Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 10.Bantulah Aku!*


__ADS_3

“Sudahlah, Bby! Aku mau melanjutkan ritual mandiku, kamu keluar dulu gih!” sahut Alana sewot, karena bathrobenya sudah terbuka lebar.


“Galak banget sih istriku yang manis.” Rayu Saka, masih kekeuh membelai belai tubuh


Alana untuk membuat Alana mendesah lagi pagi itu. Tapi Alana yang masih merasakan rasa sakit di seluruh badannya berusaha mengabaikan Saka. Aja gila deh, masa semalaman belum cukup sih!


“Bby, baju dan pakaian dalam dimana ya? Aku mau bawa masuk ke dalam kamar mandi jadi aku ga usah dua kali kerja.” tanya Alana sambil berusaha menepis tangan nakal Saka


yang masih tidak putus asa untuk berusaha.


“Kamu gak butuh itu hari ini, sayang… kamu hanya butuh aku saja.”  suara serak Saka menandakan bahwa ada sesuatu yang harus dilepaskan. Pundak Alana yang terbuka menjadi sasaran Saka.


Saka emang paling pandai mencari titik lemah dari tubuh Alana. Bahkan Alana yang tadinya menepis dan menolak Saka, sekarang sudah mulai menyerah. Saka tahu bahwa Alana sudah mulai takluk, ia tidak menyia yiakan kesempatan yang diberikan Alana, tangan Alana bahkan tidak lagi menepis tangan Saka yang bergerilya di atas tubuh Alana.


“Bby, ahhhhh” desahan yang lolos di bibir Alana memacu semangat Saka untuk terus


bergerilya menaklukkan Alana.


“Panggil namaku, sayang.” bisik Saka di telinga Alana. Posisi mereka yang menempel di dinding dekat kamar mandi, dalam kondisi tanpa busana membuat sensasi yang


berbeda bagi mereka berdua. Mereka mencoba sesuatu yang baru agar membuat pasangannya merasa dipuja.


“ Sakaaa, hubbyyy… ahhhh” sambil melingkarkan kakinya dipinggang Saka. Lalu Saka masuk ke dalam kamar mandi dengan menggendong Alana yang seperti koala. Bath tube yang sudah diisi dengan air hangat dan aromatheraphy menjadi tujuan Saka. Aromatheraphy yang menenangkan membuat keduanya semakin terhanyut dalam romantisme pasangan pengantin baru. Desahan, erangan, dan teriakan kecil mewarnai suasana kamar mandi yang memanas.


Alana kembali harus menyerah dengan politik Saka yang begitu mudah memperdaya Alana untuk takluk dibawah kungkungan tubuh perkasa Saka.


 ***


Alana terbangun saat makan siang diantarkan ke kamar penthouse mereka.


“Kamu keterlaluan, Bby!” seru Alana dengan suara tertahan. Tubuhnya  bener bener lemah, gara  gara peperangan sengit pagi itu. Dan yang bikin Alana tambah kesel adalah semua peperangan dimenangkan oleh Saka. Alana


yang masih sebal dengan Saka yang hanya tersenyum senyum dengan wajah tanpa rasa bersalah.


“Aku mau pulang! Aku sudah kangen sama Genta… Bby… dia pasti merindukan aku juga.” kata Alana sambil mengunyah makanannya.


Saka hanya tersenyum melihat Alana yang makan seperti orang yang belum lihat makanan setahun.


“Sayang…pelan pelan saja makannya, kamu kayak Genta saja sih, makan masih belepotan.” ujar Saka sambil membersihkan bibir Alana yang belepotan saus steak yang dimakannya.


 “Habisnya, aku melewatkan makan pagi karena dimakan habis oleh suami yang mesum.” sindirnya sambil melirik tajam ke arah Saka, suaminya yang tidak terpengaruh dengan sindirannya, malah dengan elegan

__ADS_1


dan anggun menyelesaikan makannya. Hal itu membuat Alana tambah sewot.


“Kalau sudah selesai makannya, kamu bisa ganti baju dengan yang sudah aku siapin didalam walk in closet. Baju dalammu pun udah kusuruh sekretarisku yang membelinya. “lanjut Saka sambil memandangi wajah istri barunya itu. Saka ingin menemukan ekspresi


Alana yang terkadang lucu dan menggemaskan.


