Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 46. Rahasia Yara 1*


__ADS_3

“Aku tidak akan mungkin melepaskanmu!!” sergah Saka cepat. Ia tahu mungkin ini efek dari hormon kehamilan Alana yang membuatnya berpikir macam macam.


“Bby, Yara akan sembuh… aku percaya itu! Seandainya ia tidak memiliki anak dari rahimnya, ia memiliki anak kandung darimu. Aku akan pergi supaya kamu bisa balik sama


Yara dan Kamu juga tidak akan kesulitan membag…”


“Singkirkan pikiranmu itu dari kepalamu, Alana Mahen. Aku tidak suka!!!” bentak Saka sambil menguncang tubuh Alana perlahan, ia juga tidak mau menyakiti Alana, ia hanya


ingin menyadarkan Alana yang tampaknya lagi ngawur pemikirannya.


“Maaf.. “ Alana masih menunduk.


“Sayanggg, jangan kamu berani memikirkan hal hal yang laknat seperti itu. Kamu mau berdosa besar hmm?” tanya Saka sambil mengangkat dagu Alana yang dari tadi masih


menunduk, tidak berani memandang Saka. Alana hanya diam, ia tidak berani


menjawab apa apa karena Alana rasanya sudah mantab berpikir dalam hatinya, kalau


nantinya Yara sembuh, dia akan pergi dari Saka dan Yara, supaya Saka tidak usah


lagi kebingungan dalam membagi cintanya. Dia akan menyerahkan anak yang ia


kandung supaya dirawat oleh Saka dan Yara.


“Sayang, jangan pernah berpikir kalau kamu akan bisa meninggalkan aku.” kata Saka dengan nada tegas. Ia sangat tahu apa yang ada dipikiran Alana, Alana pasti sedang


memikirkan bagaimana cara ia pergi dari Saka, saat ini mungkin dia belum bisa


berbuat apa apa untuk menggagalkan rencana Alana, oleh karena itu ia harus


benar benar menjaga Alana dengan caranya.


“Aku lapar, Bby!” pinta Alana berusaha mengalihkan pikiran Saka, tapi Saka bukan anak kecil usia 5 tahun yang gampang dibodohi oleh Alana, jadi untuk saat ini, ia akan mengikuti permainan Alana.


“Kamu baru saja makan, sayang…”


“Dedek lapar…”


“Baiklah, kamu mau makan apa? Hmm?”tanya Saka dengan nada lembut.


“Kapan kita berangkat mengantar Yara, Bby?” tanya Alana lagi, mengalihkan topik pembicaraan. Kadang kehamilan membuat mood Alana berubah ubah, membuat Saka terkadang gemass dengan tingkah laku iatrinya itu.

__ADS_1


“Nanti sore, Sayang. Kamu mau siap siap dulu?” tanya Saka balik. Alana hanya mengangguk dan berjalan menuju ke kamar mereka, diikuti oleh Saka yang mengekor dibelakangnya.


“Bby, kamu gak kerumah sakit dulu?” tanya Alana heran melihat Saka mengekori dirinya.


“Gak!!Aku nanti langsung berangkat ke Penang, ketemu di Rumah Sakit sana bersama kamu.”


“Bby, gimana sih kamu? Kan kamu mesti ngecek kondisi Yara dulu.” kata Alana sambil berdecak kesal.


“Lalu kamu akan meninggalkan aku?? Itu maksud kamu? Kamu mau lari dariku kan?” tanya Saka dengan nada ketus, Saka mulai terpancing oleh tingkah Alana.


“Bby, aku tidak akan pergi darimu.” kata Alana sambil menggantungkan kata katanya, karena


setidaknya bukan sekarang dia akan meninggalkan Saka, kalau Yara sembuh maka ia akan meninggalkan Saka dan Yara, sehingga Ia tidak akan terjebak ditengah tengah.


Saka hanya menatap netra Alana dengan intens, berusaha mencari kejujuran di mata Alana.


Tapi Alana kembali hanya bisa menunduk, ia tidak sanggup memandang mata Saka yang menatapnya tajam.


