Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 122


__ADS_3

Dihari yang sama tepat disiang hari, Om Harun yang tadi terpaksa harus di suntik dengan obat penenang kini laki-laki paruh baya itu telah kembali sadar dari pengaruh obat bius tersebut.


Ia menggeram kesal kala saat dirinya menolehkan kepalanya kearah samping, ia melihat istrinya tertidur dengan posisi terduduk. Dimana ia langsung mengulurkan tangannya lalu menjambak rambut istrinya yang kebetulan posisi kepala Juwita tertelungkup di brankarnya yang membuat wanita paruh baya itu langsung terbangun dari tidurnya.


"Awssss apa yang kamu lakukan mas?" tanya Juwita dengan berusaha melepaskan jambakan dari suaminya itu.


"Seharusnya aku yang tanya kepadamu. Apa yang kamu lakukan dengan Kenza?!" bentak Om Harun.


"Jadi kamu tadi mengamuk cuma gara-gara Kenza?" tanya Juwita dengan gelengan kepala saat tebakannya tadi sangat tepat sekali.


"Tentu saja. Memangnya kenapa, hah? Ini semua juga gara-gara kamu yang seenaknya bawa Kenza ke rumah sakit jiwa! Kamu pikir aku tidak mengetahuinya hah?! Aku tau semuanya yang telah kamu lakukan! Sialan!" Erang Om Harun dengan melepaskan jambakannya tadi dengan sangat kasar hingga membuat kepala Juwita terkatuk dan mengenai pinggiran brankar tersebut.


"Sudah aku bilang berkali-kali kepadamu, jangan memeriksa kesehatan mental Kenza. Dia baik-baik saja. Psikiater yang memeriksa Kenza itu jangan dipercaya. Dia pembohong besar, Juwita!" Juwita yang tak ingin mendapat amukan dari sang suami pun ia kini beranjak dari tempat duduknya dan sedikit menjauh dari posisi Om Harun yang tengah menatapnya dengan garang menggunakan satu matanya yang masih berfungsi.

__ADS_1


"Jika dia baik-baik saja kenapa dia melukaimu, melukai Heila dan dulu sempat melukai Adam! Tolonglah di pikir baik-baik Mas. Orang normal tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, se-emosi-emosinya dia, semarah-marahnya dia. Dia tidak akan pernah melukai orang lain apalagi orang itu adalah orang yang benar-benar dekat dengan dia dan orang yang dia sayangi. Tolong di pikir dengan logika mas, jika Kenza itu memang memiliki sakit mental dan semua itu sudah terjawab oleh orang yang paham akan masalah sakit mental itu," balas Juwita masih mencoba untuk sabar.


"Hal yang dilakukan oleh Kenza itu masih normal! Dia bebas meluapkan emosi dia ke orang lain yang sudah membuat dirinya marah," balas Om Harun yang masih saja membela Kenza.


"Kamu terus saja menormalkan hal yang membahayakan bagi orang lain! Terus saja begitu sampai Kenza benar-benar melenyapkan nyawa orang lain! Kamu itu sudah merasakan dampak dari berbahayanya Kenza jika kita masih membiarkan penyakit dia itu. Tapi kamu tidak pernah sadar dan terus saja membela Kenza! Biarkan Kenza di rumah sakit jiwa untuk sementara waktu mas, agar sembuh dari penyakitnya itu!"


"Dia tidak sakit Juwita! Dia normal!" sentak Om Harun yang membuat Juwita kini menghela nafas panjang.


"Terserah kamu. Tapi sampai kapanpun aku masih akan mempertahankan Kenza di rumah sakit itu sampai dia benar-benar sembuh," ucap Juwita sebelum dirinya melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar inap suaminya. Ia benar-benar tak bisa jika terus mengahadapi suaminya yang membuat dirinya emosi itu.


Hingga dengan tatapan tajam ia memutar tubuhnya menghadap kembali kearah Om Harun.


