Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 32. Bertemu Yara*


__ADS_3

Sesudah memesan es krim yang diinginkan oleh Alana, Saka balik dengan membawa  dua es krim potong orchard yang terkenal itu.


“Bby, setelah kejadian tadi kamu gak kepingin ganti dokter yang merawat Yara? Aku kok


gak yakin gitu ya sama dokter ganjen tadi itu.”


“Kamu cemburu?” goda Saka.


“Kamu suka sama dokter ganjen itu?” tanya Alana balik dengan ekspresi datar.


“Hmmm, gimana ya? Aku kan laki laki…” goda Saka lagi sambil mengerling jenaka, menatap


perubahan ekspresi Alana.


“Ya sudah, aku pulang saja.” potong Alana sambil berusaha berlalu, tapi tangan Alana


ditahan oleh Saka.


“Jangan marah marah, kasian dedek bayinya.” Nasihat Saka dengan suara lembut, dia


memahami mood Alana yang swing, dia memahami Alana yang makin sensi, tapi entah kenapa Saka suka menggoda Alana dan melihatnya manyun, sumpah itu seksiiii banget.


“Daddynya jahattt!!” sergah Alana sambil menepis tangan Saka, tapi Saka tetep kekeuh


nempel kayak perangko.


“Aku hanya godain kamu saja, maapppp ya, mommyyy.” Ujar Saka sambil mengecup bibir Alana yang masih manyun.


“Makanya aku kalau nanya itu dijawab yang benerr!! “ sergah Alana lagi.


“Iyaaaaaa, emang kamu nanya apa?”


“Yara mau kamu pindahin perawatannya, apa tetep disini bersama dokter gila itu?”


“Aku bakal ngusulin kalau Yara dirawat di Indonesia aja, tapi kemarin aku juga dikasih


rujukan sama klien untuk membawa ke Gleneagles Penang, atau Prince court.


Kemungkinan itu aku coba tanyain ke pamannya Yara dulu.” Ujar Saka sambil


menikmati es yang ia beli.


“Sekarang kita bisa menjenguk Yara kan ?” tanya Alana lagi.


“Iya bisa, toh dia sudah tidak terapi… kamu mau menjenguk sendiri apa sama aku?” tanya


Saka, ia ingat salah satu syaratnya Alana mau menikah dengannya adalah, ia tidak mau di satu tempat yang sama dengan Yara dan Saka.


“Sama kamulah!” rupanya Alana sudah tidak mengingat perjanjian yang pernah ia ajukan


pada Saka dan Yara.


“Tapi dulu kan katamu, kamu gak mau kalau kita bertiga bersama dalam satu ruangan?”sanggah Saka.

__ADS_1


“Eh iya ya… aku lupa….” Sahut Alana dengan wajah bingung, membuat Saka menjadi gemas.


“Nah lo… gimana?” tanya Saka lagi. Alana menghela nafasnya kasar, ia gak mengkhawatirkan hatinya. Ia justru mengkhawatirkan perasaan Yara.


“Gimana sama Yara? Kalau pas sama Yara kamu nanti jangan terlalu mesra sama aku ya… aku gak enak sama Yara.” Jelas Alana dengan raut wajah panikk.


“Lha kamu kan istri aku, bukan selingkuhan aku, sayang..” sahut Saka kesal, ia kembali


menyugar rambutnya dan mengacaknya perlahan.


“Iya, tapi kita kan harus menjaga perasaan Yara!” bantah Alana dengan nada ketus.


“Iya .. iya deh… nurut perintah ibu Ratu dah! “


“Supaya dia cepet sembuh, Bby! Kalau dia stress kan yang ada malah tambah sakit..”debat Alana.


“Iyaaaa…..”


“Kamu marah?” tanya Alana dengan wajah polos.


“Enggakk….”


“Kok jawabnya pendek pendek!” cecar Alana lagi.


“Pingin aja!”


“Yaudah… yang penting jangan marah marah..” sahut Alana dengan wajah santai kayak dipantai, membuat Saka menjadi tambah kesel melihat istrinya yang gak peka, padahal dia kepingin dibujuk bujuk.


“Hmm” sahut Saka dengan pendek sambil membuang muka.


“Sayang, kamu itu lagi hamil, kalau jalan jangan cepet cepet, bahaya tau!!” kata Saka sambil ngos ngosan karena mengejar Alana yang sudah pergi duluan meninggalkan Saka


jauh dibelakang.


