Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 36. Kayak Kucing ..eh... Singa*


__ADS_3

“Kita mau berangkat ke tempat Yara jam berapa, Bby?” tanya Alana ketika melihat Saka


masih sibuk dengan laptopnya setelah pertempuran pagi itu.


“Siang aja… aku lagi ngurus kantor.” Jaawab Saka singkat tanpa menoleh ke Alana.


“Bakal ada meetingkah, Bby?”


“Iya, sebelum berangkat ke rumah sakit… aku juga udah nanyain ke pamannya Yara,


meminta pendapatnya, tapi dia tidak setuju kalau Yara balik ke Indonesia. Dia ingin mencoba ke Penang saja.”


“Tapi Yara nya gimana, Bby?” tanya Alana sedih, karena kayaknya Yara pingin balik ke


Indonesia.


“Kata pamannya sih, Yara bakal mengikuti kemauannya… “


“Bby, kalian juga harus pertimbangin perasaan Yara..”


“Aku tahu…vkalau nanti ternyata Yara dipindah ke Penang, berarti aku juga akan sering


kesana, La… kamu gak apa kan?” tanya Saka hati hati.


“Bby, sebenernya Yara sudah sampai tingkat apa sih pengobatannya.”


“Sebaiknya kamu tanyakan saja padanya. Aku sudah berjanji untuk tidak menceritakannya


kepadamu, kecuali dia sendiri yang mau.”


Alana menghela nafasnya, sekalipun saat ini dia berstatus istri kedua, tapi emang


bukan berarti segala aib yang ada di rumah tangga Saka dan Yara dia boleh tahu,


kalau mereka berdua tidak mengungkapkannya kepada dirinya.


“Baiklah..” jawab Alana sambil menghela nafasnya.


“Kamu menyesal?”


“Apa?” mata Alana menatap Saka dengan heran.


“Kamu menyesal menikah denganku?” tanya Saka dengan ekspresi wajah sendu.


“Sebenernya engga… tapi aku merasa tertipu. “Jawab Alana enteng.


‘Siapa yang menipu kamu?” tanya Saka dengan nada heran.


“Kamu kan tau, Bby. Kalau aku gak mau jadi istri kedua. Tapi kalian memaksa, membujuk,


merayu sampai akhirnya aku mau. Jujur, awalnya aku iba dengan Yara. Aku ingin


menjadi sok pahlawan dengan memberikan apa yang menjadi keinginan hatinya,. Aku


juga kasihan sama ibu dan ayah, karena mereka merindukan keturunan dari kamu.


Aku juga menjadi sok pahlawan dengan mencoba memberikan apa yang mereka mau.”


“Berarti bukan ketipu dong… tapi emang kamu pingin bantu…” potong Saka tidak terima.


“Iya… tapi awalnya karena bujuk rayu kalian itu, aku jadi terjebak didalam situasi seperti


ini.”


“Tapi kamu suka kan? Kamu jatuh cinta juga sama aku kan?” desak Saka dengan nada berharap.


“Iya… pada akhirnya IYA! Aku sebenernya juga sudah tahu, kalau bakal seperti ini. Kita


sudah gak bisa lari dari kenyataan yang terjadi. Yara memberi kesempatan


kepadaku, aku yang diberi kesempatan untuk berada disituasi yang pelik seperti


ini juga mau… jadi aku sudah tidak bisa kemana mana. Ceritanya aku sudah

__ADS_1


terperangkap dalam jurang dimana aku sendiri sudah tidak bisa keluar.”


“Aku juga mencintaimu, selain juga aku menyayangi Yara!” bantah Saka dengan nada lembut.


“Kamu seharusnya bersyukur, memiliki dua cinta dari dua wanita yang berbeda, jangan


takabur.” Sergah Alana dengan nada sedikit gusar.


“Iya, aku bersyukur dan selalu aku ucapkan dalam doaku, aku juga kepingin Yara sembuh!”


“Kalau seandainya nanti anak ini sudah lahir dan Yara sembuh, berarti tugasku selesai


dong?” tanya Alana dengan raut wajah sedih.


“Tugas kamu sekarang juga menjadi istri aku, ibu dari anak anakku. Maaf, kalau mungkin aku tidak bisa adil karena aku ini cuman manusia biasa. Tapi aku berusaha keras,


untuk kamu dan Yara.“


“Aku gak tau, Bby! Aku bimbang. Biarkan aku berpikir dulu ya..”


“Sayangg, kenapa?”


“Gak apa apa, Bby. Mungkin aku cuman bosan.”


“Mau belanja?” tanya Saka dengan lembut, Saka merasa kehamilan Alana membuat Alana menjadi labil.


“Tidak!”


“Hei, jangan sedih… itu akan berpengaruh dengan bayi yang ada di kandungan kamu.”


