Yola dan Caka tadi kepada Yola langsung. Karena jujur saja, ia benar-benar trauma jika kejadian di masa lalunya itu harus terjadi kembali di hubungan yang sekarang bersama Yola itu walaupun ia sadar jika dirinya dan Yola belum memiliki ikatan yang pasti. Tapi yakinlah Adam sekarang sangat takut kehilangan Yola.


__ADS_2