
Hai hai gengs..
Thor mau kasih berita dan sarannya dulu nih ya.
Sebelumnya Thor berterima kasih buat cinta dan perhatiannya dengan kisah Saka dan Alana.
Tapi karena ada regulasi baru MT, thor memutuskan untuk meng end kan cerita ini lebih cepat dalam beberapa episode lagi dan menambahnya dengan ekstra part.
Jangan kuatir. Cerita ini ga akan mengalami ending yang dipaksakan karena kehabisan ide, karena idenya banyak, tapi emang kisahnya harus di pisah.
Cerita ini akan dilanjut ke buku yang lain.
Nantikan update selanjutnya di pengumuman atas sebelum cerita.
Jangan lupa untuk tetep vote ya karena vote membuat thor senang dan memiliki ide lebih panjang dan lama, kayak punya... ehm sudahlah!
Thanks to
Aii, Reni, Siska, Iswantea, Nurma, Bunda KAyla, Ana, Irma, Nanik, Dony,Ana Azka, Mei lana, Yusi Rusli, Tata,Happy, I love you all... ini edisi vote tanggal 31 yaaaa.
Jangan lupa pencet like dan votenya selalu.
Komen tetep ditunggu!!!
Langung aja yak... Happy reading.
Salam manis dari thor centil pengemis like.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
" Oke Alex, seperti rencana semula. Kamu urus di Penang. Sementara biarin dulu si Vela. Aku mau pulang dan nyari Alana. Arggghhhh, aku tahu beberapa bulan ini aku sibuk dengan perusahaan di Penang. Mungkin Alana merasa aku gak merhatiin dia. Apalagi disini masih banyak tikus tikus perusahaan dari perusahaan lama yang kita beli. Makanya kadang kepikiranku dipecah kemana mana. Belum lagi urusan Yara yang gak mau nerusin pengobatan. Harus gimana coba? Siapa yang mau ngertiin aku. Hahhhhh!!!" desah Saka sambil memijat keningnya yang tiba tiba terserang migren gara gara memikirkan banyak hal yang membuat kepalanya serasa mau pecah.
"Bos, berarti saya tinggal di Penang?" tanya Alex lagi. Saka hanya mengangguk mantab.
"Bos, gimana dengan nona Yara?" tanya Lio, karena kalau Saka pulang bersama Yara, maka Lio harus memesan pesawat komersil. Gak mungkin mengajak nyonya bos memakai heli.
"Biar Yara disini dulu. aku butuh bisa cepat pulang. Kamu tahu gak? Ini telepon rumah gak bisa kuhubungin, emang ayah dan ibu kemana, Yo?"
"Saya gak tau, bos! Kita tanya melalui ART saja?" tanya Lio dengan nada datar seperti biasanya. Alex hanya memandang bos dan assistennya dengan wajah bingung. Alex tidak tahu menahu akan drama hilangnya Alana.
__ADS_1
"Telepon rumah itu gak ada yang angkat, Yo! Gak satupun ART yang bisa angkat telepon rumah utama kalau Ayah dan Ibu tidak di rumah." sahut Saka sewot.
"Saya telepon salah satu pengawal yang saya kirim kesana untuk mengawal nona Alana ya, bos."
"Kenapa gak dari tadi sih, Yoooooooooo." sahut Saka gemas.
Lio hanya diam dan tidak menanggapi tingkah alay bosnya. Ia tahu Saka sedang mengkhawatirkan istri keduanya. Dia sibuk memencet tombol di ponsel pintarnya.
"Bos, tuan besar di Kalimantan. Ia sedang memantau proyek hotel yang di Pontianak. Kemungkinan nyonya besar juga ikut." info Lio sambil menatap ponsel pintarnya, setelah menunggu beberapa saat.
"Aku langsung telepun ibu saja." Saka langsung memencet no ibunya dengan tidak sabar, tapi telepon ibunya tidak ada yang angkat.
"Coba aku telepon ayah." kata Saka lagi sambil memencet no ponsel ayahnya, setelah beberapa saat menunggu telepon itu tersambung juga.
"..."
"Walaikumsalam Yah! Ini Saka. Saka mau nanyain apa ibu dan Alana serta Genta ikut Ayah ke Pontianak?" tanya Saka terburu buru.
"..."