"Kamu mau apa? Kamu mau menyalahkanku tentang keputusanku untuk Kenza itu? Silahkan, salahkan saja aku terus karena aku tidak akan peduli dengan sikapmu itu! Aku lebih baik selalu disalahkan olehmu daripada aku melihat Kenza terus terjebak dalam penyakitnya itu. Dan perlu kamu tau mas, tiga hari berturut-turut semua masalah menimpaku. Anak kamu yang pertama sekarang tengah masuk bui karena terlibat dalam protitusi dan obat-obatan terlarang, kamu tidak tau akan hal itu kan? Karena kamu selalu saja di sibukkan dengan urusanmu sendiri. Dan di hari berikutnya aku mendapat kabar jika kamu hampir mati di tangan Kenza, anak kamu sendiri dan yang terakhir hari ini aku mendapat kabar jika Kenza mengalami gangguan mental. Aku tau ini semua ujian hidupku tapi aku capek kalau terus menghadapai ujian ini sendirian. Orang yang seharusnya menopangku, memberikan aku semangat dan mau sama-sama berjuang justru terus menerus menyalakanku! Aku capek mas, aku capek dengan semua ini! Aku lelah mengahadapi semua ini sendirian! Rasanya aku ingin menyerah saja karena percuma aku tetap bertahan jika orang yang menjadi alasanku untuk bertahan selalu memojokkanku terus menerus!" kata Juwita meluapkan semua isi hatinya dan keresahan yang menimpa dirinya.

__ADS_1


"Aku lelah, aku capek dan aku ingin istirahat," sambung Juwita sebelum dirinya melanjutkan langkahnya meninggalkan kamar inap suaminya itu.


Sedangkan Om Harun yang mendengar jika bukan hanya Kenza saja yang bermasalah tetapi anak pertamanya juga tengah mengalami masalah pun ia tampak terdiam. Terkejut? tentu saja, anak pertama yang selalu ia bangga-banggakan dan ia gadang-gadang sebagai model internasional itu tenyata terlibat dalam dua kasus berat dan hal tersebut benar-benar membuat dirinya terpukul.


Namun sesaat setelahnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak mungkin Tere melakukan hal itu. Juwita tadi pasti berbohong kepadaku. Ya dia pasti berbohong kepadaku," ujar Om Harun sembari tangannya kini meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


"Aku harus membuktikannya sendiri. Jika memang Tere tengah tersandung kasus, pasti banyak media yang memberitakan tentang dirinya. Dan saat aku melihat jika tidak ada berita tentang dia, aku akan membuat pelajaran kepada Juwita! Awas saja kamu, Juwita," gumam Om Harun dengan tangan yang bergerak lincah membuka media sosial di ponselnya itu. Mencari dan terus mencari berita tentang anaknya itu.


Dan saat ia menemukan satu berita tentang Tere, anaknya ia melebarkan matanya masih dengan gelengan kepala tak percaya.


"Tidak. Ini pasti tidak benar. Ini pasti hanya berita palsu," ucap Om Harun sebelum jari-jari tangannya kembali meluncurkan mencari berita lain.

__ADS_1


Dan saat dirinya terus mencari, hal yang sama ia temukan di berbagai platform media sosial yang membuat dirinya kini shock berat.


"Tidak mungkin ini tidak mungkin. Ya Tuhan, Tere. Kenapa semua ini bisa terjadi!" ucap Om Harun dengan air mata penyesalan karena ia menganggap jika dirinya tak becus mendidik anaknya itu. Ia kini juga menyesal karena sempat tidak percaya dengan istrinya tadi dan selalu menyalakan Juwita yang ia yakini jika perempuan itu pasti tengah terpukul dan mentalnya juga tengah terkoyak karena banyaknya masalah yang menimpa dirinya. Om Harun sekarang benar-benar menyesali perbuatannya tadi kepada istrinya. Ia juga sudah sadar dengan keegoisannya itu.


__ADS_2