Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
Episode 22. Ternyataaaaa....*


__ADS_3

Pagi itu Alana diantar oleh supir kantor, pak Sonny, ke Rumah Sakit, setelah sebelumnya


mengantar baby sitter dan Genta ke rumah orang tuanya.


Mamanya mengomel panjang kali lebar kali tinggi, melihat Alana selalu kerepotan setiap


pagi, mengantar Genta dan membawanya pulang saat sore.


Maksud mama  Alana sih baik, Alana disuruh menginap dirumah orang tuanya saat Saka menjaga Yara di luar negri, sehingga ga perlu repot repot kesana kemari. Tapi yang mamanya gak pernah tahu adalah Alana saat ada dirumah seorang diri, mencoba ‘membunuh’ rasa kangennya dengan menciumi pakaian Saka dan tidur beralaskan pakaian Saka.  Aneh kan?


Tentunya Alana tidak menceritakan keganjilan dan kelakuannya yang aneh kepada mamanya, karena dirinya


takut ditertawakan oleh mamanya.


Oleh karena itu Alana menolak kalau disuruh menginap di rumah mamanya, tentu saja karena gak ada bau Saka disana.


“Pak, bapak nunggu di warung saja, nanti kalau saya sudah selesai saya telepon bapak.”


Perintah Alana pada supirnya, seraya memberikan dua lembar uang seratus ribuan.


“Baiklah bu! Kalau ibu butuh apa apa langsung aja telepon saya aja.” Jawab pak Sonny, sambil


menerima uang yang disodorkan Alana dengan berbunga bunga.


“Ya, pak! Mungkin bapak akan nunggu agak lama nih.” Lanjut Alana, karena dia sudah


berpengalaman, kalau pergi ke dokter kandungan tuh mesti sabar, karena


antriannya pasti panjanggggggggg dan lamaaaa.


“Gak apa, saya cuman nunggu sampai ibu selesai kan, bu? Perlu konfirmasi balik kekantor


gak?” tanya pak Sonny lagi.


“Gak usah, nanti saya yang akan bilang kalau pak Sonny ikut saya sampai ngantar saya


pulang ke rumah bapak Narendra.” Jelas Alana pada supirnya itu, karena semua


orang kantor sudah tahu persis siapa Alana.


“Baik, bu.” Jawab pak Sonny lagi sambil mengangguk angguk penuh semangat.


 Rumah Sakit Ibu dan Anak yang dijunjungi Alana memang sangat terkenal. Saat dia melahirkan Genta, iapun memilih Rumah Sakit ini. Dapat dipastikan antriannya pun cukup panjang. Karena Alana sudah kenal


baik dengan dr Clara,spog. Alana pun sudah melakukan reservasi melalui whatsapp, jadi Alana mendapatkan antrian no 5.


Jam baru menunjukan pukul 09.00 WIB, tapi antrian yang ada di daerah ruangan dr. Clara,


spog. Sudah mengular, ada kira kira 10 orang ibu hamil yang mengantri disana,


belum lagi suami suami mereka, pengantar yang lainnya, membuat tempat itu penuh


sesak. Alana memilih menunggu di taman, dekat ruangan praktek, agar tidak terlalu pengap.


“ Antrian no 4, ibu Hana silahkan masuk untuk ditimbang dan ditensi dulu.” Seru seorang


suster muda dengan suara yang cukup lantang.


‘Oh yesss… ternyata aku gak perlu menunggu lama untuk periksa. Paling malas dan gak sabar


untuk ngantri di dokter kandungan kayak gini.’ Batin Alana sambil memandang

__ADS_1


sekeliling tempat yang pernah dia sering kunjungi 2 tahun yang lalu saat hamil Genta.


Pikirannya melayang saat dia harus hamil Genta dan mengurusnya seorang diri, eh tapi waktu


itu kadang Saka mengantarnya untuk periksa. Bahkan saat melahirkan Genta, Saka


pun ada disana. Alana hanya tersenyum getir saat mengingat peristiwa yang


membekaskan trauma. Tak terasa, namanya dipanggil oleh suster muda tadi.


“Antrian no. 5, ibu Alana silahkan masuk dan ditensi dulu.”


“Ya, sus!” Alana langsung menjawab dan melangkah masuk ke dalam ruangan praktek dokter


Clara yang sudah dianggapnya sebagai teman, saat melahirkan Genta. Dokter Clara


juga tahu persis kisahnya saat melahirkan Genta, karena Alana sempat depresi


saat itu. Dokter Clara dan Sakalah yang membesarkan hatinya dan mensupport sehingga Alana berhasil bangkit.


