
“Sesampainya kita di sana, kamu mau kemana?” tanya Alana.
“Langsung ke apartemen.!” Jawab Saka singkat.
“Gak jenguk Yara?” tanya Alana lagi.
“Ehmm, nanti coba aku tanya ke pamannya Yara lagi. Apakah dokter itu masih nyariin aku.” Jawab Saka singkat.
“Dokter itu gak punya nomer kontakmu?” tanya Alana dengan nada heran.
“Gak !! Kalau kamu lupa ... urusan disiini yang urus paman. Mungkin dia nanya ke pamannya Yara tapi mungkin dia gak kasih juga kali….Kamu tahu sendiri kayak apa pamannya Yara.”sahut Saka sambil mengedikkan bahunya singkat.
“ Yuk turun, kita sudah sampai… Kita langsung naik taxi ke apartemen, deket ..” jelas Saka
sambil menggandeng tangan Alana, takut kalau Alana kesasar.
“Hmm..”
Dddrrtt ddrrttt, begitu ponsel dinyalakan langsung ada panggilan masuk, yang ternyata pamannya Yara uang menghubungi Saka saat ini.
“Assalamualaikum
..”
“walaikumsalamm.. Ren kamu dimana?”
“Baru nyampe sih paman!”
“Bisa langsung kesini? Ini dokter Michele nyariin kamu.”
“Ehm… mungkin butuh 30 menitan, apa gak pa pa nunggu?” tanya Saka dengan polosnya.
“Bentar.. aku tanyain dokternya dulu… habis ini kuhubungin, Yara juga sudah sadar, Ren!
Kamu gak kesini?”
“Ya, Rendra langsung kesana.”
“Oya , Paman juga sudah menyewa suster buat jagain Yara 24 jam seperti permintaanmu. Jadi
nanti bakal ada yang jagain Yara, namanya Abel, mahasisiwi Indonesia yang
bekerja part timer sebagai suster penjaga .” jelas paman Yara lagi.
“Ya paman… Rendra langsung kesana.”
“Dokter nungguin kamu di resto samping rumah sakit, paman kasi no ponsel kamu atau
tidak?” tanya paman Yara menghargai privasi suami Yara itu.
“Gak usah paman! Rendra pasti nemuin dokter itu di resto samping rumah sakit. 30 menit
ya, Rendra masih otewe.”
“Baik, Ren… habis itu langsung temuin Yara ya!”
“Ya, Paman!”
Saka langsung mematikan teleponnya karena paman Yara pun sudah melakukan hal yang sama.
__ADS_1
“Kamu mau ketemu sama dokternya?” tanya Alana.
“Iya, kamu ikut apa langsung ke apartemen.?” Saka bertanya balik.
“Ikutlah… baby kan lapar, Dad!”
“Iya, maaf daddy lupa….”
“Kamu masuk resto dulu saja, gak usah hiraukan aku, kamu urus urusanmu dengan dokter itu
ya. Ingat!! Gausah peduli in aku, nanti aku makan diresto itu juga.”
“Kenapa?? Kamu marah??”tanya Saka dengan raut wajah keheranan.
“Gak … mau ngetest aja… sudah! Kamu ikutin aja apa mauku, okey??”
“Tapi…”
“Udah… tuh, taxinya dah dtg, kamu order ke resto itu dulu. Nanti kamu turun duluan, baru
aku… inget gausah peduliin aku.”
“Tapi….”
“Ayo masukkk!!”
“Tapi…”
“Kamu ngomong tapi sekali lagi, nanti malam ga ada jatah buat Junio.”
“Oke.. oke…”
Sesampainya ke resto itu, Alana langsung mendorong Saka untuk keluar dari taxi duluan , setelah sebelumnya menyita dompet Saka di tas nya, jadi Saka hanya turun membawa ponselnya saja. Tas yang berisi dokumen, dan keperluannya lainnya dibawa oleh Alana.
Alana kemudian ikut turun setelah membayar taxi yang dikendarai, Alana juga memandang
ke sekeliling, melihat arah mana Saka duduk. Lalu duduk ke dekat tempat duduk
yang ditempati Saka dengan dokter itu.
