
BEWARE !!!! EPISODE INI BANYAK KATA KATA VULGAR YANG TERPAKSA THOR SAMARKAN.
Budayakan like dan vote๐๐ yang banyak. Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh๐๐
yuk langsung aja baca.
Happy readingggg
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Hmm, sekarang katakan dimana Yara?" kata Saka dengan suara dingin. Dia malas berbasa basi kepada seorang penjahat macam pak Burhan ini.
" Dia ada di klinik Mitra Sejahtera milik anakku. Hahahaha dunia memang benar hanya selebar daun kelor. Sangat sempit!! Anakku ingin membalas apa yang sudah dilakukan mantan istrimu kepadanya. Kebencian anakku itu sama dengan kebencianku padamu. Kesombonganmu menolak keponakanku menjadi istrimu, padahal kamu sendiri selalu berganti ganti wanita untuk memuaskan hasrat s*x mu. Kaum munafik!" kata Burhan sambil terbatuk memegangi dadanya yang tiba tiba sakit karena terlalu kencang berbicara.
" Kamu gila!! Aku sudah punya istri tentu saja aku ga mau menerima ja**ng macam keponakanmu untuk dijadikan istri. Lagian Vella tidak sebanding dengan istriku."
" Dasar penjahat ke**min, kamu menceraikan istrimu dan berselingkuh menikahi sekretarismu sendiri. Dasar ba**ngan!!" racau pak Burhan yang merasa terprovokasi oleh tingkah Saka yang adem ayem. Saka merasa tidak perlu mengklarifikasi apapun kepada penjahat seperti pak Burhan ini. Dia ga perlu jelasin kalau ia beristri 2 kan?
" Ha ha ha. Aku pastikan kamu akan membusuk di penjara karena dendammu. Aku tidak menyukai keponakanmu yang sama menjijikannya dengan kamu. Dan anakmu sudah berani mengganggu Yaraku, dia juga akan mendapat balasannya. Aku pastikan kalian membusuk di penjara." desis Saka dengan kebencian dan amarah yang menyala nyala. Alana yang berdiri dibelakang Saka hanya terdiam dan memegang bahu Saka untuk menenangkan emosinya, Saka memegang tangan Alana yang tersampir di bahunya. Tindakan Alana ini dilihat oleh pak Burhan yang masih memegang dadanya yang terasa nyeri. Ia heran tapi ia todak lagi banyak memprovokasi Saka.
Pak Burhan juga hanya bisa terdiam, saat Saka, Alana dan Lio berlalu keluar dari ruangan itu. Polisi di luar juga kembali menutup pintu dan berjaga disana.
" Yo, cari dimana klinik itu berada. Temukan Yara, dan selidiki siapa anak pak Burhan. Laporkan semua temuan polisi saat interogasi dengan pengawal dan Vella. Habisi sampai ke akar akarnya. Aku tidak bisa memaafkan orang yang sudah mengganggu ketentraman rumah tanggaku " kata Saka dengan tegas.
" Baik bos! Vella mengaku tidak tahu menahu tentang operasi Burhan terhadap Yara. Mungkin temuan ini bisa kita katakan kepada polisi, supaya polisi bisa mengusut klinik itu melalui Vella karena Vella kan keponakan pak Burhan?"
__ADS_1
" Oke, kamu aturlah dengan pihak kepolisian. Cari dan temukan Yara, aku benar benar lelah dengan semua masalah ini Yo!"
" Oke bos!" Lio langsung meninggalkan tempat itu meninggalkan Alana yang mendorong kursi roda Saka balik ke kamar rawat inapnya.
***
flashback
" Argggh, siapa kamu? Mau dibawa kemana aku?" tanya Yara kepada seorang dokter yang menggunakan masker dan sedang membawanya dalam sebuah ambulance rumah sakit mungkin menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui Yara.
Dokter yang membawanya hanya diam, dan Yara pun menyerah, ia tidak lagi banyak bertanya. Toh kehidupannya hanya tinggal menghitung hari, atau bulan? Takdir Tuhan yang ga pernah ia tahu. Ia pasrah saja.
Ambulance yang membawanya sampai ke sebuah tempat. Yara masih belum tahu dimana dirinya berada. Tapi Yara hanya tenang. Ia hanya menunggu kematian. Sekarang atau besok apalah bedanya. Rasa sakit yang sudah lama menderanya membuatnya siap untuk bertemu penciptaNya.
" Sus, saya mau nanya, Kenapa saya dipindah kesini?" tanya Yara kepada seorang suster yang masih sibuk mengatur brankarnya dan alat alat yang disediakan untuknya. Kamar yang tak jauh beda mewahnya dengan kamar VVIP di rumah sakit sebelumnya.
