Mengejar Cinta Dokter Tampan

Mengejar Cinta Dokter Tampan
Eps 25


__ADS_3

Sedangkan laki-laki yang sempat bertemu dengan Yola tadi, kini ia menghentikan langkahnya disalah satu ruangan dokter. Dan dengan mengetuk sebentar, tanpa menunggu jawaban dari seseorang didalam ruangan itu ia membuka pintu tersebut.


Dan apa yang dilakukan olehnya membuat seorang Dokter dan suster yang sedari tadi curi-curi pandang kearah dokter tersebut yang tak lain adalah dokter Adam, mengalihkan pandangannya kearah pintu ruangan itu.


Sedangkan laki-laki yang menjadi pusat perhatian oleh kedua manusia berjenis kelamin berbeda itu, tak memperdulikan pandangan mereka dan ia memilih untuk terus melangkahkan kakinya mendekati meja kerja Adam. Lalu setelah sampai laki-laki itu langsung duduk di hadapan Adam.


"Fayyola Mafaza Orlin," ucap laki-laki itu tiba-tiba yang membuat Adam mengerutkan keningnya.


"Perempuan itu habis kesini kan?" sambungnya yang membuat Adam memutar bola matanya malas.


"Darimana kamu tau?" Laki-laki itu menggedikkan bahunya.


"Selama satu hari ini dia jalan meleng sampai nabrak tubuhku dua kali. Dan darimana aku tau dia, aku sempat berkenalan dengannya karena dia sangat menggemaskan sama seperti yang dikatakan Mommy tadi malam. Selain menggemaskan dia juga sangat cantik, bukankah begitu bang?" ucap laki-laki itu yang membuat Adam mendengus.


"Jika kamu tertarik sama dia. Ambil saja, Er. Abang tidak butuh perempuan gila seperti dia," ujar Adam yang membuat laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Erland terkekeh.


"Dia tidak gila seperti yang kamu katakan kemarin sama kita bang. Dia 100% masih waras. Tidak ada riwayat sakit jiwa selama ini. Jadi berhentilah buat membohongiku termasuk Mommy karena aku sudah tau identitas dia," ucap Erland.


"Ahhhh dan untuk tawaran Abang yang tadi, sepertinya menarik juga. Tapi jika Erland mendekati dia, apa Abang rela?" Tanya Erland sembari menyenderkan punggungnya di senderan kursi tersebut dengan mata yang melirik sinis kearah suster Nana yang sepertinya diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua.


"Sangat-sangat rela. Jadi tolong segera dekati dia dan jauhkan dia dari Abang," ujar Adam. Sepertinya jika memang Erland ingin mendekati Yola, ini juga merupakan salah satu cara agar dia bisa segera terbebas dari perempuan itu.

__ADS_1


"Abang yakin? Tidak akan menyesal di kemudian hari?"


"Tidak akan. Untuk apa Abang menyesal hanya karena dia? Abang malah bersyukur jika memang dia bisa menjauh dari Abang," ujar Adam tanpa keraguan sedikitpun. Dan hal tersebut membuat Nana diam-diam mengukir sebuah senyuman yang bisa ditangkap oleh Erland.


"Tapi kenapa Erland yakin suatu saat nanti Abang akan menyesali kepergian dia, ya?" ucap Erland dengan mengetuk-ngetuk dagunya sendiri.


"Tidak mungkin. Dokter Adam tidak mungkin menyesali kepergian perempuan gila itu." Suara nyaring dari meja sebelah membuat kedua laki-laki itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara yang kini dengan cepat menutup bibirnya dengan kedua tangannya.


"Maaf anda siapa ya? Kenapa anda sangat ikut campur dengan pembicaraan kita? Dan apa pantas jika anda menguping pembicaraan kita berdua? Dimana sopan santun anda sehingga melakukan hal itu?" ucap Erland yang membuat Nana kini menundukkan kepalanya.


"Maaf saya---"


"Sudahlah Er, pembicaraan kita juga tidak penting. Tidak masalah jika suster Nana mendengarkan pembicaraan kita," timpal Adam yang membuat Erland langsung menolehkan kepalanya kearah Adam.


