
Adam dan Yola kini telah sampai di dapur rumah sakit tersebut dan kedatangan mereka langsung menjadi pusat perhatian dua koki serta beberapa suster yang kebetulan tengah mengambil makanan untuk para pasien di rumah sakit tersebut dan salah satu suster yang berada di deretan suster-suster lainnya yang tengah mengantri itu terdapat Suster Nana disana yang juga melihat kedatangan Adam dan Yola tadi.
"Apa ini? Kenapa dokter Adam bisa kesini dengan perempuan itu? Dan apa yang ingin mereka lakukan disini?" batin Nana dengan beberapa pertanyaan di otaknya itu.
Tak hanya Nana saja yang tengah dibuat bertanya-tanya dengan kehadiran Adam bersama dengan seorang perempuan di dapur itu melainkan para suster lainnya pun juga bertanya-tanya bahkan ada yang secara terang-terangan tengah berbisik-bisik membicarakan tentang mereka berdua, lebih tepatnya tengah bergosip tentang Yola.
"Apakah perempuan itu adalah si Yola-Yola itu?" tanya salah satu Suster yang berada di barisan tengah kepada satu Suster lainnya yang berada di depannya.
"Entahlah aku pun juga tidak tau. Coba aku tanya ke Nana dulu. Dia kan asisten dokter Adam yang pastinya dia tau siapa perempuan itu," balas suster tersebut yang diangguki temannya yang bertanya tadi.
Suster tersebut kini menepuk bahu Nana yang kebetulan berada di depannya. Dan hal tersebut membuat Nana menolehkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Nana tak bersahabat yang membuat suster tersebut mencebikkan bibirnya. Jika saja ia tak kepo dengan Yola, ia pasti tidak akan mau berbicara dengan perempuan seperti Nana ini.
"Ck, aku cuma mau tanya. Jadi biasa aja nada bicaramu itu," ucap suster tersebut yang membuat Nana memutar bola matanya malas.
"Tanya apa buruan."
__ADS_1
"Apa benar perempuan yang sedang bersama dengan dokter Adam itu adalah Yola. Si perempuan yang tengah tenar di kalangan para dokter dan sebagian suster di rumah sakit ini gara-gara dia lagi berusaha dapatin hati dokter Adam?" tanyanya dengan intonasi suara yang lirih agar tak didengar oleh Yola ataupun Adam.
"Ya, dia Yola. Si perempuan yang tidak tau malu karena sudah di tolak berkali-kali oleh dokter Adam tapi dia masih saja tetap mengejar dokter Adam," jawab Nana yang membuat suster di belakangnya itu mengerutkan keningnya.
"Kamu yakin jika Yola di tolak berkali-kali oleh dokter Adam?" tanya suster tersebut tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Nana tadi.
"Masalahnya jika aku lihat-lihat dari tatapan mata dokter Adam, beliau juga suka sama Yola. Tatapannya dalam banget soalnya, tidak seperti biasanya yang terlihat sangat dingin. Benar-benar beda pokoknya cara natap ke kita-kita dengan cara natap ke Yola," sambung Suster tersebut yang justru membuat telinga Nana panas sendiri.
"Sudah berubah profesi kamu jadi pakar ekspresi? Sok tau banget padahal yang setiap hari sama dokter Adam adalah aku dan aku tau semuanya tentang dokter Adam. Bahkan aku juga tau saat dokter Adam menolak Yola mentah-mentah berulang kali. Tapi hanya karena kamu menebak-nebak saja, sebuah fakta yang aku katakan tadi kamu tidak mempercayainya. Apa kamu waras, hah?" ucap Nana dengan api cemburu yang sudah menguasai dirinya, apalagi saat ia mendengar perkataan dari teman satu profesinya itu tadi. Dan saat dirinya melihat sendiri, memang benar tatapan Adam sangat berbeda dari tatapannya kepada orang lain. Namun Nana percaya tatapan itu bukanlah tatapan karena rasa suka tapi justru tatapan penuh kebencian.
Sedangkan Suster yang berada di belakang tubuh Nana, ia mendelikkan matanya saat mendengar kalimat terakhir dari Nana tadi.
"Kamu tadi dengar sendiri kan kalau perempuan itu memang benar Yola. Dan untuk kebaikan bersama. Lebih baik kita bertukar tempat. Aku tidak mau berdekatan sama orang gila seperti dia soalnya," ucap suster tersebut dan tanpa mendengar persetujuan dari temannya itu ia lebih dulu menelusup ke belakang tubuh temannya lalu mendorong temannya itu secara perlahan agar sampai di belakang Nana.
Sedangkan Nana, perempuan itu sudah tak memperdulikan apapun yang keluar dari bibir suster tadi karena menurutnya itu sudah tak penting lagi, dan yang lebih penting sekarang adalah dua objek yang ada di depan sana dimana disana terlihat Adam yang tengah berbincang dengan kepala koki. Sedangkan Yola, perempuan itu hanya diam saja dengan mata yang bergerak melihat-lihat setiap sudut dapur tersebut.
"Ehemmm," dehem Adam yang membuat Yola kini menatap kearahnya.
__ADS_1
"Kepala koki di sini sudah mengizinkan kamu untuk masak," ucap Adam yang dibalas anggukan dan senyuman dari Yola.
"Saya tunggu masakan kamu di ruangan saya," ujar Adam.
"Siap dok. Saya akan secepat kilat menyelesaikan masakan saya. Jadi tunggu sekitar hmmmm 30 menit lagi gak papa kan?" tanya Yola.
"Terserah. Asal tidak sampai 2 jam saya harus menunggu masakanmu itu."
"Tenang saja, saya juga tidak akan masak sampai 2 jam juga kok Dok," ucap Yola yang diangguki oleh Adam.
"Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu." Yola menganggukkan kepalanya untuk menimpali ucapan dari Adam tadi.
"Faz, saya nitip dia. Jika dia membuat kekacauan disini, pukul saja kepala dia pakai panci. Atau kalau tidak tempelkan bawang merah ke mata dia," ucap Adam yang membuat Yola melongo mendengarnya.
"Serem juga ya hukuman yang bakal saya dapatkan jika saya membuat keributan di sini. Kalau di pukul panci bisa amnesia kalau mata saya dikasih bawang merah bakal berair terus dong," ujar Yola sembari membayangkan jika bawang merah kini tengah menempel di kelopak matanya hingga tanpa sadar ia kini mengedip-ngedipkan matanya.
Sedangkan Adam, laki-laki itu yang sudah benar-benar gemas maksimal akhirnya tangannya kini bergerak untuk menyentil kening gadis yang sudah berhasil membuat dirinya gundah gulana dan senang secara bersamaan tadi malam.
__ADS_1
"Hanya di pukul panci saja tidak akan membuat kamu sampai amnesia. Sudahlah. Jangan banyak bicara lagi. Mending kamu segara masak buat saja dan saya tunggu di ruangan saya. Jika nanti sudah selesai dan saya tidak ada di ruang kerja, telepon saja," titah Adam yang membuat Yola langsung menganggukkan kepalanya. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, ia langsung keluar dari area dapur rumah sakit tersebut meninggalkan Yola yang benar-benar tengah kegirangan setengah mati. Gimana tidak girang jika Adam tadi menyuruh dirinya untuk menelepon laki-laki itu. Dia sendiri lho ya yang memintanya bukan gara-gara inisiatif dari Yola seperti sebelum-sebelumnya.