Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
129. Kebenaran diatas kebencian


__ADS_3

" Sebenarnya ada apa dengan kalian ini? Bertengkar kayak anak kecil? Apa kalian gak tahu kalau ini rumah Yara, istriku? Orangnya aja baru saja meninggal. Setidaknya hormati dan hantarlah ke peristirahatan terakhirnya. Supaya Yara bisa tenang di alam sana, dengan di doakan. Ini malah saling bertengkar kayak anak kecil rebutan permen!" Saka marah dengan nada ketus.


Ia tidak habis pikir. Lha mbok ya singkirkan dulu dendam itu, sama sama berdoa menghantarkan Yara ke peristirahatan terakhirnya dengan lantunan doa yang indah.


Rangga hanya diam, sedangkan paman Yara sibuk membersihkan wajahnya dan bajunya yang amburadul.


" Sekarang tolong jelaskan, ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bertengkar? Kamu kan dengar sendiri Rangga permintaan terakhir Yara? " cecar Saka sambil duduk bersama Alana , ibu dan ayah. Lio hanya berdiri dibelakang ibu dan Alana. Orang yang ditanya hanya mengedarkan pandangannya kesekeliling. Ia mash mendapati ada orang orang yang tidak ia kenal yang ada disana. Saka langsung tahu arti pandangan itu.


" Para pengawal, berjaga di pintu saja. Kami akan bicara hal yang pribadi. Jangan sampai orang luar ada di sekitaran tempat ini. Paham?" perintah Saka kepada semua anak buahnya. Anak anak buahnya hanya mengangguk, memberi hormat, dan meninggalkan tempat itu. Berjaga dari kejauhan.


"Nah, sekarang ceritakan. Sebenarnya kejadian awal kamu dan Yara itu bagaimana?" tanya Saka dengan nada lembut. Tapi paman Yara marah, ia merasa Saka berpihak pada Rangga. Ia langsung merangsek maju ingin membalas pukulan Rangga yang tadi. Untung Lio bertindak cepat. Lio langsung menengahi Paman Yara dan Rangga. Saka pun turun tangan dengan melindungi Rangga dari serangan pamannya.


" Paman!!"


" Pak Raharja!!"


Ayah dan Saka berteriak bersamaan untuk mencegah paman Yara melakukan tindakan anarkis terhadap Rangga.


" Kalian membela anak haram ini?" tanya paman Yara dengan nada kebencian yang begitu ketara.

__ADS_1


" Rendra tidak membela Rangga, paman. Rendra hanya ingin kejelasan dari kedua sudut cerita yaitu cerita paman dan Rangga. Atau paman ingin bercerita dahulu? Silahkan! Rendra akan suruh Rangga untuk diam dulu mendengar cerita dari versi paman." kata Saka sambil menahan dirinya begitu rupa. Ia tidak mau memperkeruh suasana dengan amarah.


" Orang tua anak inilah yang sudah membunuh orang tua Yara. Orang tua Yara, kakak ku dan kakak iparku meninggal karena kecelakaan yang disebabkan oleh mobil yang ditumpangi oleh mereka menabrak kakakku dan istrinya. Tapi polisi hanya menganggap itu hanya unsur ketidak sengajaan. Sehingga Burhan bebas bersyarat, tetapi harus membayar seluruh biaya dan uang duka." paman Yara menceritakan kisah itu dengan air mata yang mengalir. Wajahnya sarat dengan duka.


" Kakakku dan istrinya adalah keluargaku satu satunya. Raharja adalah yatim piatu yang hidup sendirian di dunia ini. Waktu itu aku masih sangat muda, baru lulus kuliah. Aku harus meneruskan usaha kakakku dan juga mendapatkan bonus mengasuh Ivara dan menjadikan dia sebagai anakku. Aku tidak keberatan mengasuh keponakanku sendiri. Sekalipun aku masih muda dan sendirian, setidaknya aku masih memiliki keponakan yang cantik dan manis." kenang paman Yara dengan suara datar, sedikit senyum terulas diwajahnya yang penuh guratan, rupanya ia mengingat saat ia muda mengasuh bayi Yara.


Semua yang disitu, yang mendengarkan penjelasan paman bak terhipnotis dan ikut ikut meneteskan air mata kesedihan. Ternyata hidup paman Yara sangat pahit dan penuh kesedihan. Ranggapun hanya diam dan tidak berkomentar apa apa.


