
Yola yang tadi sempat mendengar suara perempuan saat ia menelepon Adam, dirinya dibuat penasaran siapa perempuan yang dengan lantangnya memanggil nama Adam yang ia yakini saat itu posisi mereka masih ada di area rumah sakit. Dan karena rasa penasarannya itu ia memutuskan untuk bertanya ke Adam lewat sebuah pesan dan Adam menjawab jika dirinya harus mengabaikan suara tadi yang laki-laki itu akui jika suara itu dari seorang perempuan gila yang tengah mengejar dia. Yola yang tak mau berpikir negatif pun ia mencoba percaya saja. Toh ia juga tau seberapa tenarnya Adam sehingga tak heran jika banyak perempuan yang mengejar laki-laki itu.
Dan saat Yola memikirkan hal tersebut ia sampai mengabaikan orang-orang disekitarnya.
"Yola," panggil Keni sembari melambaikan tangannya tepat di depan wajah Yola yang tengah terbengong itu.
"Ehhhh ya kenapa?" tanya Yola tersadar dari keterbengongannya.
"Bengong mulu kamu. Kelas udah selesai nih ke kantin yuk sebelum pulang. Lagi pengen seblak mbak Tin nih," ajak Keni yang membuat Yola tampak berpikir sebentar sebelum perempuan itu menganggukkan kepalanya. Toh dirinya juga sudah lama tidak berkumpul dengan dua sahabatnya itu.
"Yuk ahhhh aku juga lagi pengen makan seblak nih," ujar Yola sembari berdiri dari tempat duduknya dan dengan menggandeng lengan kedua sahabatnya mereka berjalan keluar dari dalam kelas tersebut.
Dan tanpa Yola sadari jika di depan gerbang kampusnya, ia tengah di tunggu seseorang.
"Kamu yakin kan kalau dia hari ini ada kelas?" tanya orang tersebut kepada seorang laki-laki yang berdiri disampingnya.
"Saya yakin Nona. Hanya saja perempuan itu belum keluar saja. Mungkin kelasnya belum selesai," jawab laki-laki tersebut yang diangguki oleh perempuan yang tak lain adalah Kenza.
Ya, setelah dirinya memutuskan untuk pergi dari rumah sakit tadi tujuannya bukan kembali ke apartemennya melainkan ia langsung menuju ke kampus Yola. Dan berakhirlah dirinya saat ini berada di depan gerbang menunggu Yola keluar namun yang ia tunggu-tunggu itu tak kunjung menampakkan dirinya.
Sedangkan disisi lain, Erland yang ingin masuk kedalam kampus itupun ia menghentikan motornya dari kejauhan saat ia melihat ada seseorang yang sangat familiar di matanya. Dan dengan melepas helm yang menutupi wajah tampannya, ia menajamkan tatapan matanya kearah orang yang tengah bersandar di kap mobil.
"Itu... Kenza," kaget Erland.
__ADS_1
"Sial. Dia kesini mau apa?" geram Erland. Ia tak tau jika Kenza sudah mengetahui kedekatan antara Yola dan Adam.
"Tidak mungkin dia kesini tidak memiliki tujuan apapun kan? Dan kenapa dia kembali lagi? Apakah bang Adam sudah tau tentang keberadaan dia?" gumam Erland penuh dengan tanda tanya di otaknya. Ia ingin sekali bertanya dengan Adam namun jika dirinya bertanya saat Adam belum tau tentang kedatangan Kenza, ia tak ingin membuat Kakak pertamanya itu mengenang masa lalunya dan memilih untuk kembali kepada Kenza. Padahal tanpa ia ketahui jika Adam sudah lebih dulu bertemu dengan perempuan itu.
"Tidak. Tidak, bang Adam tidak akan aku izinkan untuk bertemu dengannya lagi. Dan apa tujuan dia kesini? Aku benar-benar sangat penasaran," ucap Erland masih dengan menatap kearah Kenza.
Hingga saat Kenza mengalihkan pandangannya kearahnya dengan gerakan yang cepat Erland langsung memakai helm full facenya kembali.
