Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 47


__ADS_3

Semua barang belanjaan Yola sudah ditotal semua oleh kasir supermarket tersebut dan saat Yola ingin membayar belanjaannya itu, tangan Adam lebih dulu terulur dengan sebuah kartu ditangannya.


"Pakai ini untuk membayar belanjaannya mbak," ucap Adam yang diangguki oleh kasir tersebut.


Sedangkan Yola, ia kini menatap Adam yang dibalas tatapan oleh laki-laki tersebut.


"Apa?" tanya Adam.


"Kenapa dokter Adam membayar semua belanjaan saya?" bukannya menjawab pertanyaan dari Adam tadi, ia justru kembali bertanya.


Dan pertanyaan dari Yola itu dibalas dengan gedikkan bahu oleh Adam.


"Ini Mas kartunya. Terimakasih sudah berbelanja di supermarket ini. Jangan lupa datang kembali," ucap kasir tersebut sembari menyerahkan kartu milik Adam tadi yang langsung diterima oleh laki-laki tersebut dengan anggukan kepalanya, sebelum Adam mengambil barang belanjaan Yola tadi. Dan tanpa mengucapakan sepatah kata pun ia segera keluar dari dalam supermarket tersebut diikuti Yola di belakangnya.


"Ishhhh dokter belum menjawab pertanyaan saya tadi. Kenapa dokter yang membayar belanjaan saya?" ucap Yola dengan kaki yang berusaha menyamakan langkah Adam. Namun karena dirinya lebih pendek dari Adam, ia tak bisa menyamakan langkah laki-laki tersebut dan berakhir dirinya selalu di belakang tubuh Adam.


"Dokter---"


Bukk!!


Yola tak sengaja menabrak dada bidang Adam saat laki-laki tersebut berhenti dan memutar secara mendadak.


Yola meringis sembari mengusap hidung mancungnya yang kini tampak memerah itu.


"Itu dada apa beton sih. Keras banget. Jadi sakit kan hidung aku," gerutu Yola dengan kerucutan di bibirnya dan gerutuannya itu masih bisa di dengar oleh Adam hingga membuat tangan laki-laki itu kini bergerak untuk menyingkirkan tangan Yola yang menutupi hidung perempuan tersebut. Dan saat tangan Yola sudah menjauh dari hidungnya sendiri, Adam bisa melihat dengan jelas warna merah muda di hidung Yola yang justru membuat Adam gemas sendiri. Sampai-sampai tangannya yang tadi berniat untuk mengelus hidung Yola, kini berubah menyapit hidung tersebut yang membuat Yola memekik kecil.


"Aws, Dokter!" geram Yola sembari memukul tangan Adam hingga tangan laki-laki tersebut melepas hidungnya. Lalu setelahnya Yola berlari kecil menuju ke mobil yang kebetulan mobil itu milik Adam. Ia berkaca di spion mobil tersebut. Dan saat dirinya melihat hidungnya semakin memerah pun ia kini mendudukkan kepalanya dengan sesekali menghentak-hentakkan kakinya.

__ADS_1


Adam yang melihat hal tersebut pun ia terkekeh kecil sebelum dirinya berjalan mendekati Yola.


Dan setelah ia sampai di depan gadis tersebut, Adam memeluk tubuh Yola.


"Maaf," ucapnya dengan memberikan kecupan di puncak kepala Yola. Dan apa yang dilakukan oleh Adam itu membuat Yola terdiam. Ia sepertinya harus mengurungkan niatnya untuk merajuk setelah ia mendapatkan pelukan dan kecupan dari Adam itu.


Adam melepaskan pelukannya itu lalu tangannya kini bergerak memegang dagu Yola dan mengarahkan wajah gadis tersebut untuk menatap dirinya.


Adam mengerutkan keningnya saat ia melihat bukan hanya hidung Yola saja yang memerah saat ini melainkan kedua pipi gadis tersebut juga tampak memerah.


"Apa kamu tadi salah makan Yola?" Yola yang mendapat pertanyaan itu pun ia menjadi bingung sendiri.


"Salah makan?" beo Yola yang diangguki oleh Adam.


"Iya, kamu salah makan sesuatu tadi. Contohnya makan makanan yang membuatmu alergi?" Yola semakin dibuat bingung, perasaan seumur hidupnya ia tak pernah alergi apapun. Semua makanan tidak menimbulkan dampak apapun bagi tubuhnya.


