
*5 bulan kemudian*
Waktu emang berlalu begitu cepat. Kehamilan Alana sekarang sudah jalan hampir 7 bulan. Perutnya yang tadinya datar sudah tampak membukit, meskipun untuk kehamilan ini dia tidak mengalami kenaikan berat badan yang signifikan. Bagaimana bisa naik berat badan karena selama kehamilannya ini si baby mogok makan. Jadi Alana hanya makan kalau lapar saja,rasanya beda saat ada Saka disisinya, karena mungkin baby ga suka berjauhan dengan daddynya kali ya.
Mungkin karena Alana melewati hari harinya dengan cukup sulit, karena Saka benar benar ada jauh darinya. Sulitnya karena anak yang ada di kandungannya merindukan daddynya. Mungkin mommynya juga merindukan daddynya. Karena selama 5 bulan ini Saka hanya bisa meluangkan waktunya bersama Alana hanya seminggu dalam 1 bulan. Apakah Saka tidak adil? Kalau netijen pasti bilang Saka ga adil, dia hanya menganggap Alana sebagai pemuas nafsu dan rahim pengganti. Tapi mungkin dianggap adil bagi Saka karena menurutnya adil itu bukan membagi waktunya sama persis dengan Yara dan Alana. Karena kondisi Yara yang naik turun, kadang sehat dan kadang drop yang membuat Yara belum bisa sepenuhnya bisa ditinggalkan oleh Saka.
Saka juga melebarkan sayap bisnisnya ke Penang. Supaya selain dia bisa menjaga Yara dia juga bisa memperlebar kerajaan bisnisnya. Jadi selama di Penang Saka disibukkan dengan Yara dan pekerjaan yang tiap hari menumpuk harus cepat diselesaikan.
"Alana. Ayo makan dulu." ajak ibu Irsyana dengan nada lembut. Ibu melihat Alana sekarang lebih banyak melamun, ia juga mengerti sangat sulit berada di dalam posisi Alana. Kalau biasanya orang hamil rasanya ingin selalu dekat dengan suaminya tapi Alana kadang harus menjalani hari harinya seorang diri. Keadaannya yang tidak jauh beda dengan kelahiran Genta. Alana hanya menghela nafasnya dengan perlahan. Ia tidak mau ibu nya Saka mengetahui kegundahannya. Padahal hatinya rasanya sakit dan sesak.
"Iya bu, Sebentar lagi. Lana belum terlalu lapar." sahutnya perlahan. Ia masih ingin menikmati sepoi angin yang membelai tubuhnya.
"Alana, anakku. Kamu kan dengar sendiri apa kata dokter Clara kemarin. Meskipun kamu sudah tidak lagi muntah dan mual, tapi berat badanmu sangat tidak ideal untuk seseorang yang hamil 7 bulan lebih. Kamu lebih mirip.orang yang busung lapar, tau gak? Jadi setidaknya kalau kamu tidak ingin makan. Kamu pikirkanlah anak yang ada di dalam kandungan mu." nasihat ibu Irsyana lembut. Ia tahu Alana gundah. Tapi Alana sedang berusaha menutupi kegalauannya dan ibu Irsyana sangat maklum dengan itu.
__ADS_1
"Baiklah, bu." jawab Alana yang akhirnya mengalah. Emang dia tidak boleh egois, anak yang ada di dalam kandungannya inilah yang harus ia pikirkan. Dia juga merasa bersalah karena semenjak ia hamil, Genta pun tidak bisa ia urus dengan sempurna. Ia merasa menjadi ibu yang tidak baik. Karena tidak.bisa membuat anak dalam kandungannya itu bahagia.
Pikirannya melayang layang. Antara malas, antara bosan dan terbersit keinginan untuk berpisah dari Saka. Ia merasa bukan orang yang bisa ikhlas dengan suami yang terbagi bagi macam ini.
"Alana ayo.." ternyata ibu Irsyana masih menunggu Alana untuk berjalan bersama dia ke ruang makan. Ibu tahu kalau dia meninggalkan Alana, pasti akan berakhir Alana tidak akan makan.
