Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
103. Baby Al


__ADS_3

Ini bener bener crazy up,karena harus betulin karya ini....


Ayo klik vote dan likenya dongg, ceritanya kan emang harus ada up and downnya ha ha haπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja dengan editor. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran di buku yang satunya. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‹


Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Sadarlah, Sak! Ibu tahu kamu sangat kecewa dengan keadaan ini. Tapi jangan berlarut larut masih ada Alana dan Genta serta Yara yang masih membutuhkan perhatian kamu. Sadarlah!!" kata ibu sambil masih menangis lalu memegang bahu Saka dan mengguncang guncangnya dengan harapan Saka akan menyadari keadaan yang terjadi sekarang.


" Iya, Sak! Kamu itu imam keluarga, yang membawa keluargamu, membimbing dan menjadi kepala. Jangan lemah kayak gini." nasihat ayah Langit sambil memeluk anak semata wayangnya. Saka yang mendengar nasihat dan perkataan seperti itu menjadi protes. Ia memberi info tentang kebenaran kenapa malah diceramahi coba?


" Bu, cucumu benar hidup. Pas Saka peluk dengan erat ia nangis. Sungguh bu, Yah!!!" kata Saka sambil menaikan kedua jarinya tanda ia bersumpah bahwa apa yang dia katakan adalah kebenaran bukan karena ia depresi ataupun stress.


" Sak, ibu ga tau harus berbicara apa." desah ibunya memandang Saka dengan raut wajah sedih. Ia kasihan melihat Saka yang tertekan karena kehilangan bayi yang dikandung Alana.


" Ibu dan ayah gak percaya?" tanya Saka sambil menaikkan satu alisnya. Ia heran apakah wajahnya kelihatan sedepresi itukah sampai ayah dan ibunya tidak percaya kepadanya.

__ADS_1


" Ayo bu, yah!! Saka mau lihatin sesuatu. Ia menarik tangan ayahnya kayak anak kecil yang menarik tangan orang tuanya agar dibelikan permen ataupun mainan yang disukai.


Saka mengajak orang tuanya ke ruangan bayi yang sebenernya letaknya hanya dibalik ruangan VK cuman pintunya meghadap ke lorong sebelahnya sehingga tak nampak kalau dilihat dari tempat duduk yang ada di selasar ruangan melahirkan Alana tadi.


Ada kaca yang besar yang ada di ruangan bayi itu. Ada box bayi yang berjajar di belakang kaca besar itu. Kemudian Saka menunjuk sebuah ruangan yang terpisah dengan box box bayi yang berjajar disana.


" Itu yah, bu. Alendrabayu tidur di box inkubator diruangan kaca disana. Tadi setelah Saka peluk, baby Al bangun. Sekarang baby Al ditaruh di inkubator dan diobservasi sampai emang sudah bisa di taruh di box tidur umum." jelas Saka dengan raut gembira.


" Al itu anaknya siapa? " tanya ayah dengan heran.


" Anak Sakalah."


" Kamu dapat darimana bayi itu darimana?" tanya ayah lagi, masih dengn pandangan menyelidik.


" Sebentar..." Saka langsung mendekati ruangan bayi mengetuk pintunya menarik perhatian seorang suster yang berjaga dan berkata untuk bisa minta tolong menarik box inkubator agak kepinggir supaya bisa memperlihatkan anak Alana dari balik kaca kunjungan bayi. Suster mengangguk paham, dan segera mencoba mendorong box inkubator anak Alana agak kepinggir supaya Saka dan orangtuanya bisa melihat kondisi anak Alana.


" Itu bu, coba ibu baca keterangan di box. Tulisannya adalah bayi Alana / Ny. Narendra. Saka ga boong kan?" jelasnya lagi meyakinkan atah ibunya.


"Astafirullahhh, yang bener Sak? Subhanaallahhh, yahhhhh, kita punya cucu lagi." seru ibu Irsyana dengan suara tertahan, tapi cukup keras sehingga suster yang lalu lalang memandangi dengan raut ketus.


