
Nana yang melihat Adam tadi sempat menyentil kening Yola sebelum laki-laki itu pergi dari dapur tersebut. Kedua tangannya terkepal erat lalu setelahnya ia memilih untuk mundur dari barisannya.
Sedangkan Yola, perempuan itu sudah siap dengan apron dan bahan-bahan yang akan ia eksekusi nanti.
"Saya tinggal untuk istirahat sebentar tidak papa kan?" tanya kepala koki tersebut karena memang jam 2 merupakan jam istirahat bagi para koki di rumah sakit tersebut.
"Tidak apa-apa kok," ujar Yola dengan senyumannya.
"Baiklah. Kalau begitu saya tinggal ya. Kalau kamu nanti butuh bantuan cari saja saya di area belakang dapur ini," pesan kepala koki rumah sakit tersebut yang diangguki oleh Yola. Dan setelah kepala koki itu melihat anggukan setuju dari Yola. Ia kini beranjak menuju ke arah belakang dapur tersebut untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain yang sudah lebih dulu kesana.
Sedangkan Yola, ia kini mulai beraksi. Dan masakan yang akan ia buat kali ini adalah ayam goreng mentega. Dan dengan cekatan Yola memulai aksinya.
Disisi lain, tanpa diketahui dan disadari oleh orang-orang yang ada disekitarnya, Nana kini sudah menelusup masuk kedalam dapur. Dimana dapur itu hanya ada Yola seorang. Ia bersembunyi di balik lemari besar tempat penyimpanan perabotan dapur tersebut dengan tatapan mata yang terus tertuju kearah Yola.
Hingga beberapa menit telah berlalu, akhirnya masakan Yola telah jadi. Namun sebelum Yola hidangkan masakannya itu, ia mencicipi cita rasa dari olahannya tersebut.
"Perfect. Aku yakin dokter Adam pasti akan suka dengan masakanku ini," ucap Yola yang masih bisa didengar oleh Nana. Hingga membuat perempuan tersebut menggertakkan giginya.
"Sialan. Jadi masakan yang dia buat itu untuk dokter Adam? Dan berarti dokter Adam kesini tadi membantu Yola untuk meminta izin kepada kepala koki disini? Sial. Aku harus menggagalkan Yola menyuap dokter Adam dengan masakannya. Aku tidak akan membiarkan dokter Adam memuji masakan itu. Dan jangan sampai dokter Adam jatuh cinta dengan Yola hanya gara-gara sebuah makanan yang Yola buat itu. Tidak, aku tidak akan membiarkan Yola memiliki Dokter Adam sampai kapanpun," batin Nana tak suka dengan aksi Yola kali ini.
__ADS_1
Nana masih berdiam diri di tempat persembunyiannya, menunggu Yola lengah terlebih dahulu sebelum ia melakukan aksinya yang sudah berada di dalam otaknya.
Dan benar saja selang beberapa menit setelah Yola menata masakannya tadi keatas tiga piring, perempuan tersebut terlihat melepas apronnya lalu berjalan menuju ke arah belakang dapur tersebut. Dan saat itu juga, Nana bergerak mendekati makanan tersebut.
Mata Nana memperhatikan sekitar dan saat dirasa aman, tak ada yang melihatnya. Tangan Nana bergerak mengambil garam halus yang berada di depannya dan dengan gerakan cepat sembari matanya yang terus mengawasi situasi sekitar, ia menuangkan garam tersebut ke salah satu makanan yang ia yakini makanan itu akan Yola berikan kepada Adam nantinya.
Setelah dirasa garam yang ia berikan ke dalam makanan itu sudah banyak, Nana mengembalikan wadah garam tersebut dengan senyum miring di bibirnya.
"Usahamu untuk mendapatkan hati dokter Adam akan segera pupus Yola," gumamnya dengan membayangkan saat Adam nanti mencicipi masakan Yola yang sangat asin itu dan ia juga tak sabar melihat Yola akan kena marah habis-habisan oleh Adam. Bahkan ia sangat yakin jika setelah itu Adam benar-benar tak akan memberikan kesempatan Yola untuk mendekatinya lagi.
