Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 94


__ADS_3

Dihari kelima pasca kecelakaan itu kondisi Adam sudah sangat membaik dari sebelumnya, bahkan laki-laki itu kini sudah di perbolehkan untuk pulang. Dan selama 5 hari itu juga, Tristan yang masih berusaha untuk menghubungi Yola, usahanya itu sama sekali tidak mendapatkan hasil yang ia inginkan. Semua akun media sosial milik Yola masih belum aktif dan hal tersebut benar-benar membuat Tristan frustasi sendiri. Dan karena saking kesal, ia berdecak di depan Adam yang tengah di bantu turun dari brankar oleh Erland.


"Kenapa?" tanya Adam setelah mendengar decakan dari sang sahabat.


"Ah tidak apa-apa. Aku hanya tengah sebal dengan seseorang saja," jawab Tristan dengan cengirannya. Adam selama ini belum tau jika ia tengah berusaha untuk menghubungi Yola, dan Tristan pun juga tidak akan mengkhianati janji yang ia buat dengan Yola waktu itu.


Dan daripada apa yang dia lakukan saat ini menimbulkan kecurigaan kepada dua laki-laki yang berada di hadapannya itu, ia langsung memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas dokternya itu.


"Jangan kerja dulu sebelum kamu benar-benar pulih dan sehat," ucap Tristan kala Adam sudah berada di kursi roda. Memang kakinya tidak mengalami patah tulang namun ia masih merasa sakit saat kakinya itu ia gunakan untuk berjalan.


Adam menganggukkan kepalanya, meng-iya-kan apa yang dikatakan oleh sahabatnya tadi.


"Aku titip semua pasienku ke kamu, titip juga rumah sakit ini. Jika ada masalah yang benar-benar besar di rumah sakit ini, segara hubungi aku," ujar Adam.


"Siap. Ya sudah kalau gitu kalian hati-hati. Terutama kamu, Er. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," ucap Tristan memperingati.


"Lama-lama bang Tristan kayak emak-emak yang lagi ngomongin anaknya kalau mau berangkat sekolah." Bukannya meng-iya-kan ucapan dari Tristan tadi, Erland justru malah mencibir laki-laki tersebut.


Dan hal itu membuat Tristan mendelikkan matanya, tak terima.


"Enak saja aku disamakan dengan emak-emak. Heyyy aku itu hanya mengingatkan kamu karena aku tidak mau kejadian Adam beberapa hari yang lalu keulang lagi," protes Tristan. Dan saat Erland ingin menimpali ucapan dari sahabat Kakaknya itu, Adam lebih dulu bersuara.


"Sudah-sudah jangan bertengkar. Dan lebih baik kamu sekarang ke kamar pasien kamu sana. Kasihan dia kalau harus menunggumu," tutur Adam yang ia tujukan ke Tristan.

__ADS_1


"Dan untuk kamu, Erland. Ayo kita pulang sekarang," sambung Adam yang membuat Erland menganggukkan kepalanya sebelum dirinya mulai mendorong kursi roda Adam itu keluar dari kamar inap yang di tempati Adam beberapa hari ini.


Tapi sebelum dirinya benar-benar keluar, ia sempat menolehkan kepalanya kearah Tristan dengan memberikan gesture kedua jarinya yang ia arahkan ke matanya dan mata Tristan secara bergantian. Dan saat ia merasa jika Tristan akan murka ia langsung menolehkan kepalanya kearah depan kembali dan mempercepat dorongan pada kursi roda Adam itu.


Sedangkan Tristan yang melihat jika Erland sudah menjauh dari dirinya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya sebelum ia juga melangkahkan kakinya menuju ke ruang inap pasiennya.


Sedangkan disisi lain, Kenza kembali di buat murka setelah berhari-hari ia tak kunjung menemukan keberadaan Yola, dan tak hanya itu saja yang menjadi alasan dirinya marah saat ini karena selain ia tak menemukan Yola, ia juga tidak bisa bertemu dengan Adam. Ia sudah mencari laki-laki itu dari apartemen Adam, rumah sakit hingga ia sempat memantau rumah keluarga Abhivandya. Tapi tanpa sepengetahuan dia, jika keluar Abhivandya sudah tidak menempatkan rumah yang di pantau oleh Kenza itu.


