Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
98. Dilema


__ADS_3

Hai gengsss... ketemu sama author centil pengemis like dan vote yaaa.


Readers yang baca klik vote dan likenya dongg 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran disana. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


😘😍😋


Jangan lupa vote like vote like vote like vote like😇😇😇


Sambil nunggu update, bisa cek karya thor yang lain.😘


So jangan lupa vote dan like yaaaa


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Tuan, bisa ikut saya sebentar ke luar. Biar pasien akan dijaga oleh suster sebentar. Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan anda." kata dokter Yani dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Saka. Tapi Saka merasa ada hal yang tidak beres dengan kandungan Alana. Tapi dokter Yani sudah melangkah keluar dan sebelum Saka menyusul dokter Yani untuk keluar, ia harus meyakinkan Alana agar ia mau ditinggal oleh Saka, karena Saka harus menemui dokter Yani keluar ruangan. Entah Apa yang akan dikatakan oleh dokter Yani berkaitan dengan dengan kandungan Alana.


Setelah Saka menutup pintu, ia langsung menemui dokter Yani yang menunggunya di selasar.


" Ada apa dok?" tanya Saka dengan nada panik yang tidak dapat ia sembunyikan.


" Tuan, pasien kondisinya sangat berbahaya. Pasien mengalami kontraksi yang semakin rapat. Pertanda waktu melahirkannya semakin dekat. Saya hanya takut dengan kondisi fisiknya." dokter Yani memghela nafasnya dengan kasar. Jujur jeda yang dilakukan dokter Yani membuatnya semakin panik.

__ADS_1


" Lalu langkah apa yang mesti dilakukan? Saya akan menuruti semua perintah dokter. Pokoknya biaya berapapun saya akan keluarkan. Asal selamatkan anak dan istri saya, dok."


" Saya hanya khawatir kalau mungkin bapak hanya punya dua kemungkinan. Dua duanya sama sama beresiko. Pilihan ini sangat beresiko bagi keduanya. Kalau saya harus menyelamatkan salah satu, siapakah yang akan tuan pilih. Apakah anaknya atau ibunya?" tanya dokter Yani dengan suara berat. Jujur berat bagi seorang dokter untuk memaksa seseorang mengambil pilihan yang sama sama berat.


" Dok, apakah saya gak bisa memilih keduanya?" kata Saka dengan lemas. Ia bukan ironman, ia merasa lemah ketika itu menyangkut Alana dan anaknya.


" Tuan, keinginan setiap dokter adalah menyelamatkan pasiennya. Saya pribadi ingin menyelamatkan keduanya. Tapi hidup merupakan pilihan. Tuan harus memilih. Saya akan berusaha memenuhi setiap keinginan keluarga pasien. Jadi saya serahkan semua keputusan ditangan anda sebagai suami dari pasien. Setelah anda memutuskan apa yang dipilih. Dan silahkan tuan Narendra nanti menandatangani form persetujuan untuk pilihan anda. " kata dokter Yani sambil berlalu masuk kembali ke ruangan Alana lagi.


Saka dalam dilema yang besar. Ia bingung pilih Alana atau anaknya. Alana pasti marah besar kalau Saka memilih mengorbankan anaknya. Tapi ia juga ga bisa hidup tanpa Alana.


Saka mengusak rambutnya dengan frustasi. Wajahnya ikut pucat seiring dengan keputusan besar yang harus ia ambil. Semua pilihan tidak ada yang baik menurutnya. Ia memilih tidak usah memilih karena kedua pilihan bukan merupakan pilihan bagi dirinya. Alana penting, anaknya pun penting. Ia hendak mengadu pada siapa?