Dan setelah mengucapkan hal tersebut juga melakukan tindakan tadi, Nana segara keluar dari dalam dapur tersebut sebelum Yola kembali dari belakang dapur. Jangan lupakan senyum Nana masih terlihat jelas di bibirnya saat otaknya itu terus membayangkan keributan yang akan terjadi nanti.
"Sepertinya tadi ada seseorang yang habis masuk ke dapur ini? Tapi siapa dia? Apa salah satu koki juga di rumah sakit ini? Ahhhh sepertinya memang begitu. Ya sudah lah tak penting juga buatku. Dan lebih baik aku sekarang mengantar makanan ini untuk dokter Adam," ucap Yola dengan memandang tiga piring tersebut. Sebelum tangannya kini bergerak untuk mengambil dua piring yang akan ia berikan kepada Adam dan salah satunya adalah piring yang tadi di taburi garam oleh Nana. Sedangkan satu piring lagi, sengaja ia biarkan di tempatnya karena itu sudah ia berikan kepada para koki di rumah sakit tersebut.
Yola berjalan dengan santai menuju ke ruang kerja Adam dengan sesekali ia tersenyum menyapa suster yang tengah berlalu lalang itu. Hingga saat dirinya berada di depan ruang kerja Adam, bertepatan dengan itu pula Adam datang dari arah berlawanan, mungkin laki-laki itu tengah memeriksa keadaan pasiennya, batin Yola.
"Sudah selesai?" tanya Adam sekedar basa-basi saja yang diangguki oleh Yola.
"Ya sudah, tunggu apa lagi, kita masuk kedalam sekarang," ucap Adam sembari tangannya bergerak untuk memutar kenop pintu ruangan tersebut. Dan saat pintu tersebut terbuka ternyata didalam ruangan itu sudah ada Nana yang tengah menatap kehadiran kedua orang tadi dengan diam-diam ia tersenyum devil kearah Yola yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
Tapi Yola mana peduli dengan senyuman itu. Dan lebih baik ia sekarang menyajikan makanan yang ia masak itu kepada Adam.
"Silahkan dimakan," ucap Yola sembari menaruh satu piring yang berisi ayam goreng mentega dengan nasi di hadapan Adam yang telah duduk di kursi kebesarannya.
Adam menatap makanan tersebut dengan sesekali ia menelan air liurnya. Dari aromanya saja ia sudah bisa menebak jika makanan yang di masak langsung oleh Yola itu sangat lezat. Dan saat tangannya mulai bergerak untuk mencicipi masakan tersebut, pergerakan tangannya terhenti lalu ia menatap kearah Yola yang masih berdiri di hadapannya dengan membawa satu piring lagi ditangannya.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu? Apa kamu mau makan sambil berdiri?" tanya Adam yang membuat lamunan Yola buyar.
"Ahhhh tidak dok. Saya sudah makan siang tadi," ujar Yola yang membuat Adam mengerutkan keningnya.
"Jika kamu sudah makan siang terus satu piring ada di tanganmu itu untuk siapa?" tanya Adam penasaran.
"Ohhh ini. Ini untuk suster Nana. Saya mau suster Nana juga mencicipi masakan saya," ujar Yola lalu setelahnya ia melangkahkan kakinya mendekati Nana.
"Hey suster Nana. Saya bawain makanan hasil masakan saya sendiri lho. Jadi jangan lupa untuk di cicipi ya," ucap Yola dengan menaruh satu piring tadi di meja kerja Nana.
"Dan sepertinya sebelum saya lihat reaksi dokter Adam untuk makanan ini. Lebih baik, Suster Nana dulu yang memberikan penilaiannya. Bagaimana Dok, dokter setuju kan kalau suster Nana mencicipi makanannya terlebih dahulu?" tanya Yola sembari menolehkan kepalanya kearah Adam yang dibalas dengan anggukan kepala dari laki-laki tersebut.
"Ya saya setuju. Kalau sampai suster Nana bilang tidak enak maka saya tidak akan makan masakan kamu," ujar Adam yang membuat Yola mencebikkan bibirnya. Tidak ada dalam sejarah hidup Yola jika masakannya itu tidak enak karena sedari kecil ia sudah bisa masak bahkan saking hobinya dia di bidang boga itu sampai sang Mama memasukkan dia ke kursus memasak dengan koki terkenal yang mengajarinya. Jadi tidak mungkin masakannya itu tidak enak.
__ADS_1