“Kamu jalannya kayak siput, lama banget! Bby, aku itu hamil, bukan sakit, jadi jalanku ya kayak biasa aja, toh perutku masih rata.” Rajuk Alana yang merasa dibatasin, padahal perasaan dia jalannya ya kayak biasa saja.


“Iya.. iya…..tapi hubbynya jangan ditinggalin dong… kalo disamber cewe lain gimana?”


tanya Saka dengan narsis.


Alana hanya diam dan memandangi Saka dengan dingin dan datar.


“Kalau kamu mau sih silahkan saja, tapi mohon maaf, aku yang gak mau berbagi !!”


“Heiii, aku juga gak mau kok… Saka cukup dengan kalian berdua. Aku cuman bercanda sayanggg, Habisnya kamu ninggalin sihhh, emang kamu tahu ruangannya?”


“Ya enggak tahulahh! “


“Makanya kalau gak tahu, suaminya itu digandenggg..”


“Iyaaa..kamu itu sensiann deh.” Dueengggg!! Lhah siapa yang sensi, siapa yang dituduh. Nasib … nasibbb, istri yang hamil itu selalu benar dan suami selalu salah, batin Saka merana, tapi Saka tetap menampilkan senyum yang terbaik karena ia tahu Alana sedang dalam mood swing.


***

__ADS_1


Cekrek..


“Yara…”


“Loh kamu, Al? … Mas Rendra?” seru Yara dengan wajah bahagia, Yara yang tengah disuapi oleh perawat yang disewa oleh paman Yara pun, kegirangan seperti anak kecil yang dikasih permen kapas.


“Gimana, Raa… Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Saka sambil mengambil piring yang ada di tangan suster dan mulai menggantikan tugas suster itu, menyuapi Yara. Dan suster itupun tahu diri, dan keluar ruangan meninggalkan mereka berkangen kangen ria.


“Alllllll…. Gimana kondisi kehamilanmu? Kok kamu malah kesini sih… bahaya tau!!” tanya Yara mengacuhkan pertanyaan Saka.


“Aku baik baik saja, Yar! Kandunganku juga gapapa… kamu sendiri gimana? Sudah selesai terapinya? Hasilnya gimana?” cecar Alana antusias, ia juga ingin Yara cepat sembuh.


“Emang kamu sudah berapa bulan, Al?” tanya Yara kembali mengacuhkan pertanyaan yang


berkaitan dengan kesehatannya.


Alana hanya menjawab dengan menunjukkan kelima jarinya… dan langsung disambar oleh Yara.


“ 5 bulan?” tanya Yara kaget.


“Yar, perutku aja masih datar kayak begini… kok bisa 5 bulan itu loo, kamu itu bagaimana??” jawab Alana sambil menepuk jidatnya perlahan, sontak membuat Yara tertawa.


“Sorry sorryyyy, lha kamu ditanya berapa bulan, malah ngode 5 jari…”


“Yahhh, bahasanya pake minggu dong, Yar! 5 minggu…”


“Ya, kan! Kalau udah ngobrol, Suaminya dicuekin….” Rajuk Saka masih membawa piring makan Yara, yang masih sisa ¾ isinya.


“Maaf, mas! Kemarin balik ke Indo, njemput Alana? “ tanya Yara sambil memandang Saka sendu.


“Enggak, Alana tiba tiba sakit, trus pingsan, jadi aku pulang karena Alana masuk Rumah


Sakit… ternyata karena kurang makan.” Jelas Saka sambil tersenyum.


“Lha Alana sakit kok kamu bawa kesini sih, mas… Disini ini malah banyak virus looo, kasian dedek bayinya.” Potong Yara dengan wajah khawatir memandangi Alana dan Saka bergantian.


“Ini kamu makan dulu, biar cepet sehat, jadi bisa gendong adek bayi.” Lanjut Saka dengan


perhatian.


“Gak ah,  udah kenyang.” Sahut Yara sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Gak boleh gitu, ini baru dikit loo, Raaaa!” bujuk Saka dengan lembut, dan gak tahu kenapa hati Alana seperti sedikit perih, tapi Alana berusaha mengacuhkan perasaannya


sendiri. Alana merasa bahwa dirinya gak boleh egois, Alana langsung menghela


nafasnya dengan kasar, dan merebut piring yang dipegang Saka.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2