Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 97


__ADS_3

Tangan Kenza yang ingin menusuk dada Heila tadi berhenti di udara kala seseorang di belakangnya menangkap lengannya.


"Shitt," umpat Kenza sebelum dirinya kini menolehkan kepalanya kearah belakang dimana orang itu berada.


Dan betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sangat ia kenal disana.


"Tristan," ucap Kenza yang membuat Heila yang sempat menutup matanya, kini mata itu terbuka.


Heila yang memanfaatkan keadaan Kenza pun ia berlari menuju ke belakang tubuh Tristan.


"Please bawa saya pergi dari sini," ucap Heila dengan lirih kala dirinya sudah berada dibelakang tubuh Tristan sembari tangannya memegang erat Hoodie yang tengah di pakai laki-laki itu.


Tristan yang mendengar suara dari Heila pun ia menolehkan kepalanya kearah perempuan yang benar-benar sudah berlumuran darah itu.


"Kamu tenang. Saya janji akan membawa kamu pergi dari sini. Tapi untuk saat ini, menjauh dari belakang saya terutama dari jangkauan wanita gila ini," ujar Tristan dengan melirik tajam kearah Kenza yang tengah menggeram kesal.


Heila menganggukkan kepalanya, menurut ucapan dari Tristan tersebut lalu setelahnya ia berlari keluar dari apartemen tersebut menuju ke baseman gedung apartemen tersebut, sekaligus untuk mencari bantuan agar Tristan tidak melawan perempuan itu sendirian.


"Heila! Jangan pergi kamu!" teriak Kenza saat melihat Heila sudah menjauh darinya. Dan saat dirinya ingin pergi, ia berdecak kala cengkraman Tristan belum juga laki-laki itu lepas dari lengannya.


"Jangan ikut campur urusanku, Tristan. Dan lepas tanganmu itu dari lenganku," ucap Kenza dengan berusaha untuk melepaskan cengkraman tersebut.


"Mimpi. Aku akan melepaskanmu nanti jika kita sudah ada di kantor polisi," ujar Tristan dan tanpa hitungan detik, lengan Kenza, ia pelintir hingga membuat pisau yang Kenza bawa jatuh ke lantai bahkan ringisan terdengar dari bibir wanita tersebut.

__ADS_1


"Arkkhhhhhhh, sialan. Lepas!" Kenza memberontak namun sayangan tenaganya tak sebanding dengan tenaga Tristan saat ini.


"Sudah aku bilang bukan jika aku akan melepaskanmu jika kita sudah berada di kantor polisi."


"Apa hak mu membawaku ke tempat itu?"


"Hak ku melindungi dan berniat membantu Heila memenjarakan orang gila sepertimu ini," ujar Tristan dengan cengkramannya yang semakin ia kencangkan hingga membuat Kenza kembali meringis.


"Ohhhh kamu sekarang ingin menjadi pahlawan kesiangannya Heila ternyata. Hahaha, sangat romantis sekali ya. Tapi perlu kamu tau Tristan, jika aku tidak akan pernah di penjara apapun kesalahan yang aku perbuat. Jadi percuma saja kamu mau membawaku ke kantor polisi karena mereka tidak akan mengadiliku," tutur Heila.


"Jangan berpikir untuk menyuap para pihak kepolisian dengan uangmu itu Kenza karena uangmu itu tidak akan berlaku di kepolisian negara ini. Jadi mari kita buktikan saja ucapanmu itu." Tristan mendorong tubuh Kenza saat dirinya mulai berjalan hingga membuat Kenza hampir saja tersungkur.


Dan saat mereka berdua ingin keluar dari apartemen tersebut, langkah mereka berdua berhenti diambang pintu kala melihat beberapa orang tengah mendekati mereka berdua.


"Tanpa harus susah payah kita ke kantor polisi ternyata mereka sudah ada di sini," bisik Tristan. Ya, orang-orang yang mendekati mereka adalah pihak berwajib.


