Menjadi Istri Kedua Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Sahabatku
105. Saka Cemburu Lagi


__ADS_3

Ayo klik vote dan likenya dongg, ceritanya kan emang harus ada up and downnya ha ha haπŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» Yang udah vote ... i lap yu pullllll


Mau sedikit cerita ya, jadi ini itu harus diedit dan di revisi ulang, karena ada sedikit mis komunikasi dri awal saja dengan editor. Jadi ini ceritanya harus diselesaikan di satu buku.. ntar penjabaran di buku yang satunya. Karena belum bisa edit beneran jadi yang buku satunya dipindah langsung kesini.


Oleh karena itu plissssss, jangan lupa like ( ini gratisssss) dan votee ( ini juga gratis kokkk) 😭😭😭... biar review dan updatenya bisa cepet.


πŸ˜˜πŸ˜πŸ˜‹


Jangan lupa vote like vote like vote like vote likeπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Happy reading!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Alana sudah dipindah ke rungan VVIP3, sebetulnya Saka malah sudah dibebaskan dan diperbolehlan pulang karena dianggap sudah sehat. Karena menurut dokter Indra, yang merupakan dokter yang menangani Saka, Saka sudah tidak lagi sakit maupun stress, karena ia sudah ketemu Alana dan anaknya. Tapi ya gitu, Saka tetep ngotot minta ganti dokter karena merasa penilaian dokter Indra itu gak bener. Padahal emang Saka udah gak kenapa kenapa, dasar Saka aja yang ga mau lepas dari Alana dan anaknya. Sebenarnya dia juga lagi memikirkan Yara, jadi ia meninggalkan Alana di ruang VVIP seorang diri.


Tok tok tok.


" Hai, nona Alana? Boleh saya masuk?" tanya dokter Indra sambil membawa buket bunga yang berisi coklat dan boneka teddy bear yang berukuran cukup besar.


" Oh dokter Indra, tentu saja. Silahkan masuk;" sahut Alana sambil tersenyum.


" Loh dimana tuan Narendra. Bukannya dia juga masih jadi pasien? Kok udah ilang ilang." sindir dokter Indra dengan nada sedikit nylekit. Maklum dia agak kesel juga sama Saka yang lebay dan cemburuan. Tapi sebenarnya Saka juga gak sepenuhnya salah. Saka bisa melihat dari sorot mata dokter Indra yang memuja Alana. Ya, dokter Indra menyukai Alana sejak pandangan pertama. Baginya sosok Alana yang sempurna tidak perlu menjadi istri kedua dari tuan Narendra. Akan banyak laki laki yang akan mengantri untuk memiliki Alana. Dokter Indra mencari tahu tentang hubungan rumit antara Alana, Saka dan Yara. Ia menyayangkan keputusan Alana mau jadi istri kedua yang notabene akan banyak memiliki stigma negatif.


" Ha ha ha, dia lagi mengurus Yara. Kenapa dokter Indra kesini? Mana bawa buket segala. Mau jenguk Saka..? eh maksud saya Narendra?" tanya Alana sambil menaikkan alisnya keheranan.


" Jenguk kamulah.Masak jenguk tuan Narendra pake teddy bear dan coklat." sanggah dokter Indra sambil manyun yang membuat ALana ketawa.


" Ha ha ha kok dokter tau kalau saya suka coklat. Makasih ya." sahut Alana tulus.


" Panggil saya Indra saja. Saya pikir umur kita gak terpaut jauh kan?" kata dokter Indra sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ini bukan masalah umur, tapi masalahnya kita gak sedekat itu untuk cuman panggil nama." sergah Alana dengan lugas dan apa adanya.


" Ha ha ha, saya senang kamu itu orangnya apa adanya. Sangat jarang seorang gadis tampil blak blakan macam kamu." sahut dokter Indra lagi.


" Saya bukan gadis, saya ibu dari dua orang anak. Bukan jamannya malu malu kucing." balas Alana lagi.


" Kadang saya lupa kalau bukan berhadapan dengan seorang gadis. Habisnya kamu masih kayak abg sih. Gak kelihatan kalau sudah punya 2 buntut." sanggah dokter Indra lagi.


" Pasti banyak gadis yang mau sama dokter, secara rayuannya maut." sahut Alana dengan lirikannya yang tajam. Ia tahu dokter ini sedikit modus, padahal dokter itu juga tahu kalau Alana statusnya istri Saka, tapi masih juga memgeluarkan kata kata manis seperti itu kepadanya.


" Sayangnya, dokter yang satu ini hanya menyukai seorang gadis yang menolaknya bahkan sebelum dirinya menembaknya." jelas dokter Indra sedikit hiperbola.


