Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 53. Gelisah*


__ADS_3

Saka berulang kali menyugar rambutnya sehingga rambutnya tampak acak acakan. Walaupun wajahnya kusut karena memikirkan Alana. Ketampanan Saka tidak berkurang sedikitpun. Mata Saka menatap ruang cafe yang tampak elegan. Tempat dirinya dan Lio beserta beberapa anak buah yang lain akan makan sambil menunggu jebakannya dimasukin mangsa. Sungguh sebuah penantian yang melelahkan. Saka sudah ingin bersama Alana. Ia merindukan kehadiran Alana. Ia berharap Alana akan segera dapat ia temukan.


***


Di lain tempat, seorang wanita muda sedang gelisah. Sangat gelisah malah. Ia sudah didera rindu.


Ia berkali kali melihat layar ponselnya yang memperlihatkan gambar seorang laki laki yang ia terus pantau pergerakannya.


" Kenapa dia masih aja ada disitu. Bukannya dia akan berangkat ke Penang sore ini?" monolog wanita itu, sambil memandang layar ponselnya.


"Lana... kamu makan dulu saja. Kasihan anak yang dalam kandunganmu, ia pasti sangat kelaparan." Benar! Wanita itu memang Alana.


" Setelah dia keluar dari apartemen, kita masuk mengambil pakaian bekas pakainya terus balik lagi kesini!" perintah Alana dengan nada tegas.


" Untuk apa kau butuh pakaian bekas dipakai Saka? " tanya laki laki itu dengan pandangan heran.


" Ehm.. anakku butuh bapaknya, biarlah sementara ini aku begini dulu."


"Jadi kamu masang kamera untuk mencuri saat dia gak ada?" tanya laki laki itu dengan raut wajah heran.


"Engga, aku pasang kamera untuk memandang wajahnya dari kejauhan." jawabnya sambil menerawang jauh.


" Mau sampai kapan kamu melakukan ini? " tanya laki laki itu sambil mendesah dan menghela nafasnya.


" Aku ga tau, mas."


"Kalau anakmu emang membutuhkan bapaknya, lebih baik kamu jangan pergi dari Saka, Lana. Sudah cukup aku saja yang berbuat jahat dimasa lampau."


"Mas, aku hanya ingin menyendiri. Aku juga gak mau ikut mengantar Yara ke Penang. Aku tidak mau menghalangi kebahagiaan mereka berdua. Seharusnya Saka sama Yara bukan dengan aku. Dan kurang lebih semuanya itu gara gara kamu. aku jadi tambah bimbang berada diantara mereka."

__ADS_1


"Maaf, waktu itu aku memang picik, aku hanya ingin meminjam benih Saka. Karena waktu itu mungkin aku belum mampu melakukannya, lagipula aku takut kalau sampai ketahuan Saka." kata laki laki itu sambil meremas pinggiran sofa yang ia duduki.


" Mas, kamu janji mau bantu aku. Aku akan memaafkan kesalahanmu asal kamu mau bantu aku. "


" Tapi kamu kan ga bisa kutinggal sendiri. Kalau aku ikut tinggal disini, dan ketahuan Saka, yang ada aku bakal dihabisi sama dia, Lana." kata laki laki itu sambil bergidik ngeri.


" Mas, aku mau nanya sama kamu ya. Kamu itu sudah bener bener sembuh atau belum?" tanya Alana dengan penuh selidik.


" Maksudnya???" tanya laki laki itu dengan raut wajah heran.


" Maksudku apa kamu masih suka sama laki laki?" tanya Alana tanpa tedeng aling aling dengan Irvan Sanjaya, mantan suaminya yang mengaku gay. Ya laki laki yang membantunya melarikan diri dari Saka adalah Irvan Sanjaya. Pertamanya Irvan hanya ingin meminta maaf sekali lagi kepada Alana. Tapi kemudian Alana mengancam Irvan untuk membantunya melarikan diri dari Saka.


" Ya.. ya ... ya jelas sudah sembuh. " jawab Laki laki itu sambil tergagap gugup ketika melihat Alana yang melotot dan menelisik matanya mencoba menangkap kebohongan di wajah laki laki itu.


" Jangan bohong sama aku."


" Tidak, aku tidak bohong."


" Saka badannya gede, Lana. "


" Kamu jujur sama aku. Waktu kamu ngangkat tubuh Saka telanjang dan memindahkan ke kamar lain, setelah kami berhubungan badan, kamu juga gr*pe gr*pe Saka?" tanya Alana sambil memicingkan matanya. Ia mencoba menatap kedalam mata Irvan, apakah Irvan jujur atau bohong padanya.


" Ehm ya pasti bersentuhan, kalau itu yang kamu maksudkan." jawab Irvan dengan nada gugup yang sangat kentara.


"Aku ga bilang bersentuhan, aku nanyanya apa kamu gr*pe gr*pe... meraba raba tubuhnya Saka yang pastinya waktu itu telanjang?" tanya Alana sekali lagi.


" Ehm, iya sedikit, karena itulah Tonny marah marah dan akhirnya menjadikan itu menjadi bahan pertengkaran kami, sehingga puncaknya dia lapor sama papi dan mami, dan akhirnya ya gitu deh." jelas Irvan sambil mengedikkan bahunya.


"Sekarang kamu sudah sembuh?"

__ADS_1


"Su sudah." jawab nya kembali gagap.


"Jadi kamu sudah mulai suka wanita?"


"Iya. tapi belum ada yang cocok!" jelas Irvan lagi.


"Hmm, awas aja kalau kamu menjadikan Saka sebagai bahan fantasi kamu ya." kata Alana dengan nada cemburu yang sangat kentara.


"Kamu cemburu?" tanya Irvan dengan senyum diwajahnya.


"Ya iyalah."


"Lalu kenapa kamu melarikan diri dari nya."


"Sudah kubilang aku butuh waktu sendiri. "


" Lana, jangan bohongi dirimu sendiri. Sehabis ini kamu punya anak dua sama Saka. Dan aku yakin kalau dia juga gak akan mungkin melepaskan kamu."


"Kok bisa?"


"Alana Mahen, Kamu itu wanita yang sangat cerdas. Masa kamu gak tahu kalau Saka lebih mencintai kamu daripada istrinya. "


"Aku gak tahu, mas. Biarlah aku sendiri dulu. Beri aku waktu untuk merenungi semua masalah yang kamu timbulkan juga." jawab Alana sambil memukul dada Irvan dengan cukup keras sehingga membuat Irvam mengaduh. Tapi Alana tidak peduli, matanya masih memandang pergerakan Saka yang diintipnya melalui kamera yang ia pasang di ruang tamu apartemennya. Alana mungkin tidak dapat mendengar apa yang diomongkan oleh Saka disana. Tapi dia bisa membaca gerak gerik dan bahasa tubuh Saka. Saka tampak keluar meninggalkan apartemennya bersama anak buahnya.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2