“Alana? Wow! Aku gak nyangka ketemu seorang Alana yang keceh badai…. Gimana kabar kamu?


Sombong yaaaa, mentang mentang udah lahiran, lupa sama teman lama… Kamu mau


jenguk aku atau…???” berondong dokter Clara dengan pandangan menyelidik.


“Saya milih atau nya saja deh dok… “ sambung Alana menggoda dokter yang sudah ia anggap seperti


saudaranya itu.


“ Hah? Really? Udah ada adiknya Genta?” tanya dokter Clara sambil memberikan tatapan tajam.


memicingkan matanya.


“ Ceritanya panjang… kalau antrian kamu gak sepanjang diluar itu, aku akan dengan senang


hati bercerita. Yuk, cari waktu lain buat cerita cerita, gimana kalau makan


siang ini saja? Aku akan tunggu kamu di resto samping rumah sakit ini? Aku yang


traktir!” lanjut Alana sambil menepuk nepuk tangan dokter Clara membujuknya


untuk tidak marah marah duluan.


“Oke deal… sekarang keperluanmu apa? Aku akan mempercepat pemeriksaan. Walau  aku sebenernya sudah gak


sabar dengar cerita kamu.” Ujar dokter Clara sambil meletakkan stethoscopenya di meja kerjanya.


“Tentunya aku kesini ingin periksa kandungan. Gak mungkin kan kalau aku kesini mau beli


sayur?” canda Alana yang ditanggapi dengan tawa khas dokter Clara, yang sejurus


kemudian mempersilahkan Alana untuk naik ke ranjang periksanya.


“Aku langsung USG ya? Kamu pasti kuduga belum cek urine kan?” tanya dokter Clara


sambil membantu Alana naik ke ranjang periksanya dibantu oleh seorang suster lainnya.


"Kamu itu loh dok, kalau ngomong suka bener!" jawab Alana sambil tertawa dengan manis.


Perut Alana diberi gel dingin oleh suster yang membantunya naik tadi, dan dokter Clara

__ADS_1


sudah siap memakai alat USG dan memeriksa perut Alana yang masih terlihat datar.


“Hmmmh…” hanya itu yang keluar dari mulut dokter cantik itu.


“Kok cuman hmmh aja sih, dok!” seru Alana, karena jujur saja Alana sangat gugup dengan


pemeriksaan kali ini.


“ Yah itu kan reflex keluar dari mulutku, Al… he he he jangan tegang gitu dong. “ lanjut


dokter Clara sambil matanya tetap focus ke layar USG.


“Gimana dok?” tanya Alana lagi, rasanya dokter ini meriksa berabad abad. Lama banget!!


Bikin Alana tambah gugup.


“ Tuh… bisa lihat gak?” tanya dokter Clara sambil menunjuk gambar abstrak yang Alana sama


sekali gak ngerti.


“Aku bisa lihat gambar radiogram saja sih, tapi aku gak ngerti… itu yang kamu tunjuk itu


apa?” tanya Alana lagi dengan nada kesal.


“ Lha kamu kan nyariin ini kan?” tanya dokter Clara sambil menunjuk gambar di layar USGnya


lagi, yang sontak membuat Alana emosi, karena dokter Clara ini balas


menggodanya karena saat Alana menikah tidak memberitahunya.


“ Kalau aku ngerti cara lihat layar USG ini, aku sudah jadi dokter kandungan gantiin kamu!”


sergah Alana dengan mencebikkan bibirnya dengan raut wajah kesal.


“ Ha ha ha ha , aku hanya bercanda, Al! Gitu aja kamu marah, mentang mentang hamil ya?


Kamu terakhir datang bulan kapan? “ tanya dokter Clara sambil tetep focus pandangannya ke layar USG didepannya.


“Aku gak inget, pokoknya awal bulan, kira kira ya telat beberapa harilah.” Sahut Alana lagi.


“Gak inget tepatnya ya? Perkiraanku sih 4 sampai 5 minggu, kalau lihat bentuk dan


ukurannya.” Sahut dokter Clara sambil mengetik ngetikkan sesuatu di alat USG itu.


“Mau di print?” tanya dokter Clara sambil masih mengetik sesuatu di alat itu.


“Boleh! “ jawab Alana dengan semangat.


“Done!! Gak ada yang mau ditanyain kan? Udah pengalaman juga kan? “ sindir dokter Clara.


“Aku cuman nanya kalau aku berpergian naik pesawat apakah boleh?” tanya Alana dengan


wajah penuh harap.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2