Dan dugaannya saat ini adalah jika Adam dan Yola tengah kabur berdua dan menikmati kebersamaan mereka.


Dan otaknya itu semakin dibuat tak tenang saat ia harus kembali ke Beijing besok pagi dengan keadaan ia tak bisa memisahkan Yola dan Adam.


"Sialan. Aku tidak akan bisa tenang jika harus pergi dari negara ini jika aku belum menemukan dimana mereka berada dan aku juga tidak akan tenang jika mereka belum saling menjauh," ucap Kenza dengan menerawang jauh ke arah depan.


Kenza kini menggigit kuku jarinya, "Tapi aku benar-benar belum ikhlas jika aku akan kembali besok. Tapi jika aku masih ingin lama disini, dengan cara apa aku harus beralibi nanti jika Papa mencurigaiku?" pikirnya.


Hingga beberapa menit, akhirnya ia mendapat sebuah ide yang membuat dirinya kini beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke kamar Heila.


Tok tok tok!!


"Heila buka pintunya!" teriak Kenza kala dirinya telah berdiri di depan pintu kamar milik tangan kanannya itu.


Heila yang berada di dalam dan tengah membereskan keperluannya yang akan ia bawa kembali ke Beijing pun ia menghela nafas kala mendengar gedoran dan teriakan dari Kenza tadi. Dan dengan malas ia segara berjalan dan membuka pintu kamarnya itu.

__ADS_1


"Iya, kenapa?" tanya Heila.


"Segara hubungi Papa. Kasih tau Papa jika kita berdua tengah melakukan perjalanan bisnis dan kita akan kembali 1 bulan lagi," perintah Kenza.


"Tunggu sebentar, maksud anda, saya disuruh berbohong lagi kepada tuan besar?" Dengan santainya Kenza menganggukkan kepalanya.


"Yang benar saja Nona. Come on, kalau saya ketauan berbohong, bukan anda yang rugi tapi saya. Saya yang akan rugi Nona. Saya yang akan mendapat hukuman dari tuan bukan Anda," ucap Heila yang sepertinya sudah tidak bisa sabar lagi untuk menghadapi atasannya itu.


Dan karena Heila yang memberontak dan tak menuruti ucapannya tadi, membuat Kenza mendelik tak terima.


"Beraninya kamu menaikkan nada suaramu kepada atasanmu sendiri. Heila, sadar, kamu itu hanya seorang bawahan yang tak pantas dan tidak memiliki hak untuk menolak semua perintah dari atasanmu. Dan perlu kamu ingat jika yang membayar kamu itu bukan Papa tapi saya. Jadi cepat lakukan apa yang saya perintahkan tadi," ujar Kenza tak kalah meninggikan suaranya itu.


"Tidak. Saya tidak akan melakukan apa yang di perintahkan oleh anda. Menang benar anda yang membayar saya tapi sebelum saya bekerja dengan anda, saya sudah bekerja lebih dulu dengan tuan besar. Beliau juga yang berhak menghukum ataupun mengeluarkan saya dari perusahaan yang tengah Nona jalankan ini karena saya masuk ke perusahaan itu melalui beliau bukan anda. Jadi sudah cukup saya membohongi tuan besar, saya tidak mau lagi untuk melakukan hal itu," ucap Heila dengan tegas.


"Oh jadi kamu sekarang berpihak kepada Papa saya?"


"Ya," jawab Heila dengan mantap.


"Kamu sudah tidak mau menuruti perintah saya lagi?!"


"Tidak akan. Karena anda benar-benar sudah kelewatan Nona. Anda juga sangat egois, mementingkan diri anda sendiri tanpa melihat orang yang menjadi korban atas keegoisan anda ini. Anda tidak pernah memikirkan nasib Jessica di kantor sana yang selalu mengerjakan pekerjaan yang seharusnya bukan pekerjaannya tapi pekerjaan anda. Anda tidak pernah berpikir konsekuensi yang akan saya dapatkan jika tuan besar tau kalau saya merahasiakan kepulangan kita ini. Dan masih banyak lagi orang yang terkena imbas dari keegoisan anda. Tapi anda tidak pernah berkaca diri," ujar Heila yang meluapkan unek-unek dalam hatinya itu. Dan ucapan dari Heila tadi membuat tangan Kenza kini mengepal erat sebelum.


Plakkkk!

__ADS_1


Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Heila.


__ADS_2