
Hai readerrrrs
Welcome back readersss
Thor berterimakasih buat readers sekalian yang sudah membaca cerita ini.
๐๐
Thor selalu sempetin untuk up agar kalian bahagiaaa๐ walau ini agak molor molorrr waktu updtenya dan i am so sorry banyak typo karena ga pake edit langsung send.
Tetep ya vote yang banyak supaya thor semangat๐ช๐ป๐ช๐ป๐ช๐ปdan like setiap sudah bacaaa yaaa,๐ VOTE DAN LIKE HARI INI yang BANYAK ya!!;
Author sangat amat berterima kasih buat readers yang sudah meluangkan waktu dan upaya buat nge vote tanpa paksaan karena berarti reader menghargai author yang sudah susah payah bikin cerita ditengah kesibukan yang ada. Sekali lagi makasihh๐๐
Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) hanya butuh wktu sih buat like dan vote
๐๐๐ Pantengin karya thor lainnyaaaa
Jangan lupa vote like vote like vote like vote like๐๐๐
Happy reading!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seminggu dari kejadian penembakan, Saka sudah kembali sadar dan luka akibat tembakan juga sudah mulai sembuh.
__ADS_1
Tapi pak Burhan yang menyembunyikan Yara belum kelihatan perkembangannya. Peluru yang menyerempet jantungnya, membuat pak Burhan koma setelah operasi pengangkatan peluru berhasil dilakukan.
Saka tampak frustasi menanti penyelidikan kepolisian yang masih belum bisa menemukan istrinya, ia takut kalau Yara kenapa kenapa. Secara, Yara dalam kondisi yang memprihatinkan saat diculik dari rumah sakit.
Alana pun sekarang pikirannya terbagi karena 1 hari yang lalu, papa Sandhoro berpulang ke rahmatullah. Perasaan sedih dan menyesal berkecamuk di dada Alana.
Mamanya emang tidak pernah memberitahu kondisi papanya yang semakin menurun sejak Alana menikah lagi beberapa bulan yang lalu. Ia tidak pernah mau membebani Alana. Sejak kecil, Alana banyak berkorban dari harus bekerja sambil sekolah, selalu menyokong kehidupan keluarganya karena tulang punggungnya hanyalah Alana, lalu Alana menikah dan ditinggalkan saat hamil, sampai harus menerima dijadikan istri kedua, karena Yara dan Saka memaksanya dengan dalih untuk mendapatkan keturunan dari benih Saka sendiri.
Mama Lina sadar, Alana bak sudah jatuh tertimpa tangga. Suaminya si Saka baru saja menghadapi fase hidup dan mati, istri pertama suaminya diculik, Alana juga baru saja melahirkan prematur yang mengharuskan anaknya diperiksa secara intensive sampai usia setahun agar kejadian gagal nafas tidak terjadi lagi. Sekarang ia juga harus menangisi papanya yang juga meninggalkannya.
Mama Lina tahu betapa besar tekanan hidup Alana. Sehingga ia tidak mau membebani Alana dengan masalah papanya yang kondisinya memburuk 6 bulan terakhir ini, karena memang papa Sandhoro sudah sakit sakitan sejak Alana SMP.
***
" Bby, makanan rumah sakit sudah kamu makan?" tanya Alana dengan wajah sembab dan pucat. Alana tampak kurus dan lelah.
" Bby, aku lagi menyiapkan pengajian 3 hari dan seminggunya papa, kasihan mama kan sudah tua. Apalagi sekarang dia hidup seorang diri. Aku .." jelas Alana sambil masih saja menitikan air mata. Ia harus berlarian antara rumahnya dan rumah sakit. Ia punya kewajiban yang sama yaitu mengurus suaminya yang sedang sakit dan juga melakukan baktinya kepada orang tuanya. Jujur itu membuat Alana super lelah, belum lagi ia masih harus menyusui Alendra.
" Sayang, biarlah Lio membantu kamu. Jangan terlalu lelah. Kalau kamu sakit ntar aku juga susah kan?" kata Saka memberi Alana pengertian.
" Iya, Bby! Kamu juga cepet sembuh ya. Aku juga sangat kuatir sama kamu. Apalagi Yara sampai sekarang masih belum ditemukan." kata Alana denga nada sendu.