"Loh mereka gak ikut ayah?Lalu kemana mereka?" tanya Saka dengan raut wajah panik yang tidak dapat ia sembunyikan.
" Saka sudah berusaha menelpon ibu, tapi ponselnya tidak aktif, ponsel Alana hanya teronggok dirumah, karena Saka sudah cek nomer Alana, ponselnya ada di rumah." sahut Saka kesal karena ayahnya tampak tak mau tahu tentang keberadaan ibunya, berdalih ibunya Saka selalu tidak pernah lalai meneleponnya 3 x dalam satu hari, kayak minum obat saja. Jadi ayah menganggap Saka mengada ada karena bercerita seolah ibu dan Alana serta Genta raib dirumah.
"..."
"Ayah... gimana Saka gak marah coba. Nomer telepon kok satupun gak ada yang bisa dihubungi. Alana punya ponsel gunanya apa coba?" Saka menahan suaranya agar tidak terkesan membentak orang tua. Bisa kualat nanti kalau Saka membentak ayahnya sendiri.
"..."
"Baiklah, Saka akan cepat pulang."
Telepon yang diseberang sudah dimatikan sepihak oleh ayahnya Saka. Saka mengeluh jengkel, ia bingung ditengah masalah perusahaan yang mendera pikirannya, eh Alana, Genta dan ibu nya kompak menghilang. Ayahnya pun tidak ingin membantu. Jangan jangan, ada konspirasi mereka dibalik hilangnya Alana. Eh tapi gak boleh suudzon sama orang tua, nanti dosa juga. Hufft, kepal Saka ingin pecah rasanya.
Alex dan Lio hanya diam melihat bosnya memijat kepalanya yang rasanya mau pecah, dan dalam hati mereka berjanji kepada dirinya sendiri mereka tidak akan mau menikah dua kali,mending gak usah poligami, banyak susahnya ternyata, mending gak usah menikah saja, bisa kesana kemari. Dasar anak buah gila.
"Kita tetep pulang bos?" tanya Lio lagi.
"Iya." jawab Saka sambil masih mengelus keningnya, pusingnya bisa separoh doang. Rasanya Saka ingin membenturkan kepalanya yang sakit ke tembok, supaya hilang rasa sakitnya.
__ADS_1
"Ambilkan aku obat sakit kepala, Yo. Kepalaku berat banget." lanjut saka lagi.
"Bos, kita tunda kepulangan bos, bos soalnya..."
"Gak, aku mau pulang sekarang. Aku harus pulang."
"Baiklah bos! Perlu saya bantu?" tanya Lio lagi.
"Engga usah!!! Lex, kamu langsung ke kamar hotel kayak biasa ya. Besok kamu atur seluruh kerjaan disini. aku pulang dulu. Jangan bilang sama yang lain kalau aku pulang mengurus urusan pribadi. Bilang aja aku ada tender baru di Singapura."
"Baik, bos!"
Dddrttt... drrrttt...
Ponsel pintar Saka bergetar tanda ada panggilan telepon yang masuk.
' Ayah calling '
"Assalamuaalaikumm, ada apa, Yah? " tanya Saka sambil membatin apakah ayahnya tadi kurang puas memarahinya tadi.
" ..."
" Hah? Ibu pergi dengan teman teman arisannya? " tanya Saka dengan nada heran, lhah tadi ia telepon ibunya gak diangkat, giliran ayahnya yang telepon cepet banget ngangkatnya. Gimana gak bete coba? Huhhh!
"..."
" Lah... kalau ibu pergi arisan dan menginap di luar kota, trus Alana sama siapa, yah?" tanya Saka dengan nada bingung.
"..."
" Apa?? Ibu juga ga ngajak Alana dan Genta? Loh gimana sih, yah? Ayah kan tahu Alana sedang mengandung cucu ayah. Kalau Alana sampai gimana gimana Saka tidur sama siapa?" tanya Saka dengan polosnya.
Panik, Khawatir, Bingung bercampur jadi satu. Saka sudah tidak lagi bisa berpikir dengan baik. Ia ingin segera balik ke Indonesia mengatasi keruwetan rumah tangganya dengan Alana. Bom waktu yang selama ini disimpan Alana meledak sekarang. Saat ini langsung terbayang pikiran saat Alana minggat di Singapura, jujur Saka takut kehilangan Alana.
.
.
.
__ADS_1
TBC