Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 46


__ADS_3

Adam berjalan menuju ruangannya dengan sesekali ia memijit kepalanya yang terasa ingin pecah itu. Dan saat dirinya telah sampai di depan pintu ruang kerjanya, ia menghela nafas dengan memejamkan matanya sesaat untuk menghalau rasa pusing di kepalanya itu karena ia tak ingin Yola melihat dirinya tengah sakit seperti ini. Dan setelah ia siap, tangannya bergerak membuka pintu ruang kerjanya. Saat pintu itu terbuka, ruangan itu tampak sepi dan Adam tak melihat keberadaan Yola disana.


"Yola," panggil Adam setelah dirinya masuk kedalam ruangannya. Tapi sayang, ia tak mendengar sautan dari Yola sama sekali. Bahkan matanya yang sedari tadi bergerak menelusuri setiap sudut ruangan tersebut, ia tak bisa melihat keberadaan perempuan tersebut.


"Kemana orang itu? Apa dia sudah pulang? Berani sekali dia tidak menuruti ucapanku tadi," geram Adam sembari tangannya kini bergerak meraih ponselnya lalu setelahnya ia langsung menelepon nomor Yola yang sekarang ia simpan dalam kontak ponselnya.


Satu kali sambungan telepon itu tak diangkat oleh Yola.


Adam terus mencobanya hingga sudah terhitung 5 kali ia mencoba untuk menghubungi Yola tapi sayangnya selama 5 kali itu pun teleponnya tak diangkat sama sekali oleh Yola.


"Yola! Satu kali lagi kamu tidak mengangkat teleponku. Aku akan menghukummu!" geram Adam sembari menelepon Yola kembali.


Yola yang masih disibukkan dengan makanan yang akan ia beli, ia baru tersadar jika ponselnya tengah berbunyi saat ini. Dan dengan cepat Yola merogoh ponselnya, betapa terkejutnya dia saat nama calon imam tertera di layar ponselnya. Tak ingin menunggu waktu lama, Yola kini menggeser ikon telepon berwarna hijau itu sebelum ponselnya ia dekatkan ke telinganya.


"Ha---" Belum sempat Yola berkata Halo, suara Adam sudah lebih dulu masuk kedalam telinganya.


📞 : "Dimana?" tanya Adam to the point.

__ADS_1


"Saya---"


📞 : "Kamu sudah pulang kan? Kenapa kamu bisa-bisanya pulang saat saya menyuruhmu untuk menunggu saya tadi? Kalau kamu tadi tidak bersedia untuk menunggu saya kembali lagi, bilang lebih awal. Toh kalau kamu tidak mau, saya juga tidak akan memaksamu untuk tetap menunggu saya disini. Tapi jangan begini juga, saat kamu berkata ingin menunggu saya justru kamu malah pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan sedikitpun. Apa kamu kira saya tidak khawatir saat saya kembali kedalam ruangan saya tapi tidak ada kamu disini? Saya khawatir Yola, saya sangat khawatir saat kamu tidak ada disini tadi!" omel Adam panjang lebar. Dan bukannya omelan itu membuat Yola takut, perempuan itu justru kini tersenyum kala ia mendengar kalimat Adam yang mengatakan jika laki-laki itu tengah mengkhawatirkan dirinya.


"Apa saya tidak salah dengar jika dokter Adam sekarang tengah mengkhawatirkan saya?" tanya Yola untuk memastikan.


📞 : "Tidak. Jadi katakan kamu sekarang ada dimana? Apa kamu sedang berada di jalan pulang? Ck, kenapa kamu tidak menunggu saya agar kita bisa pulang bersama?!" geram Adam. Entah kenapa laki-laki itu tak suka jika Yola meninggalkan dirinya saat ini. Padahal biasanya ia sangat bahagia saat Yola menjauh darinya. Apa dirinya sekarang sudah kalah dengan perjanjian yang dibuat oleh Yola waktu itu? Apa benar perempuan itu sudah berhasil menaklukkan hatinya yang sebelumnya membeku itu? Entahlah Adam juga tidak tau dengan perasaannya sendiri.


"Dokter Adam jangan marah-marah dulu. Saya tadi kan belum jawab saya dimana. Jadi tenang dulu oke karena saya sekarang bukan berada di jalan pulang ke rumah melainkan saya sedang berada di supermarket, beli cemilan," ucap Yola.


📞 : "Supermarket mana?"