Ya Allah dosa apakah kami ini, sampai masalah datang bertubi tubi seperti ini. Alana tidak dapat menahan kesedihannya, air matanya turun deras membasahi pipinya.
Saka dengan cepat memgelus pipi istrinya yang tampak cekung dan matanya yang dihiasi lingkaran hitam, tanda kurang istirahat. Alana masih tampak cantik tanpa make up tapi raut sedih dan terluka tidak dapat dipungkiri menghiasi wajahnya saat ini.
__ADS_1
Alana dekat dengan papanya. Alasan Alana selama ini pantang menyerah adalah motivasi dari papanya. Papa Alana terkena sakit jantung dan anval untuk pertama kali saat Alana masih berusia 10 tahun. Bayangkan penderitaan papanya yang sudah sakit seperti ini puluhan tahun. Sembuh sakit karena bekerja lagi trus sembuh sakit lagi karena banyak pikiran, begitu terus menerus.
Papa Alana seorang pekerja keras dan bisa mengumpulkan uangnya sehingga bisa membeli rumah mewah dan menjadi tetangga keluarga Perdana. Tapi karena sakitnya, ia tidak dapat bekerja, sehingga ayahnya hanya bisa menjual rumah mewah dan hartanya yang lain untuk pengobatan.
Melihat kesedihan dan tangisan Alana membuat Saka melingkarkan tangannya ke tubuh istrinya yang ringkih dan memeluknya. Tapi karena tubuh Alana bertumpu tubuh Saka, dengan tidak sengaja menyentuh dadanya yang bekas tertembak, Saka terjengit kaget. Luka yang belum kering sepenuhnya memperlihatkan rembesan darah segar yang membuat Alana shock dan dengan cepat memanggil dokter. Dokter pun segera datang.
" Maaf nyonya, biar saya periksa dulu kondisi tuan Narendra." kata dokter itu menghalau Alana dengan sopan karena ia hendak memeriksa luka Saka dan membuka perbannya.
" Ah lukanya sedikit terbuka ya. Saya sih masih sarankan untuk tuan dan nyonya tidak melakukan olah raga yang ekstrim dulu, mengingat luka tuan Narendra masih rawan bisa terbuka sewaktu waktu." perkataan dokter itu membuat wajah Alana merah bagai kepiting rebus, bayangkan saat suami dalam kondisi sakit masa dokter menyangka Alana bakal tega meminta jatah mesra mesra begituan sama Saka sih!!
" Tapi saya.." kata Alana ingin membela diri.
" Lha kalau pas istri saya kepingin olah raga ekstrim gitu, cara teramannya gimana dong, dok? Karena kan ga baik juga kalau kita suami menolak memberi istri nafkah batin gitu kan, dok! " tanya Saka tanpa malu malu sedikitpun. Alana sudah tidak tahu lagi mau di taruh dimana lagi ia menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat merah karena malu. Oh my God, apakah Saka hendak mempermalukannya! batin Alana lagi sambil menutupi wajahnya yang cantik dengan kedua tangannya.
" Masih bisa dengan cara cara konvensional untuk saling memuaskan tanpa harus tindih menindih kan tuan Narendra?" jelas dokter itu setengah gamblang tanpa malu malu. Padahal Alana saja sudah tidak berani memandang wajah dokter itu karena malu.
" Ha ha ha dok, yang enak tentu tumpang tindih ya.!!" jawab Saka semakin absurd, dijawab dengan senyuman smirk sang dokter yang kemudian sedikit menekan luka Saka yang membuat Saka meracau kesal karena dokter itu tampak seperti tidak urusan kalau Saka menjerit kesakitan.
" Sudah dibenerin ya perban dan jahitan lukanya. Makanya tuan, jangan tindih menindih loh ya, lukanya belum kering, kalau bisa puasa dulu aja deh jadi gausah jerit jerit kesakitan kayak gini saat diganti perbannya." goda dokter itu lagi, yang membuat Saka hanya bisa menyunggingkan senyum ditengah kejengkelannya.
" Kalau tidak ada yang lain saya permisi dulu " lanjut kata dokter itu sambil pamit undur diri.
.
.
__ADS_1
.
TBC