
“He he he kamu mesti nyadar kalau pesona suamimu itu benar benar memabukkan.”
“Astafirullah… amit amit jabang bayiiii.” kata Alana sambil mengusap usap perutnya yang
sedikit membuncit.
“Hei aku cuman bercanda sayang.”
“Bercandamu keterlaluan, Bby!” cibir Alana.
“Gimana? Kamu ikut mengantar Yara ya.” bujuk Saka sambil mengalihkan perhatian Alana.
“ Tapi bagaimana dengan pamannya? Kamu kan tahu..”
“Kita akan mengambil penerbangan yang berbeda dengan Yara. Kalau sudah sampai , biar aku saja yang mengurus. Kamu bisa tinggal di hotel atau kesana setelah pamannya balik ke hotel.”
“Serasa jadi selingkuhanmu saja ya, Bby?” decak Alana sebal, Alana mendengus
dan menghela nafasnya dengan kasar.
“Ya enggaklah, kamu jangan punya pikiran negatiff, kita hanya menghindari konflik
yang ga perlu aja. Mau ya?”
“Gimana dengan Genta? Aku kangen..”
“Sehari aja, langsung besoknya kita pulang… Jadi aku bisa punya bekal yang banyak.”
“Bekal apaan?”
“Ya itu yang akusuka.” Sambil menunjuk perut Alana bagian bawah, yang merupakan kenikmatan milik Saka.
Alana hanya bisa memutar bola matanya dengan kesal. Pikiran Saka hanya terpusat di hal hal begitu melulu.
“Baiklah, aku meluluskan keinginan Yara. Tapi ingat ya, Bby. Sehabis ngantar, kita pulang, aku bener bener kangen Genta.”
“Kamu pingin ngurus tentang Genta?” tanya Saka hati hati.
“Huum.. emang kamu gak? Kan lebih baik kita tahu fakta sebenarnya daripada hanya meraba raba.” Kata Alana polos.
“Tapi sebenernya meraba raba itu hal yang paling enak dilakukan…” potong Saka sambil
merabai titik titik sensitive Alana yang membuat Alana mendesah, menggelinjang,
dan menepis tangan nakal Saka yang sudah gesit melepaskan pakaian Alana.
“Jangan disini, Bby… Lebih baik kita pulang saja! Aku juga tidak suka berada dirumah
sakit. Eh Yara tidak tahu kalau aku dirawat disinikan?” tanya Alana sambil merapikan pakaiannya yang sudah kocar kacir di serang tangan Saka.
“Huufftt babyyy, udah diubun ubun nih! Masa harus bersolo karier di kamar mandi, untuk
menuntaskan hasrat.” Kata Saka sambil mencebik manja.
__ADS_1
“Astafirullah, Bby! Apartemen kan gak jauh juga dari sini, tahan dikit deh, nanti kamu minta gaya apa? Asal gak menyakiti anakmu akan kuturuti semua.” Ujar Alana sambil
memutar bola matanya, karena tiba tiba Saka kumat alaynya.
“Yipppiieeeee, sungguh ya sayang… gak boleh boong ya.” Ujar Saka sambil memeluk Alana dengan erat sampai membuat Alana hampir kehabisan nafas.
“Masyaallahh, Bby!! Lepas. Aku gak bisa nafhasss.. hhhhh!” sergah Alana sambil memukul punggung Saka dengan keras.
“He he he maaf babyyy, aku kelepasan. Jangan marah ya. Yukkk kita urus administrasi tempat ini dan kita bisa segera pulang ke apartemen, Junio udah gak sabar,
kasihan ini coba kamu pegang, dia tegangan tinggi melulu.” Kata Saka sambil mengarahkan tangan Alana ke Junionya.
“Dasar mesum!!Omesss” sergah Alana lagi sambil menarik tangannya yang diajak membelai Saka yang sedang marah.
Tapi Saka yang digituin hanya tertawa senang lalu merangkul Alana, mengajaknya pergi dari
tempat itu. Gaya Saka pun tampak tergesa gesa, seakan tak ada waktu lain untuk
menuntaskan hasrat.
***
Sesampainya di apartemen, Saka benar benar managih janji Alana.
Dengan tidak sabar dia melucuti pakaian Alana, dan pakaiannya sendiri.
“Bby, setidaknya kita harus mandi dulu, kita kan baru dari rumah sakit…” tolak Alana
“Arghhhh baby, kita bikin satu episode di kamar mandi ya?” tanya Saka yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun, tampak otot otot perut Saka yang seperti roti
sobek dan otot dadanya yang kencang, membuat Alana tergiur untuk sekedar
menyentuh ujung dada Saka yang mengeras minta dibelai.