“Aku tahu…”


“Jangan menyimpan yang ga baik di dalam hatimu, utarakan saja, aku siap mendengarkan.”


“Aku tahu..”


“Kalau tahu senyum dong… masa suaminya dikasi muka masam, padahal tadi pagi sudah dikasi yang enak enak.” Kata Saka sambil tersenyum sendu.


“ Spaghetty?” tanya Alana dengan polos.


bilang arghhh… Aduhhh!!” jerit Saka alay karena dicubit dengan Alana yang gemas


dengan keomesan suaminya.


“Dasar hubby omes!” sungut Alana.


“Nah gitu dong… kamu tahu gak? Lebih baik kamu  marah dan ngomel ngomel sama aku daripada kamu diam dan membisu… sedih, manyun, pikiran, kan kasihan sama dedek yang ikut pikiran kala kamu sedih kayak gitu. Inget sekarang ada yang numpang hidup sama kamu. “ kata Saka sambil membelai bahu Alana.


“Hmmh” Alana hanya berdehem ria.


“Makasih sudah mau hamil anakku.” Ujar Saka dengan mesra. Mata Alana berkaca kaca karena ucapan Saka.


“Jangan nangis baper dong! Cuman diucapin terimakasih aja udah nangis Bombay…” goda


Saka yang melihat mata Alana sudah berkaca kaca.


“Bukan itu, Bby!” potong Alana cepat.


“Lalu apa?” tanya Saka sambil mengelus puncak kepala Alana.


“Aku lapar, Bby!”


“Baru beberapa menit yang lalu makan kan, sayang?”


“Sudah 1 jam yang lalu…”


“Nah! Baru 1 jam yang lalu makannya…”


“Tapi kan ini yang makan orang dua, Bby!” rajuk Alana dengan mencebik.


“Tadi porsinya juga 2 yang kamu makan…”


“Jadi Hubby itung itungan nih…?? Lagian tadi diajak olah raga ekstrim… ehmmnaph!” bibir

__ADS_1


Alana sudah disumpal dengan ciuman dari bibir Saka.


“Apapun buat kamu… Hhhh!” lanjut Saka setelah melepaskan bibir manis Alana.


“Tadi mau  diitungin makan apa saja dari pagi


sampai sekarang” kata Alana sambil cemberut.


“He he he hanya menggoda kamu saja sayang… kamu sensian deh sekarang.”


“Bukan sensi tapi laper…”


“Yaudah kita langsung berangkat, sekalian cari makan aja di resto deket rumah sakit Yara?” tanya Saka dengan pandangan sayang.


“Ogah!”


“Kenapa? Apa makanannya kemarin gak enak?”


“Enggak… memory selama berada disana yang gak enak, jadi bikin eneg dan pingin muntah!” sahut Alana dengan raut wajah kesal yang kentara.


“Ha ha ha, masih inget peristiwa kemarin?” tanya Saka sambil memeluk istrinya, supaya gak badmood teringat peristiwa bersama dokter Michele.


“Peristiwa kamu dilamar dokter ganjen?” sarkas Alana, yang membuat Saka kian terbahak bahak.


“Terus aja ketawa… senangkan dilamar dokter muda.”


“Meskipun muda tapi bukan seleraku..”


“Jadi kalau sesuai selera emang mau?” ujar Alana sinis.


“Ya ampunnn, dua aja ribet, apalagi tiga?”


Alana hanya diam, tidak menjawab ucapan Saka. Saka menarik Alana kedalam pelukannya.


“Percaya gak kalau aku menyayangi kamu?” Alana hanya mengangguk.


“Jangan bicarain yang bikin kamu nantinya baper dan stress, okey sayang?” lanjut Saka


sambil mengajak Alana untuk berangkat.


“Mau cari makan dimana, Bby?” tanya Alana sambil menutup pintu kamar apartemen dan


mengikuti Saka menuju lift.


“Yang sejalanan aja, banyak kok resto deket situ, apa mau seafood? Vietnam food?”


tanya Saka.


“Seafood saja, Bby! Sebenernya kepingin makan nasi padang…”


“Apa mau nasi padang aja?”


“Emang sekitar situ ada?” tanya Alana dengan tatapan mata yang berbinar binar.


‘Ya ampun, bahagianya sederhana banget kayak nama rumah makan padang aja,’ batin Saka dalam hati.


“ Ada, cuzz kesana yuk! Daddy juga lapar soalnya kudapan daddy dimakan sama kucing.”


“Hubbbyyyyyyy, kamu samakan your wife kayak kucing??”


“Maap maaaaffff… bukan kayak kucing..”


“Lalu apa?”


“Bukan kayak kucing .. tapi Singa…”jawab Saka sekenanya.


“Hubbbyyyyyyyy!!!!! Argh kesel.” Rajuk Alana sambil memonyongkan bibirnya lima centi.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2