
" Lalu kenapa Indra jadi begini,om?" tanya Alana.yang tidak tahu menahu mengenai konspirasi papa Indra dan Saka.
" Om tadi bicara dengan Indra, supaya ia bisa menerima perjodohan dengan wanita lain. Dan om juga akan menerima persyaratan dia untuk mencari mama baru untuknya. Terus dia begini. " jelas papa Indra lagi sambil memandang Indra yang terbaring lemah selah menerima perawtan oleh dokter dokter di rumah sakitnya.
" Persyaratan? Apa kamu ada dibalik semua itu, Bby?" tanya Alana dengan nada menyelidiki.
" Aku.." Saka sedikit salting, ia ga pernah lupa Alana itu sangat cerdas. Ia pasti sudah bisa menduga saat gesture salah tingkah Saka ia tangkap, kalau suaminya yang tercinta itu ada di balik konspirasi drama receh itu.
" Bby, kita keluar dulu. Biar mama dan om menjaga Indra duluan." kata Alana sambil menghela nafasnya dengan kasar. Saka bak suami yang tercyduk selingkuh oleh istrinya. Dia hanya menunduk.dan berharap kalau peristiwa ini ga akan membuatnya kehilangan jatah hariannya. Lagi lagi yang ia pikirin adalah kepuasan Junio. Eh, tapi semua suami suami yang sudah beristri apalagi istrinya secantik Alana, pasti ga akan mau kehilangan jatah hariannya kan? Betul gak? bela Saka dalam hati.
" Bby, sekarang jelaskan apa yang sudah kamu lakukan." perintah Alana saat mereka berdua sudah sampai di taman rumah sakit dan duduk di kursi besi yang ada di sana. Alana tidak marah. Ia merasa apa yang dilakukan Saka itu wajar, sebagai bentuk mempertahankan miliknya dimiliki orang lain.
" Aku hanya ingin kamu jujur saja." kata Alana melanjutkan interogasinya dengan nada lelah.
" Baiklah.." Saka menjelaskan secara detil rencananya untuk membuat Indra move on dengan cara memenuhi ancaman Indra kepada papanya.
Dan setelah Saka selesai menceritakan rencana yang disusun oleh Saka dan papanya Indra, Alana lagi lagi hanya menghela nafasnya dengan berat. Mungkin Indra masih shock aja, karena ternyata sekarang ia tidak bisa seenaknya karena papanya mau mau saja menikah dengan mama Lina.
" Kamu juga sudah bilang sama mama?" tanya Alana lagi.
" Sudah, mama awalnya tidak setuju, tapi setelah berpikir lama, dan setelah aku bilang inilah cara aku untuk memepertahankan kamu, akhirnya mama setuju." desah Saka dengan nada lirih. Ia ga mau istrinya semakin marah.
" Bby, jadi kamu mau bilang dalam rencana ini. Aku satu satunya orang yang ga tau? " tanya Alana dengan nada yang sudah naik satu tingkat.
__ADS_1
" Maafkan aku sayang!" Saka tahu ga ada gunanya membela diri. Alana malah lebih marah. Lebih baik ia ngalah aja. Mengalah untuk menang xi xi xi. Katakanlah Saka adalah anggota ISTI ikatan suami takut istri. Karena masa lalu Alana pernah menjadi istri keduanya, membuat Saka lebih menghargai Alana dengan caranya.
" Ya sudahlah. Aku bisa ngerti, Bby! Tapi tolong lain kali kamu bilang dong sama aku. Jadi aku ga kayak kambing congek yang ga tau apa apa? Masa mama Lina mau nikah lagi aja aku ga tau?" desah Alana dengan raut wajah kesal.
" Kamu gak marah lagi kan?" kata Saka dengan raut ceria.
Alana menggelengkan kepalanya, membuat Saka langsung mencium bibir istrinya yang ranum dan dari tadi sudah melambai lambai minta dicium.
" Bby!!" kata Alana sambil memukul dada Saka yang ga tau tempat, main nyosor sembarangan.
" Aku lega sayang karena kamu gak lagi marah sama aku!" kata Saka dengan dada yang lebih enteng karena satu masalah terpecahkan. Walau sebenernya ia juga masih kepikir tentang masalah Indra.