" Ibu, ini rumah sakit, bukan pasar. Pelankan suara kamu itu." bisik ayah dengan suara lirih. Sambil tersenyum seakan memohon maaf kepada suster yang marah tadi.


"Sak, kamu gak beli bayi anak orang lain kan? " tanya ayah dengan nada menyelidik masih curiga dengan Saka.


" Astafirullah, ayahhhhh!!!!" jerit Saka, yang kemudian menutup mulutnya karena nyadar kalau ini di lingkup rumah sakit, tidak seharusnya ia berteriak teriak sekalipun kesel dengan ayahnya yang masih tidak percaya dengan dirinya. Ayahnya ini setype dengan netijen diluar sana yang sering tidak percaya dengan niatnya untuk bertobat dan membahagiakan Alana dan kedua anaknyaπŸ˜“πŸ˜ͺ.

__ADS_1


" Ayah ini loh. Masak nuduh anaknya sendiri boong sih. Sekalipun Saka itu emang suka boongin kita, tapi ya masa kali ini dia juga boong. Emang beli bayi ada ya, Sak?" tanya ibu juga dengan tatapan tak percaya sama aja kayak ayah Langit tapi masih agak sedikit sopanlah.


" Ibu sama ayah tu sama saja. Demi Allah, bu. Saka gak boong. Itu bener anak Saka sama Alana. Dia hidup lagi saat Saka peluk dan Saka tangisin. "kata Saka sambil masih berusaha meyakinkan ayah dan ibunya. Dan kayaknya kali ini ayah dan ibu mempercayainya.


" Bu, jangan lupa nanti sore kita berbagi sama anak yatim dan panti asuhan. Dan semua karyawan di kantor Saka dan kantor ayah akan mendapatkan amplopan tanda syukur kita karena anaknya Saka dan Alana hidup dan bisa bertahan. Lha kita kapan bisa jenguk Alana? Dari tadi ayah dan ibu mau jenguk Alana." tanya ayah dengan wajah berseri seri.


" Sebentar, yah! Saka tanyakan dulu apakah Alana sudah dipindahkan ke ruangan VVIP3 seperti semula atau masih diruangan tindakan." sahut Saka sambil kembali mengetuk kaca ruangan bayi untuk bertanya kepada suster suster yang ada disana untuk menanyakan tentang Alana. Ternyata Alana masih berada di ruangan VK untuk pemulihan, juga untuk menunggu ASI Alana yang sementara harus di pompa dulu demi memenuhi kebituhan gizi dan makanan untuk bayinya.


" Yah, yernyata Alana masih diruangan tindakan. Tapi kondisinya stabil, Saka akan minta ijin untuk bisa menjenguknya." kata Saka memberi info kepada ayah ibunya, saat suster selesai menjelaskan.


" Kamu kasih nama siapa, anakmu itu, Sak?" tanya ayah Langit lagi dengn raut wajah sumringah .


" Alendrabayu Putra Perdana, atau Al. Karena dia anak Alana dan Narendra yang memberi angin kesejukan di dalam keluarga Perdana. Dulu saat Genta lahir yang memberi nama kan Alana, sekarang saat Al lahir, Sakalah yang memberi nama. Gimana yah? Bagus kan namanya?" kata Saka dengan bangga.


" Iya, bagus!! Wajahnya juga tampan, sama persis wajah kamu pas lahir." kata ibu mengingat ingat saat tadi ia mengamati bayi yang berada di box inkubator itu, wajah bayi itu tampan seperti Saka saat masih bayi. Kalau Genta dulu emang wajahnya lebih mirip Alana. Ibu Irsyana tahu karena dulu ia juga menjenguk Alana sehabis melahirkan Genta. Hanya saja dulu mereka tidak menyangka kalau Genta adalah cucu biologis keluarga Perdana juga.


" Lah tadi ada orang yang ga percaya kalau bayi itu anaknya Saka." sindir Saka sarkas sambil memimpin ayah ibunya untuk masuk ke ruangan VK, saat suster yang berjaga mengijinkan mereka untuk menengok Alana.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2