Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
125. Bimbang


__ADS_3

Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat💪🏻💪🏻💪🏻dan like setiap sudah bacaaa yaaa,😘


Makanya, budayakan like dan vote😘😘 yang banyak. Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh💋💋


Happy reading!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Baiklah, tapi karena semua orang tahunya dia adalah istri pertamaku, jadi biarlah aku yang menanggung seluruh biaya pemakaman dan acara tahlilannya biarlah dilakukan dirumah Yara." kata Saka sambil menghela nafasnya. Ia lelah, ia tidak ingin berdebat. Ia mengatakannya dengan nada lembut, karena ia tahu mungkin laki laki berkacamata itulah yang paling kehilangan.


Rangga hanya mengangguk, ia tahu posisinya. Orang tidak tahu siapa dirinya dan hubungannya dengan Yara.


Saka langsung mengambil posisi. Dia tahu Rangga tidak akan mungkin menghubungi paman Yara. Bagaimanapun dendam yang ada, Yara sudah menitipkan satu pesan untuk berdamai. Entah Rangga mau atau tidak, tapi Saka tidak bisa abai dengan permintaan terakhir Yara. Sebenci apapun Rangga dengan paman Yara, tapi pamanlah keluarga Yara saat ini. Dia harus dikasih tahu.


Saka udah memgang ponselnya dan mendial nomer paman Yara, menunggu paman Yara mengangkat teleponnya.


" Halo, Assalamuaaalaikumm, paman... Rendra ingin mengabarkan tentang Yara. Ehm.. Yara sudah meninggal dunia. "


" ... "


" Iya paman. Yara sudah Rendra temukan dan Yara sudah meninggalkan banyak pesan dan banyak berbincang dengan Rendra, Alana juga dengan Rangga."


"..??!"


" Ehm iya, Rangga suami Yara juga kan, paman? Jadi saya rasa ia berhak untuk.."


"..."


" Baik paman. Rendra tunggu di rumah Rendra dan Yara, ya Paman. Waalaikummsallamm.." kata Saka sambil menutup percakapan teleponnya dengan paman Yara. Mata Alana menatap Saka penuh pertanyaan, kayaknya ada sedikit kesalah pahaman antara paman dan Saka. Tanpa ditanya Saka langsung memberitahu Alana.


" Paman ga terima ada Rangga, dan bertanya kenapa bukan paman yang dipanggil di saat saat terakhirnya." bisik Saka kepada Alana, ia ga mau Rangga dengar, karena ia juga ga mau menyakiti hati Rangga dengan perkataan paman Yara.

__ADS_1


" Hadeh, gimana sih paman Yara itu? Masa tidak belajar dari pengalaman yang ada? Kan kemarin kemarin juga tahu, sampai Yara harus jadi korban. Dasar orang tua gak bener. Apa ga inget dosa? .." celoteh Alana yang dilakukannya secara bisik bisik harus tertahan karena Saka menangkup bibir Alana dengan tangan Saka yang gede. Ya kali pake bibir Saka, suasananya ga mendukung!!


" Jangan keras keras!" kata Saka dengan suara tertahan.


" Itu udah pelan, Bby! Aku cuman heran."


" Ya oke, stop!! Jangan gibahin orang tua."


" Tapi,.."


"Alana Mahen.."


Alana tidak menjawab hanya berpindah posisi kedekat pintu keluar, seakan akan menunggu seseorang, tapi mukanya berubah masam. Maksudnya kan bukan ghibahin, tapi ia gemes sama paman Yara, kasian kan Yara sampai kayak gini. Padahal Rangga tu kayaknya cinta mati sama Yara. Toh harta bisa dicari, apalagi sampai menyakiti anak yang tidak berdosa. Alana geramm.


" Rangga, kamu siapin barang barang kamu dulu, sebentar lagi akan ada ambulance yang akan membawa Yara pulang kerumahnya." kata Saka sambil menepuk bahu Rangga dengan pelan. Karena dari tadi Rangga hanya diam dan ga bersuara. Ia hanya duduk termenung disebelah jasad istrinya, eh mantan? Tapi kalau dikatakan mantan, ia ga pernah menceraikan istrinya. Tapi kalau dikatakan istri, kenapa Yara malah bisa menikah lagi dengan Narendra Sakabumi? Status Rangga dan Saka menjadi sangat ambigu.


" Ya!" jawab Rangga singkat. Ia masih terpukul dengan kondisi kepergian Yara. Sekalipun ia tahu bahwa secara medis sangat mustahil bagi Yara untuk bisa bertahan. Sekalipun sebenarnya jika Allah berkehendak tidak ada yang mustahil. Tapi mungkin Allah ingin Yara untuk bahagia di surga.


