
Ayo klik vote dan likenya dongg, ceritanya kan emang harus ada up and downnya ha ha haππ»ππ»ππ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll
Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja dengan editor. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran di buku yang satunya. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.
Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) πππ... biar review dan updatenya bisa cepet.
πππ
Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπππ
Happy reading!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Alana tampak terbaring di brankar yng berbeda dengan saat ia melahirkan tadi. Tampaknya Alana sudah siap di pindahkan di kamar perawatan biasa. Sekalipun wajah Alana tampak lelah, tapi raut bahagia tidak.dapat ia sembunyikan. Alana belum tahu tentang peristiwa anaknya yang sempat gagal nafas tadi. Ia hanya tahu kalau anaknya mesti masuk ke dalam inkubator.
Bahkan ia belum bisa menggendongnya bahkan belum boleh menyusuinya secara langsung. ASI yang sudah keluar secara melimpah ditampungnya di dalam botol steril untuk diberikan kepada bayinya. Bahkan tadi suster sempat memopa ASI pertamanya untuk diberikan kepada bayinya.
" Ayah, Ibu... " sapa Alana dengan wajahnya yang masih pucat. Alana tampak ingin duduk dari posisinya yang tiduran di brankar ruangan VK itu.
" Loh, sayang kamu jangan banyak gerak dulu.
Ibu dan ayah gak apa kalau kamu tiduran saja. Apalagi baru saja kamu melahirkan Alendra. Gimana ? Apa yang kamu rasakan? " tanya ibu sambil mengelus kening Alana dengan sayang.
" Alendra? Kamu menamai bayi kita sipa, Bby?" tanya Alana memdengar sebuah nama indah yang diucapkan oleh ibu mertuanya.
__ADS_1
" Namanya Alendrabayu Putra Perdana. Yang artinya Anak Alana dan Narendra yang memberi angin kesejukan sebagai putra di keluarga Perdana." sahut Saka dengan raut wajah bangga karena telah memberi nama yang indah buat putra keduanya.
Alana membetulkan posisi duduknya dibantu oleh ibu mertuanya yang memegang bahu dan lengannya agar Alana mudah untuk mengubah posisinya.
"Terimakasih, bu. Berkat ibu dan ayah, Alana dan bayi Alana baik baik saja." kata Alana sambil menarik tangan ibu Irsyana dan mengecupnya. Ia tahu kalau ibu mertuanya sangat menyayanginya.
" Mama kamu gak bisa jenguk kamu, Lana. Karena kondisi papamu yang gak bisa ditinggalkan. Mama kamu hanya titip pesan supaya kamu jaga kesehatan." lanjut ayah Langit dengan pandangan sayang.
" Iya, nanti kalau Lana udah boleh keluar bersama dedek, Lana bakal ke rumah oapa dan mama." sahut Alana tanpa beban. Alana juga belum tahu kalau papanya saat ini sedang drop. Keluarga Perdana tidak berani memberitahu Alana perihal itu. Karena mama Alana sudah mewanti wanti untuk merahasiakannya dari Alana sampai Alana sembuh benar.
Saka memandang interaksi harmonis antara Ibu, Ayah dan Alana dengan pandangan penuh syukur. Sekalipun tadinya ia dan keluarganya sempat bersedih karena kasus bayi Al, tapi sekarang hatinya penuh sukacita dan rasa bahagia karena ternyata Allah memberinya hadiah berlipat karena anaknya hidup dan Alana pun selamat.
Kebahagiaan Saka, Alana dan ayah ibu Saka membuat sepasang mata yang menatap keharmonisan keluarga kecil Saka dan Alana dengan iri. Ia cemburu dengan kondisi dimana Alana dijenguk dan di beri kekuatan oleh ayah dan ibu Saka. Sedangkan dirinya hanya sendiri. Sejak ia masuk ke rumah sakit mertuanya hanya sekali menjenguknya.