‘Hmmh, dokter itu lumayan cantik, tapi maksudnya apa coba minta ketemuan dengan suami pasien diluar jam visit pasien dan ditempat seperti ini? Apa jangan jangan bener firasatku?’, pikir Alana sembari
Alana mengorder menu dengan cepat, takut kalau tidak bisa nguping pembicaraan Saka.
Saka melihat Alana masuk ke dalam resto dan mengambil tempat duduk dibelakang dokter Michele.
Melihat Alana yang duduk membelakangi dirinya, membuat Saka tersenyum smirk,
keinginannya untuk menggoda Alana pun timbul.
“Tuan, maaf saya membuat anda tidak nyaman karena berbicara diluar ranah rumah sakit seperti ini.” Ujar Michele dengan ramah.
“Oh gak pa pa, dokter bisa berbahasa Indonesia juga?” tanya Saka dengan keheranan, karena wajah dokter itu perpaduan asia dan eropa.
“Iya, papa saya dari Canada, mama saya dari Bali, jadi ya begini ini. “ sahut Michele dengan tawa renyah menghiasi wajahnya yang manis.
“Oh ya, ada keperluan apa dokter memanggil saya?” tanya Saka lagi, ia tahu Alana sudah
mulai tidak sabar dengan basa basi dokter Michele.
__ADS_1
“Ehm… saya hanya ingin menyampaikan kondisi nyonya Yara yang mengalami penurunan beberapa minggu ini, kondisinya benar benar tidak stabil.” Jelas Michele perlahan sambil memandang wajah tampan Saka yang membuat dia terpesona.
“Apakah tidak ada pengobatan yang bisa membuatnya sembuh?” tanya Saka dengan wajah sendu.
“Mungkin membahagiakan dia di sisa akhir hidupnya menjadi obat yang mujarab bagi
dirinya. Bahkan di beberapa kasus, bisa menjadi sumber kesembuhan bagi pasien,
tuan!” jawab Michele masih setia memandangi perubahan ekspresi Saka yang
menurutnya sangat menarik.
“Hmm, jadi saran dokter?” tanya Saka memastikan.
“ Saran saya, menuruti apa yang menjadi keinginannya. Tuan tahu apa yang menjadi
kebahagiaannya?” tanya Michele dengan nada lembut. Dibelakangnya Alana menjadi sangat tidak sabar dengan analogi yang diungkap oleh dokter muda itu, makanan
yang sudah diantar oleh pelayan menjadi sasaran ketidaksabarannya, membuat makanan itu ludes dalam sekejap.
“Saya menuruti semua permintaannya,kok! Emang ada permintaannya yang belum
tercapai yang disampaikan melalui dokter?” tanya Saka dengan wajah keheranan.
“Ya, dia ingin memiliki bayi, yang merupakan anak kandung dari tuan.” Jawab Michele
dengan nada yakin. Alana memutar bola matanya dengan sebal, kayaknya dia sudah
tahu kearah manakah dokter itu akan berbicara.
“Oh tentang itu? Ya, dokter kan tahu kalau memiliki anak itu juga butuh proses, gak bisa
langsung juga kan?” sahut Saka dengan nada datar, ya kalau tentang itu, dia pun
kan sudah berusaha, dan sudah jadi, tapi lahirnya kan masih lama juga, batin Saka dalam hati.
“Saya ingin menawarkan kesepakatan untuk tuan.” Sambung Michele dengan hati yang berdebar debar.
“Sebentar, apa berarti saya harus menghentikan seluruh terapinya dan membawanya pulang.” Tanya Saka sambil menyugar rambutnya kebelakang serta mengacak nya perlahan, sebuah kebiasaan yang Saka lakukan saat dia cemas. Tapi seringkali kebiasaan yang dia lakukan membuat wanita salah focus karena ketampanan Saka jadi semakin terlihat.
Dan benar saja, dokter muda itu termangu karena melihat wajah Saka yang terlihat tampan, ingin rasanya Michele menangkup wajah Saka dan menciumnya dengan penuh perasaan.
Michele tersadar dari lamunannya saat Saka mengoyang goyangkan tangan didepan mata
dokter muda itu.
“Dok… dok… kok malah melamun sih..” sergah Saka dengan raut kesal karena ia menunggu
jawaban dokter itu, tapi malah dokter itu melamun.
“Maaf… maaf… gimana?” tanya Michele gelagapan karena baru saja tersadar dari lamunannya yang indah.
.
.
.
TBC
__ADS_1