
Alana hanya diam saat semua orang meninggalkan dirinya sendirian bersama Saka. Alana menarik tempat duduk di samping ranjang besar tempat Saka dirawat. Maklum karena itu kamar type VVIP, maka ranjangnya pun berbeda, lebih besar daripada tempat tidur di ruangan lainnya. Kaki Alana yang tampak sedikit membengkak membuat Alana tidak nyaman saat ia harus berdiri.
Alana memegang tangan Saka, dan memandangi tubuh Saka yang tampak kurus dan pucat. Alana tidak tega melihat kondisi Saka yang lemah.
" Bby, bangun. Kamu sudah terlalu lama tidur." Alana tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sejujurnya hatinya masih terasa berat. Alana menggenggam tangan Saka. Dan meraihnya serta menciumnya dengan penuh perasaan, ia meneteskan air mata, meratapi nasibnya.
" Bby, aku rela kalau kamu memilih untuk menjaga Yara. Karena akulah yang datang diantara kalian. Akulah yang telah menjadi orang ketiga. Sekarang Yara juga sakit, bangunlah bby! Yara membutuhkanmu." Tetesan air mata Alana membasahi tangan Saka yang ia pegang dan ia dekatkan dengan bibirnya yang kenyal.
" Bby, kamu perlu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Sangatt!! Jangan seperti ini. Lebih baik aku pergi dan memandangmu bahagia dari kejauhan daripada aku melihat kamu kesakitan seperti ini." lanjut Alana sambil masih terisak. Hatinya sakit sekali, melihat Saka hanya terbaring tanpa daya.
" Bby, aku akan pergi kalau kamu tidak mau lagi menanggapi aku. Dan aku akan menghilangkan rasa cintaku kepadamu kalau kamu tetep gak mau bangun. " ancam Alana sambil melepaskan genggaman tangannya pada Saka. Ia ingin beranjak pergi. Ia tidak kuat lagi menahan kesedihan yang membuncah di dadanya. Tiba tiba tangan Saka meraih tangan Alana dan mengeratkan genggaman, sehingga tangan Alana terkunci di tangan Saka. Alana terkejut melihat tangannya dicengkeram begitu erat oleh tangan Saka.
" Alana, aku gak akan melepaskan tanganmu lagi. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Aku mengejarmu tadi, dan aku baru bisa menangkapmu sekarang. Jangan tinggalkan aku Alana, sayangku. Jangan tinggalkan aku. Aku bisa mati tanpa kamu. " teriak Saka histeris antara sadar dan tidak sadar. Mata Saka masih terpejam, tapi genggaman tangannya sangat nyata di tangan Alana. Jadi Alana yakin kalau ini bukan halusinasinya.
" Bby? Kamu sudah sadar?" tanya Alana sambil memegang kening suaminya dan mengelusnya dengan sayang.
" Aku selalu sadar kalau aku mencintaimu, Lalaa. Aku mengejarmu, aku mencarimu, kamu lari dariku, aku tetap mengejarmu dan aku sekarang menangkapmu, aku tidak akan melepaskan tanganmu, sampai kapanpun." racau Saka lagi, matanya masih terpejam tapi tangannya masih menggenggam erat tangan Alana. Alana tidak ngerti apa yang dibicarakan Saka. Karena Saka terus mengulang perkataannya tentang mengejar dirinya dan berusaha menangkapnya.
" Jangan pergi sayang, aku mencintaimu." lanjut Saka lagi.
__ADS_1
Alana bingung, apakah Saka ini sudah benar benar sadar atau belum. Karena ia hanya seperti orang yang mengigau, tapi genggaman tangannya begitu kuat. Tangan kanan Alaana yang masih bebas dari genggaman Saka ia pergunakan untuk menekan tombol help dan memanggil dokter. Supaya dokter bisa datang untuk memeriksanya.
" Hubby, sayang, bangunlah. Buka matamu untukku! Aku gak akan pergi lagi kalau kamu mau sadar dan membuka mata. " bujuk Alana lagi dengan suara lemah lembut.
Saka hanya kembali mengeratkan genggamannya.
" Lala, aku lelah. Aku lelah berlari mengejarmu. Harus dengan apa lagi aku membuktikan cintaku. Aku tahu aku telah banyak salah dengan kamu. Jangan pergi ya!" racaunya lagi.