Tapi pada kenyataannya ia disodori dengan pemandangan yang menyesakan hati. Yara berusaha beristigfar, menyadari bahwa itu adalah pilihannya. Pilihannya untuk menikahkan Saka dan Alana. Sehingga saat ia menghadap sang khalik, suaminya memiliki istri yang sholehah pilihannya. Tapi keihlasan itu sepertinya belum sepenuhnya Yara betikan. Kadang masih ada riak riak cemburu dan iri melihat Alana mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari mertuanya.
Suster yang mengantarnya pun kemudian menepuk bahunya dengan lembut.
" Bu, itu ruangan pasien Alana, mau masuk?" tanyanya lagi karena ia melihat Yara ragu ragu untuk melangkah ke dalam ruangan Alana.
Yara hanya memggelengkan kepalanya dengan lemah.
" Sus, bisa tolong saya? Saya belum ingin balik ke kamar. Saya bosan! Saya ingin ke taman rumah sakit sebentar. " pintanya dengan wajah yang memelas.
Suster hanya mengangguk saja. Ia tahu bahwa pasien ini butuh ketenangan pikiran. Pasien yang dia dorong itu tampak tertekan dan menurut history penyakitnya yang suster itu baca di catatan pasien, nyonya Yara menderita kanker servic stadium akhir. Beberapa bagian tubuh Yara sudah mati rasa. Kanker yang sudah menggerogoti rahimnya, yang menyebabkan rahim dan indung telurnya harus diangkat, bahkan sel sel kanker kini menyebar menghinggapi beberapa organ organ bagian dalamnya. Kemungkinan sembuh? kayaknya hanya mukjizat yang bisa membuat pasien ini sembuh. Waktu ia datang ke rumah sakit ini untuk yang pertama kali bahkan ia harus menggunakan morfin untuk menghilangkan rasa sakit yang mendera tubuhnya yang tinggal tulang. Sekarang, dokter sedang mengganti terapinya menggunakan obat tanpa kemo, karena riwayat tubuh Yara yang sudah menolak saat menjalani kemo.
__ADS_1
Suster mendorong kursi roda Yara melewati ruangan dimana box bayi berjajar disana. Mata Yara berbinar senang.
" Sus, boleh saya melihat bayinya Alana?" tanya Yara dengan antusias.
" Ehm hanya bisa dilihat dari luar sih, bu. Karena kayaknya si bayi ada masalah, karena lahir prematur." jelas suster itu kepada Yara.
" Jadi didalam inkubator dong?" tanya Yara dengan nada kecewa.
" Iya bu, bayi pasien sempat mengalami gagal nafas, tapi untunglah mungkin karena ada skinship dengan ayahnya sehingga bayi bisa bertahan. Itu bayinya pasien Alana. Yang didalam inkubator ruangan sekat kaca di dalam." jelas suster yang mendorong kursi rodanya. Yara terpesona dengan bayi mungil yang sedang berjuang di dalam inkubator.
" Sehat sehat ya, nak. Bunda menyayangimu." bisik Yara lirih sambil menitikkan air mata. Yara mengingat saat ia melahirkan dulu, kalau saja anak itu masih dalam pelukannya, maka saat ini anaknya sudah berusia 6 tahun. Yara menepis air matanya dengan kasar. Dosanya sudah terlalu besar dan tak terampuni. Melalaikan anak yang ia lahirkan merupakan dosanya yang terbesar.
" Bu, jadi ke taman?" tanya suster itu lagi membuyarkan lamunan nya akan anaknya yang sekarang entah dimana.
" Ehm, sepertinya saya sudah lelah, sus. Saya balik ke kamar saja. " mood Yara untuk bersantai melepas kebosanannya sehari hari berkutat di dalam kamar VVIP yang ditempatinya saat ini hilang saat ia memikirkan anak yang telah ia sia siakan.
" Baiklah , wajah ibu pun sudah mulai pucat. " kata suster itu sambil mendorong kursi roda Yara menuju ruangan rawat inap Yara.
.
.
.
TBC
__ADS_1