"Aku tidak boleh ketahuan oleh dia. Aku harus pintar-pintar untuk menyelediki dia dan alasan kenapa dia bisa datang kesini," ujar Erland. Dan dengan bersikap biasa saja, seolah-olah ia tak tau dan tak kenal dengan Kenza, Erland menjalankan motornya itu lewat tepat di depan Kenza yang tengah menatapnya hingga sampai motor Erland menghilang dari pandangannya.
"Sepetinya aku tidak asing dengan postur tubuh orang yang baru saja lewat tadi. Tapi siapa?" gumam Kenza penasaran.
"Apakah aku harus mengikuti dia dan melihat siapa orang tadi?"
"Nona, nona kenapa?" tanya laki-laki yang berdiri di sampingnya itu dengan heran saat dirinya sempat mendengar gumaman dari Kenza tadi.
Kenza yang menatap nanar kearah depan, kini tatapan matanya beralih menatap kearah anak buahnya itu.
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Dan apakah dia masih lama keluar dari kelasnya?" tanya Kenza yang sudah mulai jenuh menunggu kemunculan Yola.
"Saya tidak tau juga nona. Kita tunggu saja mungkin sebentar lagi," jawab anak buahnya itu yang membuat Kenza kini menghela nafas panjang.
Sedangkan Erland, setelah dirinya memarkirkan motornya itu, dengan topi serta masker yang menutupi wajahnya ia keluar dari area parkiran itu dan memilih mencari tempat strategis yang bisa ia gunakan untuk memantau pergerakan dari Kenza.
__ADS_1
Hingga 15 menit lamanya ia tak melihat pergerakan apapun dari Kenza sedangkan ia juga harus segara masuk ke kelasnya.
"Sial. Waktuku tinggal 5 menit lagi. Tapi aku penasaran apa yang akan dia lakukan disini. Apakah dia kesini untuk menunggu seseorang? Tapi siapa orang yang ia tunggu itu? Haishhhh aku sangat penasaran tapi sialnya aku harus segara pergi karena aku tidak bisa meninggalkan mata kuliahku yang ini. Arkhhhh sialan kenapa dia datang disaat yang tidak tepat sih," geram Erland.
"Apakah aku suruh seseorang saja untuk mengawasi dia. Ya, itu ide bagus. Aku akan mencari salah satu mahasiswa yang bisa aku andalkan untuk mengawasi perempuan itu," sambung Erland dengan mata yang kini tengah menatap kearah sekelilingnya hingga tatapan matanya itu jatuh ke segerombolan laki-laki yang tengah bercakap-cakap tak jauh darinya.
Erland berjalan mendekati gerombolan laki-laki itu.
"Heyyy kalian masih ada kelas atau sudah free?" tanya Erland tiba-tiba setelah dirinya bergabung dengan segerombolan laki-laki itu.
Mereka tampak menatap Erland dari atas hingga bawah dan hal tersebut membuat Erland berdecak sebal dan mau tak mau ia harus melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya itu. Dan saat masker itu terbuka, barulah mereka semua tau siapa orang yang tengah berbicara kepada mereka tadi.
"Ohhhh kita sudah free Kak, kenapa emang?" tanya salah satu laki-laki itu yang sepertinya adik tingkat Erland.
"Aku butuh bantuan kalian. Kalian mau membantuku kan?"
"Bantuan apa?" tanya mereka.
"Awasi perempuan yang ada di depan gerbang itu yang sekarang tengah bersandar di kap mobil Mercedes-Benz berwana hitam. Tenang saja aku bakal kasih kalian imbalan jika kalian mau membantuku," ujar Erland yang membuat 5 mahasiswa itu tampak saling menatap satu sama lain sebelum mereka menganggukkan kepalanya.
"Baik, kita setuju buat bantu Kakak."
"Oke kalau begitu awasi dia dan ini uang muka untuk kalian. Jika kerja kalian bagus, nanti akan aku tambah," ujar Erland sembari menyerahkan uang 1 juta rupiah ke tangan salah satu mahasiswa itu.
__ADS_1
"Kalau begitu aku tinggal dulu," ucap Erland sembari menepuk pundak dua orang yang ada disampingnya sebelum dirinya melangkahkan kakinya dengan lebar menuju ke kelasnya. Meninggalkan 5 mahasiswa yang kini bergerak mencari tempat persembunyian mereka agar bisa mendengar dan melihat apa yang tengah Kenza lakukan.