" Ayo kita balik ke ruangan Indra. Kita tidak bisa meninggalkan mama dan papanya Indra begitu saja. Bisa bisa mereka bisa salting dengan kondisi itu." kata Alana sambil menarik lengan suaminya dan menggandengnya menuju ruangan rawat inap Indra. Saka pun dengan sukarela mengikuti istrinya yang menarik tubuhnya menuju ruangan rawat inap Indra.
flashback
Setelah Alana dan Saka keluar dari ruangan rawat inap Indra, kecanggungan jelas mewarnai kamar itu. Bayangkan dua orang manusia berlainan jenis yang belum pernah berhubungan secara akrab ditinggal berduaan, mana Indra juga belum sadar sejak tadi. Walau tadi dokter mengatakan kalau Indra tidak ada penyakit yang berbahaya, tapi dokter tadi menyuntikan obat,mungkin itu yang membuat Indra beristirahat sampai sekarang.
" Ehm, bu, eh jeng! Maaf, tapi saya bingung mau manggil siapa? " buka papa Indra dengan nada salting yang sangat kentara.
" Oh iya, kita belum kenalan dengan benar ya pak. Saya lahir dikasih nama, Eva Lina Sutanto. Tapi sejak menikah dengan almarhum papanya Alana, orang orang hanya mengenal nama saya sebagai Lina Sandhoro. Kalau bapak?" tanya mama Lina memecahkan suasana canggung yang tercipta akibat belum ada yang ngenalin mereka secara bener.
" Ha ha ha maaf nih jeng. Saya juga belum memperkenalkan diri. Saya biasa dipanggil Adjie. Adjie Nata Syahreza Dharmawangsa. Itu nama yang diberikan orang tua saya. Tapi disini orang mengenal saya sebagai Adjie Dharmais, karena sya selalu memakai nick name itu kalau perkenalan dengan orang atau rekanan bisnis." jelas papa Indra sambil menggaruk garuk kepalanya yang sebenrnya tidak gatal.
__ADS_1
Kembali keheningan menyapa, dua anak manusia yang berbeda jenis kelamin, dan sudah berumur didera kegalauan karena jengah dan canggung.
" Jadi saya manggilnya jeng Eva aja gimana?" tanya papa Indra memecah keheningan yang cukup lama.
" Ha ha ha mbok ya jangan pake jeng didepannya. Kita kan bukan ibu ibu arisan yang lagi ketemuan di arisan. Eva saja, saya yakin bapak lebih tua juga dari saya." kata mama Lina dengan senyum yang mengembang.
" Hah? Ya jangan panggil saya bapak juga dong, biar adil! Saya ini juga ga tua tua amat deh kayaknya. Seakan akan saya bapak bapak tukang sayur. Panggil mas gitu juga ga apa." sahut papa Indra dengan sewot. Membuat mama Lina terbahak.
" Iya deh, mari kita berkenalan dengan benar. Saya Eva Lina Sutanto. " kata mama Lina bangkit dari duduknya di sofa dekat brangkar Indra, sambil mengulurkan tangan yang segra disambut oleh papa Indra yang juga berdiri dari kursi yang ada di sebelah Indra, papa Indra sudah mengulurkan tangannya juga ingin berkenalan dengan wanita cantik yang senyumnya sanggup mengalihkan dunianya.
Tapi mungkin skenario mereka sudah di atur sama yang diatas, karena tanpa sengaja mama Lina terserimpet sandalnya yang tadi ia lepas saat ia duduk di sofa dekat brangkar Indra.
Keseimbangan mama Lina hilang, sehingga ia terhuyung. Tubuhnya yang limbung maju kedepan kearah papa Indra yang sudah mengulurkan tangannya. Untungnya tubuh mama Lina bisa di tangkap oleh lengan kekar papa Indra dan papa sempat memeluk mama Lina sebelum mama Lina terjatuh di lantai.
Karena tubuh mama terpelanting cukup cepat, wajah mereka beradu, walau tidak sampai berciuman. Tiba tiba ada suara yang memanggil dengan nada terkejut.
" Ma... mama?"
.
.
.
__ADS_1
TBC