"Selamat malam. Kami tadi mendapat laporan dari seseorang jika terjadi keributan di apartemen ini. Dan ketika kami baru sampai, kami langsung dihampiri oleh seorang perempuan yang terdapat banyak luka dan darah, katanya dia mendapat kekerasan di apartemen ini juga," ucap salah satu polisi itu yang langsung diangguki oleh Tristan.


"Benar Pak. Dan ini pelakunya. Silahkan di tangkap dan diadili seadil-adilnya. Saya akan segara mengirim pengacara saya untuk mengurus kasus ini nanti. Saya yang selaku mewakili korban tidak akan menarik laporan tentang kasus ini entah dalam bentuk apapun. Saya ingin dia di hukum seberat-beratnya sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Dan untuk bukti, bapak polisi bisa melihat CCTV yang ada di apartemen ini," ujar Tristan.


"Baik, kita dari pihak kepolisian akan melakukan yang terbaik untuk memberikan hukuman agar pelaku jera atas tindakannya. Dan terimakasih telah membantu kami untuk menangkap pelaku ini tuan." Tristan menganggukkan kepalanya.


Polisi itu yang melihat anggukkan kepala dari Tristan pun ia langsung mengerahkan salah satu polisi untuk memborgol Kenza.

__ADS_1


"Lepas! Jika kalian berani membawaku ke penjara, aku pastikan Papa tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan kalian pasti akan mendapatkan hukuman dari Papa!" teriak Kenza yang hanya diabaikan begitu saja oleh semua orang yang ada di sana.


"Bawa dia ke mobil sekarang juga," perintah kepala polisi tersebut.


"Siap. Laksanakan," jawab orang yang memborgol Kenza tadi. Dan setelahnya ia segera berjalan meninggalkan depan apartemen tersebut bersama dengan Kenza dan beberapa rekan polisi yang lain.


Dan kepergian mereka tadi di iringi dengan teriakan dan pemberontakkan dari Kenza.


"Lepas sialan!" teriak Kenza yang membuat beberapa penghuni apartemen lain keluar dari dalam apartemennya dan melihat apa yang tengah terjadi saat ini.


"Tristan, aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan kepadaku saat ini. Aku akan membunuhmu! Aku juga akan membunuh Heila! Bahkan aku akan membunuh para polisi sialan ini! Ingat ucapanku ini. Kalian semua akan aku basmi! Camkan itu!" teriak Kenza yang benar-benar seperti orang gila.


Dan teriakannya itu membuat orang-orang yang melihat penangkapan Kenza itu, mulai berbisik-bisik manja bahkan ada yang terang-terangan membicarakan kegilaan Kenza.


Sedangkan Tristan, ia hanya bisa menghela nafas dengan mata yang menatap kepergian mereka tadi sebelum tatapan matanya kini beralih kearah kepala polisi tadi saat kepala polisi tersebut kembali bersuara.


"Sekali lagi, terimakasih atas bantuan tuan. Dan untuk perempuan yang menjadi korban, beliau sudah di larikan ke rumah sakit oleh salah satu rekan kita karena kondisi beliau yang benar-benar memprihatinkan dan tadi juga sempat pingsan. Di rumah sakit AWA Hospital," ucap polisi tersebut. Tristan yang mendengar hal tersebut pun lagi-lagi ia menghela nafas. Ia sudah menebak jika Heila pasti akan tak sadarkan diri dilihat dari darah yang keluar banyak dari tubuh perempuan itu


"Baik, saya juga berterimakasih dengan bapak-bapak polisi sekalian." Kepala polisi yang berada dihadapan Tristan pun menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu. Mari," ucap polisi tersebut yang diangguki oleh Tristan.


Dan setelah semua polisi itu benar-benar pergi dari hadapannya, Tristan segara menghubungi kuasa hukumnya pribadi untuk membereskan kasus Heila dan Kenza itu. Dan setelah memberikan perintah kepada kuasa hukumnya itu, ia berlari menuju ke baseman dan tujuannya kali ini adalah ke rumah sakit, tempat Heila di larikan sekaligus tempat dirinya bekerja.

__ADS_1


__ADS_2