Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
96. Cemburu


__ADS_3

Hai gengsss... ketemu sama author centil pengemis like dan vote yaaa.


Readers yang baca klik vote dan likenya dongg πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran disana. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‹


Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Sambil nunggu update, bisa cek karya thor yang lain.😘


So jangan lupa vote dan like yaaaa


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tok tok tok..


Krek..


" Bos,.." desis Lio dengan suara yang minta diperhatikan oleh bosnya, si Saka. Suara Lio membuat Saka berdecak jengkel. Dia lagi dalam mode syahdu bersama Yara, malah mendapat gangguan dari Lio.


" Bos.." bisik Lio lagi minta perhatian oleh bosnya yang dengan sengaja mengacuhkannya.

__ADS_1


"Bosss!" suara Lio lebih keras satu oktaf di telinga Saka, yang membuat Saka semakin jengkel bin kesel dengan asistennya yang dianggapnya tidak tau aturan dan tidak tahu tempat. Saka hanya melirik Lio dengan pandangan marah sambil mengkode Lio untuk tidak mengganggunya.


Sekalipun Lio keder dengan tatapan membunuh yang dilontarkan oleh Saka, tapi tidak membuat Lio surut nyali untuk terus memanggil bosnya dan mengganggunya untuk sekedar minta perhatiannya.


" Bos, Alana gawat bos!" serunya. Ia sudah tidak bisa lagi menarik perhatian bosnya kalau ia hanya berbisik dan mendesis (emang Lio ular, pake acara mendesis) Ia sudah harus berseru dengan lantang walau dengan resiko Yara akan tahu tentang Alana. Habis kalau punya bos yang geblek ya begini resikonya.


" Hah? Ada apa dengan Alana?" sentak Saka dengan suara yang cukup nyaring. Saka gak sadar kalau suaranya yang keras membuat Yara menjadi ikut tau tentang kondisi Alana yang masih disembunyikan oleh Lio.


" Alana kenapa, mas?" tanya Yara dengan suaranya yang lirih.


" Aku belum tahu sayang. Lebih baik kamu istirahat dulu dan menanti kabar dariku dengan sabar ya. Alana akan aku bawa kemari sesuai permintaanmu." sahut Saka cepat. Ia hanya mengecup kening Yara secepat mungkin. Takut kalau Yara nanti akan banyak bertanya sesuatu yang dirinya pun belum punya jawabannya.


" Mas.." bantah Yara, ia ingin tahu lebih banyak lagi tentang apa yang sedang menimpa Alana. Tapi Saka meninggalkannya dan lalu menyusul Lio yang sudah keluar duluan. Lio tidak mau mengambil resiko kalau Yara sampai tahu kondisi terakhir Alana dan membuat Yara anval lagi.


" Yo, ada apa? Kenapa Alana?" tanya Saka dengan nada panik. Ia juga heran, tadinya Alana ditinggal tidak apa apa. Kenapa sekarang Alana jadi gawat menurut Lio???


" Bos, Alana jatuh pi...!" Bagaikan petir menyambar ubun ubun Saka, Saka langsung berlari menndekati kamar Alana dan membukanya tanpa mendengar penjelasan Lio.


" Sayang? Kamu kenapa? Bagaimana bisa jatuh?" tanya Saka bertubi tubi. Lah Alananya kan masih tertidur, setelah ditangani oleh dokter Yani. Membuat dokter Yani yang hendak menjelaskan pun jadi kebingungan karena keluarga pasien memberondong pertanyaan bagaikan petasan renceng.


" Ehm maaf, tuan. Saya rasa Tuan harus tenang dan berkepala dingin. " kata dokter Yani dengan tenang. Ia sadar keluarga pasien yang satu ini masih muda jadi wajar kalau gampang panik.


" Soalnya tadi pas saya tinggal, dia gak apa apa dok." sahut Saka dengan nada khawatir.