"Tidak. Kamu jangan bicara omong kosong," ujar Adam yang berhasil membuat senyum Nana luntur seketika.


"Benarkah? Jika Yola sudah kamu tolak dan bukan dia juga yang kamu sukai. Terus siapa sebenarnya orang yang sedang Abang tunggu?"


"Sudah, cukup hentikan semua omong kosongmu itu Erland. Dan pergilah jika kamu tidak ada kepentingan bertemu dengan Abang. Abang masih banyak kerjaan yang harus Abang selesai dan tidak ada waktu untuk mendengar celotehanmu itu. Lagian kamu kenapa malah keluyuran seperti ini bukannya ke kantor. Jika Daddy tau, Abang yakin kamu akan kena omel 3 hari 3 malam sama Daddy dan Mommy," ujar Adam dengan mengalihkan pandangannya kearah kertas dihadapannya itu.


"Mereka tidak akan ceramah sepanjang itu karena Erland kesini juga bukan sekedar keluyuran melainkan Erland akan bertemu dengan klien yang kebetulan beliau mau bertemu di restoran didepan rumah sakit ini karena katanya istrinya lagi masuk di rumah sakit ini. Dan dia tidak bisa meninggalkan istrinya dengan jarak yang jauh tapi dia juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk bekerjasama dengan perusahaan Daddy. Jadi aku sebagai manusia yang memiliki rasa simpati dan berperikemanusiaan yang tinggi, aku memutuskan untuk melakukan pertemuan di restoran depan rumah sakit ini," jelas Erland.

__ADS_1


"Kamu mau bertemu klien?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Dengan pakaianmu yang seperti ini?" Erland memincingkan alisnya kemudian ia menatap celana dan baju yang tengah ia kenakan saat ini.


"Memangnya kenapa dengan pakaianku? Aku rasa tidak ada yang salah," ujar Erland dengan santai.


"Tidak ada yang salah kamu bilang? Kamu mau bertemu dengan klien Erland bukan mau bertemu dengan geng motormu itu. Harusnya kamu pakai baju formal bukan memakai baju polos dilapisi jaket denim dan celana kamu astaga, celana sobek-sobek seperti ini. Lebih baik kamu pulang dan ganti pakaianmu," ucap Adam yang tak habis pikir dengan penampilan Erland yang kelewat santai itu.


"Mana aku peduli. Kalau dia keberatan dengan penampilanku yang seperti ini, dia tinggal batalin niat kerjasamanya dengan perusahaan Daddy, gampangkan?" ujar Erland yang membuat Adam geleng-geleng kepala.


"Terserah kamu," final Adam yang tak ingin membahas hal tersebut yang sama sekali tak membuat Erland langsung merubah penampilannya saat ini juga.


Erland menggedikkan bahunya dengan tatapan mata yang kini menyapu keseluruhan meja kerja Adam. Banyak sekali kertas-kertas di atas meja tersebut tak kalah banyak dengan meja kerjanya di kantor. Hingga tatapan matanya tak sengaja menatap ke sebuah box makanan.


"Makanan dari siapa?" tanya Erland yang membuat Adam melirik kearah box makanan dari Yola yang belum sempat ia singkirkan.


"Dari orang gila. Jika kamu mau, makan saja," ujar Adam sebelum dirinya melanjutkan perkejaannya.


Erland yang paham siapa yang dimaksud oleh Adam pun ia menganggukkan kepalanya sembari tangannya bergerak untuk mengambil box makanan tadi kemudian ia membukanya.


"Wahhhhh sepertinya enak juga nih makanan yang dibawa Yola. Selain cantik, lucu, gemesin ternyata dia juga perhatian. Kalau aku jadi kamu nih ya bang, aku tidak akan pernah ragu buat jatuh cinta sama dia. Secara dia cukup sempurna jika dijadikan seorang kekasih ataupun seorang istri," ucap Erland dengan mata yang fokus ke makanan tadi sebelum dirinya mulai menyuapkan makanan tadi kedalam mulutnya.

__ADS_1


Sedangkan Adam, ia hanya memutar bola matanya malas. Ia sudah tak ingin membalas ucapan dari adiknya itu yang jika ia balas pasti dia akan berbicara omong kosong seperti sebelumnya.


__ADS_2