Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
102. Mukjizat itu nyata


__ADS_3

Nahhh ini yang penasaran sama kelanjutan cerita Alana dan Saka pencet Votenya dongg.


Ayo klik vote dan likenya dongg, ceritanya kan emang harus ada up and downnya ha ha haπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja dengan editor. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran di buku yang satunya. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‹


Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Itu yang terjadi, bu. Maafkan Saka, bu. Maafkan Saka , Yah. Karena Saka harus memilih. Dan Saka memilih menyelamatkan Alana. Saka tahu ayah dan ibu pasti akan kecewa dan marah sama Saka. " desah Saka sambil menghapus air mata yang keluar. Saka sangat sedih, dan kecewa. Anak yang ia gadang gadang, anak yang ia rindukan, harus pergi karena kesalahannya. Dan sekarang ia harus mengurus bayinya yang mungkin sudah dimandikan oleh suster yang tadi membawanya. Ibu dan ayah pun menangis mendengar kabar itu. Ibu langsung memeluk ayah yang terus menepuk bahu ibu, supaya ibu merelakan kepergian cucu keduanya.


" Bu, Yah, Saka harus pergi mengurus dedek dulu di kamar bayi. " ujar Saka sambil menguatkan hatinya untuk melihat jasad anaknya. Ibu dan ayahnya hanya mengangguk lemah.


" Sak, kuatkan dirimu ya. Mudah mudahan Alana mau menerima kenyataan kalau anak yang dikandungnya harus kembali ke penciptanya. " kata Ayah sambil menepuk bahu Saka untuk memberi kekuatan kepada anak tunggalnya itu. Ayah sadar bahwa Saka juga kecewa dan merasa terpukul. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Toh semuanya sudah terlanjur? Penyesalan selalu datang terlambat.


" Iya, yah!" sahut Saka lemas.

__ADS_1


***


Saka masuk ke ruangan bayi, dimana suster tadi membawa anaknya ke ruangan itu untuk dibersihkan dan dimandikan.


Saka menuju ke box bayi yang bertuliskan bayi pasien Alana, kamar VVIP3. Saka mendekati box itu yang bertuliskan info bayi yang Alana lahirkan, bahwa bayi berjenis kelamin laki laki, lahir prematur 8 bulan, dan memiliki panjang 48cm dengan berat 2,2 kg, seharusnya bayinya kalau hidup pun ia harus ditaruh di inkubator, karena beberapa organ tubuhnya mungkin belum berkembang secara sempurna. Saka kembali memandangi anaknya yang tubuhnya dibungkus selimut bedong warna biru muda dan di selimuti lagi dengan selimut lain bermotif garis garis sampai menutupi wajahnya.


Saka menangis meraih tubuh anaknya dan menyingkap selimut yang menutupi wajahnya dan bedongnya pun tampk tidak terlalu ketat membungkusnya. Saka menangis tersedu sambil memeluk tubuh anaknya dan menciumi wajah anaknya yang dilihatnya sangat tampan dan menggemaskan. Saka merasakan kulitnya bersentuhan dengan tubuh anaknya yang dingin. Air mata Saka yang mengalir deras membasahi wajah anaknya yang terbujur kaku.


" Hai, nak. Ini daddy. Maafkan daddy ya, karena membuat kamu tidak nyaman selama di perut mommymu. Sering banget ninggalin kamu dan bahkan saat kamu mau lahir, daddy lebih milih mommy daripada kamu. Maafkan daddy, maafkannn." suara tangisan Saka terendam karena ia membenamkan wajahnya di tubuh mungil anaknya, ia kembali menciumi wajah anaknya, bahkan mencium bibirnya yang tampak membiru. Ia mengangkat anaknya menaruh di dadanya dan menepuk punggungnya dengan sayang.


" Kamu tetap anak Alana dan Narendra, buah hati kami. Kamu adalah angin yang menyejukan. Maafkan daddy yang tidak bisa menjaga kamu dan mommy. Maafkan dady. Ampuni daddyyy.." kata Saka sambil memeluk anaknya dengan erat. Ia tahu sehabis ini ia harus berpisah dengan anaknya ini, maka Saka memeluknya erat, menciuminya sampai puas, dan menumpahkan segenap kesedihannya serta rasa penyesalannya. Tiba tiba ada suara seperti tersedak dan tiba tiba bayi yang ada didalam pelukannya menangis dengan kencang. Saka terkaget, ia mengira ada anak lain dibelakangnya.