" Pasien memang sekarang sudah dalam keadaan stabil. Tadi sempat turun tekanan darahnya, yang membuatnya jatuh pingsan..." sebelum dokter itu selesai memberi penjelasan Saka langsung memukul lengan Lio yang berdiri disampingnya.


" Kamu tadi ngasih aku info salah. Kamu bilang Alana jatuh. Jantungku rasanya mau berhenti berdetak tau gak sih!" sergah Saka kepada asistennya yang kebingungan menatap bosnya yang sekarang malah menyalahkannya. Bukannya bos nya tadi yang ga dengerin info secara lengkap malah main lari aja. Tapi, terserah lo lah, Bambangggg!!! Lo kan bosnya, nasib gue anak buah selalu jadi bahan persalahan saja, pikir Lio mengeluh dalam hati.

__ADS_1


Dokter Yani hanya tersenyum sambil melanjutkan analisanya.


" Untung tadi si masnya ini langsung menekan tombol help, sehingga pasien bisa langsung ditangani." kata dokter Yani sambil menunjuk Lio sambil tersenyum. Sedangkan Lio hanya memandang Saka dengan pandangan seperti memberi kode bahwa untung ada dirinya yang mengetahui kondisi Alana kalau tidak, Alana pingsan ga ada yang tahu. Tapi itu ia ucapkan dalam hati tentunya. Karena Saka hanya mendengus pendek mendengar penjelasan dokter Yani.


" Dok, tapi kondisi kandungannya gimana?" tanya Saka masih dengan nada panik.


" Mudah mudahan tidak perlu operasi ya, tuan. Tapi kalau gejala ini berlangsung terus mungkin bayi akan kami keluarkan secara prematur melalui jalan operasi caesar." ujar dokter Yani lagi dengan lirih. Ia berharap pasiennya bisa melahirkan dengan normal. Masalah maju mundur hari persalinan itu merupakan hal yang biasa.


Setelah dokter Yani memastikan tidak ada masalah dengan Alana, ia pun pamit keluar dan meninggalkan Saka, Alana dan Lio di dalam kamar rawat inap itu.


Saka mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Ia mendapati ada sesuatu yang janggal. Ia melihat ada karangan bunga yang segede gaban nangring manis di samping brankar Alana yang masih tertidur setelah kembali disuntik obat penambah darah dan penenang.


" Bunga dari siapa, Yo?" yanya Saka dengan nada ketus. Karena sewaktu dia masuk rumah sakit tidak ada seorangpun yang tahu. Lio menutup info itu rapat rapat. Takut kalau pesaing bisnis Saka akan memanfaatkan situasi dengan menyabotase.


" Bukan buat bos kok bunganya." sahut Lio dengan nada khawatir. Ia tahu kalau bosnya tahu dari siapa bunga itu, Saka akan tambah ngamuk.


" Emang buat siapa? Alana? Yara?" desak Saka lagi. Ia sebenarnya bisa menebak. Ia hanya ingin tahu persis dari mulut Lio yang tadi emang ia mandatkan untuk menjaga Alana sewaktu ia mengurus Yara.


" Untuk nona Alana!" jawab Lio singkat.


" Argghhh, iya dan dari siapaaa? Ngomong kamu irit banget? Belum sarapan?" desak Saka dengan nada sarkas.


" Dari dokter Indra. Ehm tadi juga dokter Indra kemari untuk memberi nona Alana bunga itu secara langsung." jelas Lio dengan nada datar. Ia tahu sebentar lagi Saka akan meledak. Saka itu posesif bin cemburuan. Ia merasa akhir akhir ini Alana jadi banyak penggemarnya. Saka menjadi sangat geram. Ia merasa, aura Alana berubah semenjak hamil. Apalagi Alana sekarang hanya bertugas dirumah, istirahat dan merawat tubuhnya. Genta dan urusan rumah tangga sudah ada yang mengurus. Karena sering perawatan wajah dan tubuh, Alana jadi tampak lebih sexy dan menggoda. Sekalipun berbadan dua. Alana emang tidak terlalu nampak kalau hamil. Ini yang membuat Saka menjadi uring uringan.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2