Saka berjalan ke sebuah tempat yang letaknya dekat dengan rest room di luar selasar VVIP room yang sudah ia sewa semua. Ia masuk ke dalam ruangan dimana ada tempat untuk berwudhu. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan bersujud. Entah masih didengarnyakah doa yang ia panjatkan? Entah masih adakah mukjizat saat ia memanggil namaNya? Saka hanya tahu satu hal, ia tidak mungkin bisa kehilangan Alana. Apakah itu yang menjadi jalan takdirnya. Tak terasa air mata terkumpul di pelupuk matanya, yang seakan berbaris rapi hendak terjun bebas. Saka menangis, memohon, supaya ia tidak salah jalan. Semua pilihan tampak abu abu dimatanya.


" Ya Allah, buat aku bisa ikhlas, buat aku bisa percaya kalau mukjizatmu sungguh ada. Amin" bisik Saka lirih ditengah tengah alunan merdu doanya.


Selepas ia mengadu kepada sang pemilik hidup. Saka sudah mengambil keputusan. Saka tahu, ayah ibunya mungkin tidak terima, Alana mungkin akan marah, dan mungkin Yara juga akan kecewa. Tapi Saka sudah memantabkan hati, ia harus memilih.


" Bos, nona sudah dibawa ke ruangan VK ( VK singkatan dari Verlos Kamer yang artinya ruang bersalin ), karena tiba tiba nona Alana tidak tahan. Saya sudah mencari bos kemana mana. "


" Kapan Alana dibawa ke ruang Vk?" tanya Saka dengan anda panik.


" Baru saja sih, bos!"


" Ayo kita kesana. Kamu ngapain ada disini kalau Alana ke ruang VK?"


" Bos, saya nyariin si bos tadi. Tapi ga ada di sekitaran sini. Ponsel bos kayaknya off deh. Jadi ga bisa dihubungi."

__ADS_1


" Aduh ini brarti aku tetep harus bikin surat pernyataan ya?" tanya Saka kepada Lio yang dibalas dengan gelengan oleh Lio karena ia juga ga tau kalau saat Alana melahirkan butuh surat pernyataan.


" Surat pernyataan miskin ya, bos? Emang nona Alana melahirkan pakai BPJS? " tanya Lio tak mengerti. Bosnya kaya raya, masa nona Alana mau nglahirin anak aja pake surat keterangan miskin RT RW dan Kelurahan?


Saka menepok jidatnya dengan segenap emosi yang tertumpah. Sudah dia mengalami dilema, tapi anak buahnya malah ngajakin berantem.


" Bukan dodolllll!!! Surat pernyataan kalau aku punya asisten dodol!" jawab Saka sekenanya. Daripada ia tambah emosi dengan Lio, ia langsung lari menuju ke ruangan VK untuk mencari Alananya tanpa memperdulikan Lio lagi.


Sesampainya di depan ruangan VK, ia langsung disambut oleh suster yang berjaga disana.


" Keluarga pasien Alana?" tanya suster itu dengan suara tegas.


" Saya sus. Saya suaminya." jawab Saka dengan mantab.


"Tuan, pasien minta ditemani untuk melakukan persalinan normal." lanjut suster muda itu dengan segera.


" Loh kata dokter saya disuruh menandatangani surat pernyataan, sus!" kata Saka teringat kalau tadi dokter memintanya membuat surat pernyataan terkait pilihan apa yang Saka pilih untuk dipertahankan, Alana atau anaknya.


" Dokter sudah menunggu di dalam juga, tuan! Silahkan ditanyakan terkait dengan persalinan istrinya. Pasien sudah mengalami rembes air ketuban. Saat ini pasien sudah diberi suntikan antibiotik dibawah kulit dan juga infus untuk memacu kelahiran." jelas suster sambil mendorong Saka untuk segera masuk ke ruangan VK, karena Saka hanya terbengong mendengar penjelasan dari suster tadi.


Saka langsung berteriak sebelum ruangan VK ditutup sempurna.


" Lio, hubungi ayah dan ibu!!" teriaknya kepada Lio yang masih ada di luar ruangan VK., membuat Lio cepat tersadar dan melakukan apa yang dipinta oleh Saka segera.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2