Alana hanya mengangguk dan mulai membelai tubuh suaminya, membuat Saka mendesahkan nama Alana dengan penuh gairah. Hasrat Saka yang sudah diubun ubun, membuat ia dengan cepat menggendong Alana untuk masuk kedalam kamar mandi dan buru buru menyiapkan bath tube sebagai ajang pertempurannya bersama Alana.
“Bby, pelan pelan…”
“Sayang, ingat janjimu…”
“Janji aphaa..” Alana masih menjawab semua perkatan Saka sekalipun Saka tidak membiarkan setiap inci tubuh Alana terlewatkan. Sabun yang sedianya dibuat media untuk membersihkan tubuh dibuatnya untuk merangsang Alana, membuat Alana meledak sekalipun Saka belum memasuki area pertempuran.
“Uhh, Kamu harus melayani aku disetiap gaya yang dia inginkan… arrhhhh..sayang… kamu..” kata Saka sambil masih terus melancarkan aksinya mengingat miliknya yang sudah siap tempur masih belum diijinkan untuk mengepakkan sayapnya.
“Bby… arrghhh,..” desahan Alana pun pecah saat milik Sala dilepaskan. Saka menikmati tubuh istrinya dengan penuh pemujaan. Irama hentakan pun ia atur sedemikian rupa
supaya tidak menyakiti anak yang ada di kandungan istrinya itu. Saka merasakan
kenikmatan Alana tidak pernah berubah, walaupun Alana sudah melahirkan Genta.
Milik Alana selalu terasa menjepitnya menerbangkan gelora hasratnya dan
menghempaskannya saat Saka meledakkan sarang kenikmatannya.
__ADS_1
Selesai menyelesaikan satu episode yang cukup melelahkan di kamar mandi, Alana
digendong Saka menuju ranjang king size yang empuk. Alana sudah benar benar
kelelahan melayani keinginan Saka membuat episode singkat di kamar mandi,
karena sejatinya episodenya jadi tambah panjang durasinya karena Junio tidak
mau melepaskan Alana begitu saja.
Tiba tiba Alana menyesal sudah berjanji memuaskan Saka dengan berbagai gaya.
“Tau gitu tadi aku gak janji sama kamu untuk main dalam berbagai macam gaya.” sungut Alana sesampainya ia di tempat tidur.
“Itu ibadah, sayang. Menyenang kan suami dan melayani hasratnya itu dapet pahala lo.” nasihat Saka sambil memeluk tubuh Alana dan meletakan kepalanya di ceruk leher istrinya dan membuat kissmark yang dalam disana. Sontak Alana menjerit dengan suara
tertahan.
“Bby!! Sakitttt.”
“He he he, sakit enak ya? Sebenernya aku masih mau lagi, tapi aku tahu kamu pasti lelah, istrirahatlah dulu. Nanti sesudah makan malam kita bisa puas puasin melakukannya lagi.”
Alana hanya menggelengkan kepalanya, mengingat nafsu Saka yang melonjak makin tinggi saat tahu Alana hamil.
“Bby, kamu kok sekarang mintanya berkali kali sih?” tanya Alana sambil mencebik.
“Ehm gak tahu, kayaknya kamu makin sexy saat hamil, atau karena buah favoritku jadi
tambah gede ya?” jelas Saka sambil meremas buah favoritnya, yang membuat Alana
menjadi mendesah.
“Jangan mendesah kayak gitu, sayang. Nanti aku jadi kepingin lagi, nih lihat punyaku.”
Tubuh Saka dan Alana memang masih polos tanpa sehelai benangpun, membuat Alana bisa melihat dengan jelas saat saat Junio menggeliat dan menegang, membuat Alana
menangkupkan bantal kearah milik Saka, supaya pergerakannya tertutupi dengan bantal.
“He he he ditutupi juga percuma, kan yang bikin dia bangun kan tubuhmu yang seperti ini.” kata Saka sambil membelai tubuh istrinya yang sekarang menjadi candu bagi dirinya.
“Bby, aku ngantuk.”
“Ulu ulu, manjanya istri aku. Tidur yuk! “ kata Saka sambil menarik tubuh polos Alana dan
mendekapnya dengan posesif. Alana mencium aroma maskulin Saka yang menenangkan, membuat ia terbuai dengan kejantanan Saka dan mulai merasa nyaman sehingga melayangkan seluruh pikirannya kealam mimpi.
.
.
.
TBC
__ADS_1