“Alana sayangku, kamu lupa? Kita menikah secara sah, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun, kamu dengar? Kalaupun Yara sembuh, kita akan tetap suami istri.” Saka menebaknya dengan benar, Alana langsung mendongak, menatap Saka dengan sejuta pertanyaan dimatanya, bagaimana Saka tahu apa yang dia pikirkan tanpa dia katakan.


“Gak usah nanya, otakmu itu isinya apa aku tahu semua. Aku akan menghukum kamu lebih dari apa yang bisa kamu pikirkan, kalau kamu pergi dariku. Ingat itu!” ancam Saka


dengan nada lirih, ia mengucapkannya ditelinga Alana sehingga hembusan nafas aroma mint Saka tercium oleh Alana.


Selama itu belum terjadi, ada baiknya Alana menyenangkan hati Saka duluan, supaya Saka tidak curiga.


“Kamu itu ya, sebentar mau melarikan diri, sebentar manja, sebentar mau deket deket,


sebentar marah.” desah Saka frustasi menghadapi kelabilan hormon hamil Alana


yang berubah ubah.


“Bby, aku gak akan melarikan diri, kamu kan tahu dedek cuman mau deket deket sama Daddynya, kalaupun aku mau pergi gak sekarang juga kaleee, jadi kamu ke Rumah sakit saja ya, untuk mengecek kesiapan Yara  untuk keberangkatannya nanti. Jangan bikin


paman Yara marah marah dan melimpahkan kemarahannya sama aku. Nanti dipikir


aku lagi yang mempengaruhi kamu untuk meninggalkan Yara dan tidak


memperhatikannya.” rajuk Alana lagi.


Saka hanya menatap Alana dengan gemas, saat Alana merajuk seperti ini, Alana tampak imut imut menggoda. Arghhhh Alanaaaaa!!! jerit Saka dalam hati karena dengan

__ADS_1


memandang wajah Alana yang merajuk saja membuat dirinya selalu klimpungan minta jatah pelepasan. Mengapa pengaruh Alana sekarang begitu besar dalam diri Saka.


“Baiklah… inget ya, kamu gak bisa lari dariku, ngerti?”


“Iyaa, aku inget, aku ngerti!!”


“Oke, aku habis ini berangkat ke Rumah Sakit, tolong dong siapkan baju yang akan aku pakai.”


“Hem, sekalian dipakaikan?” sindir Alana.


“Kalau kamu mau, ya hayuuu. Mau short s*x, baby? Daddy mau jenguk dedek.”


“Big NO!! Kamu harus cepettt, malah pikirannya kesitu lagi.” Kata Alana sambil mencebik.


“Ha ha ha aku mesumnya cuman sama kamu, sayang.”


“Emang kamu mesum!”


Cup, Saka langsung mengecup bibir seksi Alana yang menggodanya dari tadi.


“Bbyyyyyyy!!” sergah Alana kesal.


***


DI RUMAH SAKIT


" Ya Allah, apakah ini karma bagiku?? Kalau memang aku harus membayar kesalahan dimasa laluku, ambil saja nyawaku, jangan biarkan aku hidup..." isak Yara sambil menatap langit langit kamar rawat inapnya.


" Ampuni aku, ya Allah, ampuni aku ya nak, ampuni akuuu... hu hu hu hu." tangis Yara semakin menjadi jadi.


"Ya Allah, cabut saja nyawaku, aku siap, rasanya sakit raga ini sebanding dengan sakit di batin ini, ya Allah. Kalau saja nyawaku ini bisa menuntaskan hutang dosaku, ambillah, ya Allah, aku rela!"


Inilah rutinitas yang Yara lakukan setiap pagi menjelang, dimana perawat yang dikirim Saka dan Pamannya pulang, dan ia sendiri di dalam ruang rawat inap itu, ia akan meratapi dosa masa lalunya, yang menjerat hidupnya, berdoa agar Allah mengampuni dosanya,


ia merasa bahwa apa yang dia lakukan dimasa lalu itulah yang membuatnya menerima ganjaran dimasa sekarang.


Penyakit yang dideritanya adalah akibat karma yang harus dia tanggung karena melakukan dosa besar. Dia juga telah membohongi Saka. Apakah Saka mau mengampuni apa yang telah dilakukan Yara?


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2