" Saya kurang tahu, bu! Saya hanya membantu ibu untuk merasa nyaman sebelum dokter yang membawa ibu masuk untuk memeriksa kondisi ibu. Gimana bu? Apakah ada yang masih tidak nyaman?" tanya suster itu dengan sopan.
" Tidak, sus! Terimakasih. Kapan dokter akan datang memeriksa saya? Saya ga ada keluhan yang berarti, kayak biasa saja. " kata Yara, ia merasa ga lebih parah. Katanya kalau mau mati tuh tubuhnya malah cenderung membaik baru kemudian meninggal, itulah yang ada di pikiran Yara, semua pikiran negatif. Karena sudah lama berteman dengan sakit, jadi ia merasa kematian malah akan membuatnya bebas dari derita rasa sakit.
" Sebentar lagi, dokter lagi mempersiapkan alat yang ibu butuhkan. Saya pamit keluar dulu, ya" pamit suster itu dengan sopan.
" Hmmh, terimkasih, sus;" balas Yara tidak mengerti. Kenapa semuanya serba tiba tiba? Kenapa Saka tidak ngomong apa apa? Mungkin ini agar ia bisa sembuh.
krek
__ADS_1
Seorang dokter masuk sendirian. Postur tubuhnya membuat Yara merasakan de ja vu.
Dokter itu menggunakan maskernya, hanya matanya saja yang kelihatan. Yara merasa seperti pernah mengenal pria di hadapannya itu. Jangan jangan ini dokter palsu?
Dokter itu lalu membuka maskernya. Wajah tampan dengan kacamata minus dihadapannya membuat Yara menutup mulutnya dengan kedua tangannya tanda ia sangat terkejut dengan kenyataan yang terpampang dihadapannya. Seseorang dari masa laku yang pernah mengisi kehidupannya.
" Kamuuu?"
" Iya... ini aku ! Sudah puas menghancurkan kehidupanku?" tanya dokter tampan itu dengan nada sinis.
" Rangga, maafkan aku! Aku tidak pernah punya keinginan untuk pergi dari kamu. Aku tidak pernah ingin meninggalkan anakku. Kamu tidak tahu betapa depresinya aku saat paman membuang anakku, saat ia memisahkan aku dari kamu. Saat paman berkata kalau ia sudah membunuhmu." tangis Yara meledak seketika, isak tangisnya yang tidak dibuat buat membuat pria dihadapannya yang memendam sejuta dendam itu menjadi luluh.
" Ivara, kamu tahu ? Aku menunggu saat dimana aku bisa menemui kamu? Untuk menuntaskan dendam yang ada dihatiku. Anak kita memang lahir sempurna tapi sayangnya pamanmu yang kejam membunuhnya dan hampir saja menghabisi nyawaku. Untung saja aku diselamatkan oleh seseorang yang akhirnya ku ketahui kalau ia adalah ayah biologisku yang dulu pernah meninggalkan ibuku untuk menikah dengan seorang wanita yang kaya raya. Takdir membawaku menemukan ayah kandungku, yang membuat aku menjadi dokter internist terkenal di Jerman dan kemudian aku membuka klinik ini karena ia ingin aku berada didekatnya. Pamanmu yang membenciku karena aku orang miskin dengan cita cita tinggi, dan dengan kejam hampir saja memupuskan mimpiku menjadi dokter. Dia pikir aku sudah mati saat itu, ha ha ha tapi mungkin Tuhan ingin membuatnya tersiksa dengan penyakitmu." tawa sumbang dr Rangga membuat tangis Yara mereda.
Ya, mungkin itulah nasib hidupnya. Garis kehidupannya yang saat remaja sudah jadi yatim piatu, bertemu dengan Rangga saat Rangga masih jadi koas, jatuh cinta, menikah siri dan mengandung buah cintanya dengan Rangga. Pernikahan yang sangat ditentang oleh pamannya karena latar belakang Rangga yang hanya seorang anak dari single mom, membuat Yara harus berusaha di kakinya sendiri untuk membangun bahtera rumah tangga bersama Rangga. Ia berjuang sampai akhirnya saat ia mau melahirkan anaknya, saat ia lemah karena harus melahirkan, paman Yara kembali datang dan membuang anaknya , membunuh suaminya.
Apakah Yara tidak merasa kehilangan? Iya, ia sangat kehilangan. Ia depresi, ia kalut bahkan ia sampai harus menelan pil tidur agar ia menjemput kematiannya bersatu bersama suami dan anaknya. Yara bagaikan orang gila, tatapannya yang kosong, tubuhnya yang ia sengaja rusak dengan mengkonsumsi obat penenang. Sampai akhirnya pamannya membuat Yara melakukan hipnotheraphy sehingga ia sedikit melupakan kejadian yang lampau. Walau potongan potongan ingatan Yara itu seperti puzzle yang harus ia susun seperti saat ini, ketika ia berbicara dengan Rangga.
.
.
.
TBC
__ADS_1