“ Hah?Pakaianku si Lio yang beli?” tanya Alana dengan mata yang membulat


sempurna sehingga tampak imut.


“Tentu saja tidak, enak aja Lio beliin pakaian kamu, kayak dia menyentuh kamu dong. Si Lita, sekretarisku yang membelinya. Untuk selanjutnya kita habis ini akan belanja untuk kebutuhan kamu dan Genta di rumah baru kita nanti. “ lanjut.Saka dengan nada santai.


“Lita? Kamu juga punya sekretaris perempuan?” tanya Alana lagi.


“Ya punyalah… Sekretaris aku ada 2, si Lita dan Alex, sedangkan asisten pribadiku


satu, ya si Lio itu. Nanti mereka harus kenal sama kamu karena kamu juga akan


kerja sama aku di kantor kelak. Anggap saja ini masih masa cuti kamu.” Jelas


Saka masih sibuk mengecek ponsel pintarnya yang berisi angka angka dan email


email yang dikirim dari kantornya.


“Resign lah dan kerja denganku. Selain salary yang lebih tinggi, aku lebih membutuhkanmu.”


potong Saka sambil masih sibuk dengan kedua ponsel pintarnya.


“Tapi Bby..” Alana masih ingin mengungkapkan argumennya.


“Keluarlah dari pekerjaanmu yang sekarang dan bantulah aku. Aku lebih membutuhkan kamu, sayang.” potong Saka dengan nada yang sangat lembut. Saka tahu, untuk


meruntuhkan argument Alana ia harus memberi logika dan alasan yang jelas, dan


tentunya dengan kelembutan.


“Baiklah, aku akan mengurus surat resignku besok. Hari ini aku ijin tidak masuk, gara


gara kemarin banyak nyamuk nakal yang menggigit leherku.” sindir Alana, karena


Saka tidak menanyakan kenapa dia tidak masuk kerja, padahal Saka juga tahu

__ADS_1


kalau Alana tidak pernah ijin kerja karena takut kalau gajinya akan terpotong.


“Kalau cuman digigit lehernya kan bisa ditutup pake syal dong, sayang.” sahut Saka dengan lembut, masih juga matanya berfokus dengan email yang ia buka di ponsel pintarnya.


“Emang sulit ya, nyindir nyamuk yang bebal. Emang kerjaanmu banyak ya, Bby? “ tanya Alana.


“Hmm… makanya aku suruh kamu bantu aku. Kamu kan pintar. Sia sia kalau kamu kerja sama orang lain. Biarlah kepandaianmu untuk bantu aku aja ya?” mohon Saka lagi.


“Emang apa kerjaanku? “ tanya Alana antusias.


“Jadi asisten pribadiku merangkap sekretaris.” Sahut Saka singkat.


“Kamu kan sudah punya Lio, Lita dan Alex?” tanya Alana lagi dengan nada heran.


“Ehm kamu lebih ke hal hal yang pribadi. Kalau mereka mengurus masalah kantor dan luar kantor. Kalau kamu cukup mengurus semua kebutuhan pribadi, sampai yang paling


pribadi.” jelas Saka sambil mengerling manja, membuat Alana hanya bisa memutar bola matanya tanda jengah dengan perkataan Saka.


“Bby… kalau aku hamil boleh gak aku masih kerja? “ tanya Alana lagi.


“Kamu gak kasian dengan babynya?” tanya Saka balik.


“Dulu waktu aku hamil Genta juga kerja kan, Bby! Jadi sbenernya gak apa asal bisa jaga


diri.” sahut Alana dengan nada hati hati.


“Hah! Baiklah, kita bahas saat itu terjadi saja, dan kita lihat kondisinya lagi, okey?” jawab Saka diplomatis. Gak jawab boleh tapi juga gak jawab tidak.


“Ehm… Bby, kalau Yara dulu dibagian apa? Sekretaris pribadi juga?” tanya Alana ingin tahu.


“Enggak… dia  wakil CEO, bagian perhotelan dan resort.” Jelas Saka.


“Ehm kemarin Yara bilang kalau karena masalah kesehatan, dia ingin resign. Dan dia minta aku yang menggantikannya.” Sahut Alana ragu ragu.


Saka memandang Alana dengan sorot mata penuh kasih sayang.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2