" Iya, aku tidak akan pergi lagi. Tapi kamu harus berjuang untuk bangun. Sebentar lagi anak kita akan lahir. Aduhh!" teriak Alana saat perutnya kembali mulas. Alana berpikir ini belum saatnya melahirkan. Tapi rasa mulas ini seperti kontraksi palsu yang sering dialami oleh ibu ibu di hari menjelang persalinannya.
Tok tok tok
" Nona Lana, apa yang terjadi?" tanya dokter Indra sambil memandang tangan Alana yang dipegang erat oleh pasien.
" Saya juga kurang tahu. Tiba tiba ia berteriak memanggil saya trus tangannya menggenggam saya seperti ini. Dia tidak mau melepaskan tangan saya. Tapi juga tidak mau membuka matanya." kata Alana menjelaskan situasinya. Dokterr Indra tahu ini adalah sebuah sinyalmen positif, dimana pasien mulai merespon secara baik keadaan di sekitarnya. meskipun belum bangun sungguhan. Sebenarnya semua organ tubuhnya berjalan dengan baik.
" Pasien dalam kondisi normal, tidak ada gangguan apapun. Saya rasa pasien akan segera sadar. Teruslah memberi stimulasi pada pasien. Nona Alana, wajahnya kok pucat?" tanya dokter Indra memperhatikan wajah Alana yang tampak pucat dan menahan sakit.
"Dok saya mungkin sedang mengalami kontraksi palsu. Karena seharusnya perkiraan melahirkan saya masih 4 minggu lagi. Tapi ini sakit banget dok. Bby, arrgghh perut aku sakit ! " adu Alana kepada Saka yang masih menggenggam tangannya dengan erat. Keringat dingin Alana mengucur di wajahnya yang cantik. Wajahnya tampak sepucat kertas. Tangannya yang bebas menahan perutnya yang sakit. Pergerakan bayinya tampak jelas di perutnya yang menonjol. Dokter Indra segera memerintahkan suster untuk mengambil brankar rumah sakit dan berusaha memapah Alana yang tampak kesakitan. Posisi tangan Alana yang masih digenggam Saka dilepaskan paksa oleh dokter Indra, karena ia mengalami kesulitan untuk memapah Alana untuk naik ke atas brankar.
__ADS_1
Sesuatu yang tak diduga pun terjadi. Saka yang tadinya memegang tangan Alana yang kemudian dilepaskan paksa oleh dokter Indra membuat Saka terjengit dan berteriak dengan suara keras memanggil,
" Alanaaaaa, jangan pergi!" Saka sadar dan terduduk, ia melihat dokter Indra yang memeluk Alana yang sudah kepayahan menahan sakit. Dokter Indra sedang berusaha menggendong tubuh Alana yang akan dinaikkan ke atas brankar untuk kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saka pun menjadi murka. Ia melepaskan seluruh alat bantu pernafasan yang dipakainya. Ia juga melepaskan infus yang menancap ditangan kirinya. yang sontak membuat darah mengalir di tangannya. Alana tambah shock melihat itu.
"Bby, jangan! Kamu masih sakit." jerit Alana sambil menahan rasa mulas di perutnya yang timbul tenggelam. Pergerakan bayinya pun semakin aktif, Alana seakan tidak merasakan sakitnya saat melihat Saka mencoba turun dari ranjang rawat inapnya. Suster yang ada dan berusaha menahan tubuh Saka, namun Saka menepisnya. Ia hanya mengunci pandangannya pada tubuh Alana yang dipeluk laki laki lain.
Dokter Indra masih memegang tubuh Alana yang bersender di dadanya, Dokter Indra hendak menggendong Lana untuk menaikan tubuh Alana yang lemah keatas brankar. Tapi sebelum ia bisa menggendong Alana, Saka sudah datang dan menarik tubuh Alana untuk bersandar dipelukannya. Mendorong tubuh dokter Indra sehingga dokter Indra pun terhuyung dan pinggangnya menabrak besi pinggiran ranjang tempat Saka tadinya tidur.
Brakkk!
" Siapa kamu?" tanya Saka sambil menatap dokter Indra, dengan tatapan dingin. Kedua tangannya masih memeluk Alana dengan posesif.
.
.
.
TBC
__ADS_1