"Ibu, aku.." Alana tidak dapat melanjutkan perkataannya. Ia menangis memikirkan skenario kehidupannya yang begitu rumit. Kehamilan membuat hormonnya tambah gak karuan. Kenapa ia tidak bisa seperti wanita lainnya. Gak suami pertama, gak suami kedua. Menurutnya skenario yang dipilih Allah buatnya terlalu rumit.
Ibu Irsyana menghampiri Alana dan memeluknya dengan erat.
Air mata kesedihan merasakan ada seorang wanita yang harus rela menerima cinta yang terbagi demi anak semata wayangnya. Bukan hanya sekedar membagi cinta, tapi juga harus menjadi objek penderita melahirkan anak dan keturunan bagi keluarganya.
" Bu, Lana mau pergi liburan bersama Genta ke Bali. Tolong ibu jangan bilang Saka ya! Alana mau menenangkan diri. Ibu tenang saja, Alana ga bakalan melarikan diri kok. Alana cuman ingin refreshing bersama Genta. Karena setelah anak ini lahir, Alana pasti tidak bisa kemana mana. Boleh ya bu? " tanya Alana dengan tatapan mengiba, supaya dikasih ijin oleh ibu Irsyana.
__ADS_1
" Lana, makan dulu. Nanti kita bicarakan lagi keinginanmu. " jawab ibu Irsyana dengan lembut. Ibu nya Saka mengerti, Alana ingin merefresh pikirannya. Alana memakan makanannya dengan malas. Ia hanya mengaduk aduk makanan yanh diambilkan ibu Irsyana, hanya sesekali saja ia memasukkan makanan ke mulutnya. Itupun karena ibu berulang kali mengingatkan Alana kalau ada anak yang ada dalam kandungannya
" Lana, kamu boleh pergi, tapi jangan jauh jauh. Pikirkan juga anak yang ada dalam kandunganmu. Pergilah ke Villa ibu di Lembang. Ibu tidak akan menceritakan kepergianmu kepada Saka, biar saja dia kelimpungan. Ibu juga sebel dengan anak itu. Pekerjaannya selalu aja menjadi alasannya. Kamu ganti nomer sekalian aja, Lana. Tapi ibu harus tetep tahu nomer kamu. Supaya kamu gampang kalau mau menghubungi ibu. Biar nanti ibu yang atur ponsel baru buat kamu. Bawa pengawal, baby sitter dan mbok Sum. Nanti supir ibu yang anter dan jaga disana, supaya kamu kalau mau kemana mana bisa nyaman. Ajaklah si Genta, nanti ibu juga akan mampir kesana. Gimana? Kamu mau kan?" usul ibu Irsyana yang langsung ditanggapi positif oleh Alana. Mata Alana.langsung berbinar bahagia. Ia merasa ibu mertuanya itu sangat menyayangi dirinya. Emang dari dulu ibu ingin punya anak cewe, tapi apa daya setelah ibu keguguran adiknya Saka, ibu tidak bisa lagi melahirkan keturunan untuk ayah Langit.
" Makasih, bu. Lana sayang sama ibu. Jangan bilang Saka ya, bu." sahut Alana kegirangan, matanya pun berbinar binar seperti anak kecil yang dapet permen kesukaannya.
" Iya ibu juga sayang sama kamu. Kamu itu juga anak ibu. Ibu sudah sayang sama kamu dari sejak kamu TK barengan sama Saka. Karena Saka emang perlu dikasih pelajaran, supaya dia ngerti rasanya kehilangan." ujar ibu Irsyana.
" Kamu segera siap siap saja. Langsung malam ini ibu akan antar kamu kesana. Jangan bilang ke ART yang lain. Supaya Saka tidak bisa melacak kamu. Jangan bawa pengawal yang dari Saka, bawa saja pengawal ayah. Nanti pengawal yang dari Saka akan ibu suruh pergi dulu supaya mereka tidak bisa mendeteksi kepergiaanmu."
.
.
__ADS_1
.
TBC