📞 : "Tunggu disana. Jangan kemana-mana!" perintah Adam sebelum sambungan telepon tersebut terputus dan hal tersebut membuat Yola menjauhkan ponselnya lalu menatap layar ponselnya yang sudah tak terlihat tulisan calon imam di sana. Tapi sesaat setelahnya Yola menggedikkan bahunya dengan tangan memasukkan kembali ponselnya itu ke saku celananya kemudian ia kembali memilih cemilan kesukaannya itu.


Sedangkan disisi lain, Adam sudah melepas jas dokternya dan dengan meraih ponsel, dompet serta kunci mobilnya ia segera keluar dari ruangannya itu dengan berlari kecil menuju ke parkiran rumah sakit. Banyak orang yang melihat Adam dengan penuh tanda tanya di kepala mereka, terutama para dokter dan suster yang mengenal betul Adam, laki-laki yang jarang sekali berlari kecuali memang ada hal genting yang mengharuskan dirinya segera sampai ke tempat tujuannya. Dan mungkin laki-laki itu tengah berlari-lari seperti yang mereka lihat saat ini karena Adam tengah mendapat panggilan darurat dari keluarganya atau mungkin dari pasein rawat jalannya, pikir para suster dan dokter itu.


Adam yang telah sampai di parkiran rumah sakit, ia segara masuk kedalam mobilnya lalu menjalankan mobilnya itu menuju ke supermarket di samping rumah sakit itu.

__ADS_1


Dan hanya butuh waktu 2 menit saja ia telah sampai di supermarket yang didatangi Yola. Dan tak menunggu lama, Adam segara masuk kedalam supermarket tersebut mencari keberadaan Yola.


Saat dirinya masuk kedalam deretan rak makanan ringan, saat itu juga matanya bisa menangkap sosok Yola disana yang tengah mendorong trolinya dengan tangan yang sibuk memilih makanan yang akan ia beli. Adam yang sudah melihatnya pun dengan langkah lebar ia mendekati Yola dan...


Happp!


Adam memeluk tubuh Yola dari belakang yang membuat Yola terperanjat kaget. Dan sebelum dirinya melakukan aksi pemberontakan, wangi maskulin yang sangat familiar menyeruak ke hidungnya dan ia tau siapa pemilik wangi itu. Dan benar saja saat dirinya menolehkan kepalanya, ia melihat laki-laki yang sudah hampir 3 bulan ini ia dekati tengah memeluk tubuhnya dengan dagu laki-laki itu yang di senderkan di bahunya.


"Do---dokter Adam," gugup Yola.


"Kenapa? Kamu tidak suka saya peluk?" tanya Adam dengan tatapan tajamnya. Dan pertanyaannya tadi langsung membuat Yola menggelengkan kepalanya. Jujur saja, Yola tidak menolak sama sekali pelukan itu tapi Yola tengah malu karena aksi dari Adam saat ini menyita perhatian semua orang yang ada di supermarket tersebut. Bahkan karena hal tersebut banyak para lambe turah yang tak segan-segan mencemooh mereka berdua. Tapi tak hanya itu saja banyak yang menatap iri Yola karena memiliki pasangan sesempurna Adam. Ada juga yang menatap mereka dengan tatapan suka akan keromantisan mereka berdua.


"Dokter Adam. Bisa tidak jika pelukannya di lepas dulu," pinta Yola dengan suara lirih yang masih bisa didengar oleh Adam.


"Tuh kan benar apa yang saya katakan tadi jika kamu tidak suka saya peluk," ujar Adam sembari melepaskan pelukannya dengan kasar.


"Bu---bukan begitu Dok. Tapi saya malu di lihatin banyak orang seperti ini," ucap Yola yang membuat Adam kini mengedarkan pandangannya ke segala arah dan benar saja apa yang dikatakan oleh Yola tadi jika mereka kini tengah menjadi pusat perhatian. Dan hal tersebut membuat Adam berdehem sebelum dirinya kembali berucap.

__ADS_1


"Ehemmm kamu sudah selesai berbelanja?" tanya Adam yang diangguki oleh Yola.


"Kalau begitu, ke kasir sekarang kita bayar belanjaanmu itu," ujar Adam sembari mengambil alih troli dari tangan Yola dan mendorongnya menuju ke arah kasir yang untungnya saat itu tak antri. Sedangkan Yola, perempuan itu hanya bisa pasrah saja mengikuti langkah Adam dibelakang laki-laki itu.


__ADS_2