Ting tong..


" Rangga, kamu ikut mobil aku, Alana dan Lio." tawar Saka kepada Rangga.


" Gak usah, biar aku sama Yara aja naik mobil ambulance." kata Rangga dengan nada datar, dingin dan acuh. Memang karakter Rangga seperti itu. Bukannya dia ga perhatian dengan orang tapi semenjak ia dipisahkan oleh Yara dan ada beberapa kejadian termasuk meninggalnya anaknya, membuat Rangga terkesan dingin dan sulit untuk didekati.


" Baiklah!" jawab Alana singkat setelah memberi Saka kode agar tidak usah memaksa Rangga untuk ikut mobil mereka. Mungkin Rangga merasa tidak nyaman dengan mereka atau ia ingin menemani Yara untuk yang terakhir kalinya.


" Ehm Rangga, sehabis ini kamu akan bertemu dengan paman Yara. Aku harap kamu mempersiapkan diri. Karena aku tidak mau kalau acara pemakaman Yara menjadi ajang kalian untuk bertengkar dan berselisih paham. Kita singkirkan dendam dan rasa yang tidak enak. Mari kita hormati permintaan terakhir Yara untuk berdamai dengan semua. Aku dengan kamu tidak ada masalah, begitupula dengan paman Yara." jelas Saka dengan pelan tapi tegas.


" Aku usahakan!" jawab Rangga kembali dengan nada datar. Saka memaklumi dan hanya mengangguk angguk saja.


Ia tahu tidak mudah melupakan orang yang ingin membunuh dirinya dan telah membunuh anaknya, sekalipun jujur Saka tidak yakin kalau paman Yara akan setega itu, kan paling tidak anak itu masih darah dagingnya juga. Tapi ya gak tahu juga kalau ada setan lewat, saking emosinya trus gak sengaja terbunuh? Karena itu Saka sudah memutuskan untuk menyelidiki ini lebih lanjut. Seandainya... seandainya Yara berkata jujur dari awal, kejadian ini bisa diselidiki lebih awal oleh Saka.

__ADS_1


Lio masuk brsama beberapa orang berbaju putih yang sengaja dipanggil oleh Lio, membawa brankar untuk membawa Yara ke rumah.


" Bos, nyonya?" tanya Lio tanpa menyelesaikan ucapannya, karena ia juga agak tidak enak dengan Rangga. Apalagi Rangga hanya diam dan sorot matanya hampa.


" Kamu urus orang ambulance dan kasih alamat rumah Yara. Rangga akan ikut ambulance bersama Yara." jelas Saka.


" Baik bos!"


"Kmu sudah kasih tau ibu suri?" tanya Saka seakan ingat sesuatu.


" Belum bos! Nanti bos ga boleh kalau.."


" Bagus!! Biar Alana aja yang bilang. Kamu kan tahu kalau ibu suri lebih percaya sama Alan." kata Saka lagi yang kemudian memijit keningnya yang tiba tiba pusing.


" Sebenernya ibu suri sama saya juga percaya kok bos!" lanjut Lio.


" Maksudmu?"


" Ga jadi bos! Saya atur orang ambulance dulu!" kata Lio sambil beranjak dari hadapan Saka, karena kayaknya Saka lagi dalam kondisi siaga satu.


" Sayang, kamu beritahu ayah dan ibu tentang Yara serta kasih tahu mereka untuk segera ke rumah Yara." kata Saka kepada Alana, Alana memandang Saka dengan tatapan kasian, karena daritadi Saka memijat keningnya. Entah karena shock ditinggal oleh istri pertamanya atau karena hubungan ambigu antara Saka, Yara dan Rangga yang sedang ia pikirkan.


" Pusing, Bby?" tanya Alana sambil memijat tengkuk Saka.


" Huum. Aku bayangin sebentar lagi ketemu paman Yara dan Rangga di satu ruangan. Aku ga bisa bayangin betapa Ranga menahan diri, aku jadi ga tega. Tapi aku mau permintaan Yara agar mereka berdamai bisa terlaksana. " kata Saka bimbang.


" Kalau Rangga benar benar bisa menahan diri, berarti Rangga itu hebat. Yara beruntung bisa dicintai dan dihargai oleh laki laki sepertu itu. Karena kesetiaan seperti itu langka loh, Bby!" kata Alana sambil menatap kagum Rangga yang bersiap keluar bersama orang orang yang membawa Yara.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2