"Benarkah?" Yola menganggukkan kepala.


"Tapi kenapa wajah kamu sekarang memerah. Saya kira kamu terkena alergi tadi," ujar Adam yang membuat Yola kini membelalakkan matanya dan saat dirinya mengintip wajahnya di pantulan spion mobil itu barulah ia sadar jika wajahnya memang tengah memerah saat ini.


"Sialan! Kenapa nih wajah harus pakai memerah segala sih. Baper sih baper tapi jangan malu-maluin juga Yola. Astaga, rasanya ingin bersembunyi di perut bumi. Arkhhhh Yola malu-maluin!" teriak Yola didalam hatinya.


Bahkan saking malunya, ia sekarang sudah menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Dok, dokter Adam. Mending dokter Adam kembali dulu ke rumah sakit. Nanti saya susul, oke," ujar Yola tanpa membuka tangannya itu.


"Saya tidak ingin kembali kerumah sakit. Saya ingin pulang ke apartemen dengan kamu. Jadi jangan berpikir kamu bisa pergi menjauh dari saya saat ini," ucap Adam yang membuat Yola mengintipnya dari celah jari tangannya.

__ADS_1


"Lho tapi ini kan belum waktunya dokter Adam pulang kerja," ujar Yola.


"Hari ini saya pulang lebih awal Yola. Sudah jangan banyak tanya lagi. Saya lagi pusing saat ini jadi jangan semakin membuat saya pusing. Dan lebih baik kamu sekarang masuk kedalam mobil," ujar Adam sembari membuka pintu mobil tepat disamping Yola.


"Lho ini mobil dokter Adam?" Adam menghela nafas panjang.


"Stop. Jangan tanya lagi Yola, saya mohon."


"Ehhhh ahhhh baiklah," ucap Yola namun saat dirinya ingin masuk kedalam mobil Adam, ia mengurungkan niatnya tadi dan dengan kedua tangan yang sudah menyingkir dari wajahnya, ia menatap wajah Adam yang jika di perhatikan wajah tampan itu saat ini terlihat sangat pucat.


"Kenapa malah berhenti?" tanya Adam.


"Saya baru ingat kalau saya kesini tadi pakai mobil sendiri."


"Mobil kamu biar disini saja untuk hari ini. Kita pulangnya pakai mobil saya dan besok pagi kita kesini pakai mobil saya lagi," ucap Adam.


"Hmmm baiklah. Tapi untuk hari ini biar saya saja ya yang nyetir mobilnya. Saya takut kalau dokter Adam yang nyetir mobil, nanti malah ada apa-apa lagi dijalan. Sekalian kalau saya yang nyetir kan dokter Adam bisa istirahat di perjalanan ke apartemen dokter. Hmmm apartemennya masih yang dulu kan dok?" Adam menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Yola tadi.


"Nah berhubung saya juga tau alamat apartemen dokter Adam dan saya juga sudah hafal jalannya. Jadi bagaimana, apa dokter Adam setuju kalau saya yang menyetir mobilnya?" sambung Yola dengan cerewet.


"Baiklah terserah kamu," ucap Adam dengan tangan yang kini menyerahkan kunci mobilnya kearah Yola yang langsung diterima oleh gadis tersebut dengan senyum manisnya. Dan setelah kunci mobilnya itu berpindah tangan, Adam segara masuk kedalam mobil yang pintunya sudah ia buka tadi.


Sedangkan Yola, perempuan itu masih berdiri ditempatnya tadi sebelum dirinya kini kembali angkat suara.


"Dokter Adam tenang saja. Saya pastikan kita akan sampai di apartemen dokter Adam dengan selamat," ujar Yola.


"Iya Yola iya. Saya percaya sama kamu. Jadi kamu cepatlah masuk," ucap Adam tak sabaran. Tubuhnya saat ini sudah benar-benar merindukan kasur empuknya.

__ADS_1


"Hehehe, baiklah-baiklah saya akan masuk sekarang juga," ucap Yola. Kemudian ia segera memutari mobil tersebut sebelum dirinya masuk kedalam mobil itu kemudian setelahnya ia mulai menjalankan mobil itu menuju ke apartemen pribadi milik Adam.


__ADS_2