" Aku sudah berusaha merelakan kepergian kakakku dan istrinya. Aku berusaha membangun kembali usaha yang dirintis oleh mendiang kakakku dengan baik dan usahaku menjadi besar. Ditengah kesuksesanku, aku tertarik dengan seorang gadis. Gadis yang sangat cantik berketurunan Inggris-Pakistan. Aku mendekatinya dengan harapan aku akan bisa meminangnya, tapi lagi lagi Burhan menghancurkan impianku dengan memaksa gadis pilihanku itu untuk menikah dengannya karena gadis itu dijebak oleh Burhan, sehingga hamil, si anak haram itu." tunjuknya dengan wajah berubah penuh kebencian. Semua menoleh ke arah Rangga, sedangkan Rangga yang diintimidasi oleh tatapan yang lain hanya diam dan termangu. Pandangan wajahnya penuh dengan kesedihan. Paman menghela nafasnya dengan berat.


" Aku marah, aku ingin membalas kejahatan Burhan yang berkali kali menghancurkan hidupku dengan merebut orang orang yang kusayangi. Aku minum minum, mabuk berat, dan mendatangi kediaman gadis idamanku. Aku ingin merebutnya kembali dari tangan Burhan. Tapi ternyata, Burhan ada disana sehingga aku kalah dan dianiaya oleh Burhan sampai setengah mati." kata Paman Yara dengan sedih. Isak tangisnya terdengar semakin kencang. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tiba tiba ia tertawa terbahak bahak dan menuding Rangga dan Alana.


" Aku benci... aku benci... aku benci kalian. Aku akan membalas perbuatan kalian terhadap Yara. Kamu harus membayar apa yang harus kalian perbuat terhadap keluargaku." sergah paman Yara sambil beranjak dari tempat duduknya. Lio langsung siaga ia hendak menghalang halangi kepergian paman Yara. Tapi Saka mengkode Lio untuk membiarkan dia pergi. Kemungkinan paman Yara hanya pergi seorang diri meninggalkan bibi Yara yang masih khusyuk mengikuti pengajian di dalam rumah.


" Rangga? Ehm ceritakan menurut versi kamu! Kenapa kalian dipisahkan?" tanya Saka dengan nada hati hati. Ia melihat Rangga yang diam saja. Tapi Saka tahu, ayah dan ibu butuh kebenaran yang sesungguhnya. Sekalipun kebenaran itu diwarnai dengan kebencian antara Rangga, dan paman Yara.


Saka tadi juga sempat naik pitam saat paman Yara mengata ngatain Alana, tapi ia tidak boleh terpancing. Awalnya Saka ingin memukul mulut paman Yara yang menghina Alana, tapi ia tahu, ia akan memperburuk keadaan. Paman akan semakin membenci Alana.


Tanpa membalas saja, Alana sudah jadi kambing hitam. Apalagi Saka dan Alana membalas.

__ADS_1


Rangga menghela nafasnya dengan berat, menceritakan masa lalunya sama dengan mengorek luka lama yang sudah hampir kering.


" Apa yang diceritakan pak Raharja ada benarnya. tapi ia belum menceritakan seluruhnya. Waktu itu aku mengenal Ivara, dan saling mencinta. Saat itu aku baru masa ko as, dan ibuku adalah ibu tunggal. Ayahku menikah lagi dengan seorang wanita yang kaya raya. Ibuku tidak mau dimadu, ia memilih berpisah dan menghidupi aku seorang diri. Awalnya aku dan Ivara berpikir kalau kita tidak disetuujui karena aku miskin, dan Vara kaya, Vara bahkan sudah memiliki pekerjaan sendiri mengelola hotel bintang 4. Ternyata setelah aku bertemu dengan ayahku baru aku tahu kisah dendam ini." kata Rangga dengan ******* lelah yang terbayang. Ia juga belum tidur selama 2 hari ini. Karena kondisi Yara up and down. Apalagi sekarang Ivara meninggal.


Tubuhnya seakan remuk redam. Tapi ia berusaha tegar dan terlihat kuat.


" Lalu apa yang terjadi dengan hubunganmu bersama Yara.. ehm maksudku Ivara?" tanya Saka lagi.


Rangga terdiam seakan meresapi pertanyaan Saka yang sulit ia jawab.


" Waktu itu.."


.


.


.


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA... LIKE DAN GIFT YANG BANYAK...


SUPAYA DITENGAH KERJAAN YANG BANYAK THOR SEMANGAT UPDATE, THANK YOU🙏🏻


__ADS_2