Tapi ia mengamati bahwa anak yang ada dalam gendongannyalah yang menangis dengan kencang. Sesaat Saka kebingungan dan melihat name tag yang biasa ditaruh ditangan bayi serta mencocokannya dengan box bayi dimana bayi itu tadi ditaruh.


" Susterrrrr!!!!" teriak Saka histeris.


" Susterrr, bayi saya nangiss!!" teriak Saka lagi, sesaat kemudian ada seorang suster yang kemudian datang tergopoh gopoh, meraih bayi di gendongan Saka dan memeriksanya. Suster itu memandang Saka dan bayi itu bergantian. Sama dengan Saka, suster itu juga kebingungan. Karena bayi ini tadi dimandikan tujuannya karena akan di sholatkan oleh keluarganya.


Tapi suster itu bergerak sigap. Tanpa kata sama sekali kepada Saka, ia lalu menghubungi dokter yang mengurus masalah bayi Alana melalui saluran telepon yang terletak dipojok ruangan dan membawa bayi itu langsung ke ruangan sebelah yang terpisah dengan kaca, dimana disana sudah tersedia box inkubator, suster itu menaruh bayi Saka disana dan mengobservasinya.


Dari luar ada suster lain yang membawa botol yang berisi cairan berwarna putih kekuningan dan kemudian mengambil pipet untuk memasukkan cairan itu ke dalam mulut bayinya. Sedangkan suster yang tadi menggendong bayinya tampak menaruh kabel kabel dan alat alat di sekujur tubuh bayinya yang mungil itu. Bahkan kedua suster itu tidak menghiraukan keberadaan Saka di ruangan bayi itu. Karena mungkin saking suster suster ini terpana dengan kejadian ajaib yang barusan mereka alami. Tapi keajaiban itu sungguh ada kan?


Saka yang masih tertegun, beberapa detik kemudian tersadar lalu sujud syukur di tempat ia berdiri.

__ADS_1


" Ya Allahh, terimakasih terimakaasih ya Alllaahhh buat keajaibanmu. Alhamdulllillllahhhh Kau masih memberi kesempatan kepadaku, umatmu yang sering mengecewakanmu, Alahuuakbarrrr! Alllah maha besarrrr." panjat Saka dalam sujud syukurnya.


Dia bersyukur masih dikasih waktu untuk menyayangi anaknya ini. Ia berjanji untuk membahagiakan anak keduanya ini. Juga ia ingin menyayangi Genta yang seringkali diabaikan. Ia ingin menebusnya dengan memberi kasih sayang buat Genta dan adiknya. Juga Alana yang sudah memberikan dua kebahagiaan dalam kehidupannya.


Saka segera berlari dengan tergesa keluar dari kamar bayi. Ia ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada kedua orang tuanya dan mertuanya. Wajahnya tampak berseri tidak kusut seperti tadi, walau baju dan rambutnya acak acakan. Dan mata serta hidungnya merah karena banyak menangis.


Ia menghampiri ayah dan ibunya yang masih saling berpelukan, menangis, dan duduk di depan ruangan VK bersama Lio yang setia menemani.


" Ayah.." Saka menghambur dan memeluk kedua orang tuanya.


" Iya ayah tau kalau kamu kecewa. Sudahlah, hidup, mati, rejeki itu sudah ada yang ngatur. Banyak banyaklah sholat. Supaya kamu bisa menebus apa yang sudah kamu lakukan. " kata ayah menasihati ketika melihat Saka nemplok dalam pelukan ayah ibunya.


" Yah, dedek hidup !! Anak Saka dan Alana gak jadi meninggal. Ia hidup dalam gendongan Saka tadi. " kata Saka dengan raut wajah gembira, memandangi kedua orang tuanya yang mungkin menganggapnya stress karena kehilangan anaknya.


" Sadarlah, Sak! Ibu tahu kamu sangat kecewa dengan keadaan ini. Tapi jangan berlarut larut masih ada Alana dan Genta serta Yara yang masih membutuhkan perhatian kamu. Sadarlah!!" kata ibu sambil masih menangis lalu memegang bahu Saka dan mengguncang guncangnya dengan harapan Saka akan menyadari keadaan yang terjadi sekarang.


.


.


.


TBC

__ADS_1


ps: kejadian seperti diatas pernah terjadi ya. Nah, kalau ingin tahu kisah selanjutnya, VOTE YNG BANYAK🀭🀭🀭


__ADS_2