" Mungkin ditolak karena statusnya sudah bukan gadis lagi kali, dok!" sanggah Alana.


" Masa untuk sekedar berteman harus nyari yang gadis saja. Jadi saya gak boleh berteman dengan ibu ibu dong." balas dokter Indra sengit.


" Iya deh iya, terserah dokter saja. Asal gadisnya mau, ya silahkan saja dokter berteman dengannya." sahut Alana dengan nada kesal.


" Baik dok! Mungkin 3 hari lagi juga sudah boleh pulang. Tapi mungkin baby Al belum boleh dibawa pulang dulu, nunggu seminggu deh kayaknya. " kata Alana dengan raut wajah sedih.


" Jangan khawatir, kalau kamu pulang, baby kamu akan saya sering jenguk. Supaya saya bisa pantau kondisinya terus dan update buat kamu." kata dokter Indra sambil memandang Alana dengan tatapan yang sulit diartikan.


" Ehm, gausah dok. Kayaknya akan saya tunggu sampai bisa bawa baby Al pulang saja." kata Alana menolak kebaikan dokter Indra dengan halus.


" Kebaikan saya gak kena charge kok. Saya cuman ingin berteman sama kamu kok. Gak salah kan?" desak dokter Indra. Sakkarepmulah dok, batin Alana dengan wajah lesu. Ditolak ya tetep ngeyel.


" Hanya berteman, nona Alanaaa." jelas dokter Indra saat Alana hanya memandang dengan raut tidak percaya.


" Hmmh." jawab Alana menganguk. Sekalipun mengangguk, Alana tidak akan membuka kesempatan bagi dokter Indra untuk masuk diantara dirinya dan Saka. Daripada ntar Saka uring uringan ga jelas.


" Terimakasih!" sahut dokter Indra sumringah sambil memegang tangan Alana yang tersampir di sisi kiri brankar.

__ADS_1


Tapi Alana buru buru menarik tangannya. Benar saja, Saka tiba tiba masuk ke ruangan sehabis dirinya menjenguk Yara. Wajah Saka yang tampak muram tambah merah karena ia melihat dokter Indra yang sedang duduk di samping Alana dan posisi tangannya tampak dekat dengan tubuh Alana.


" Wow ada siapa ini yang sedang berkunjung?" tanya Saka dengan nada cemburu.


" Ah tuan Narendra, saya hanya ingin menjenguk teman saya." kata dokter Indra dengan nada lugas dan santai.


" Disini hanya ada Alana, dan dia adalah ISTRI saya, bukan teman anda. Dan oh ya, saya masih sangat kaya dan masih sanggup kalau hanya untuk membayar uang rumah sakit istri saya, tidak perlu ada campur tangan anak pemilik rumah sakit ini untuk membantu biaya perawatan rumah sakitnya. Jadi tolong nanti saya diinfokan berapa nomer rekening anda, saya akan transfer balik uang anda tiga kali lipat. Anggap saja itu tips rasa terimakasih saya karena sudah merawat saya selama saya tidak sadarkan diri."


" Bby!!" sergah Alana dengan suara tertahan.


" Jangan bilang kalau kamu mau membelanya." balas Saka dengan nada datar dan dingin. Tatapan matanya begitu tajam, membuat Alana jengah. Seakan Alana menjadi tertuduh selingkuh.


" Hei, tuan Narendra. Saya hanya menjenguk teman saya yang habis melahirkan, itu saja. Kalau anda merasa gak nyaman, saya pamit dulu. Lana, jaga kesehatan, jangan berpikir yang tidak tidak. Aku pulang dulu." pamit dokter Indra sambil menyunggingkan senyum terbaiknya untuk Alana dan kembali memasang wajah dingin ketika menghadapi Saka. Tangan Saka sudah terkepal di samping kanan kiri tubuhnya. Ia sudah tidak sabar untuk melayangkan bogem mentah kepada dokter Indra yang seakan mencari gara gara dengannya. Tapi Saka tidak memukul dokter Indra. Ia tidak mau Alana menjadi marah dengannya. Saka berusaha keras menahan amarahnya.


Saat dokter Indra sudah keluar dan menutup pintu ruangan itu, Saka langsung merajuk dengan Alana. Ia menganggap Alana menanggapi kelakuan dokter Indra yang menyukai Alana.


" Sayangggg, itu dari dokter ganjen itukah?" tanya Saka pada Alana saat matanya melihat coklat dan boneka teddy bear di samping bantal Alana.


Alana memutar bola matanya dengan rasa kesal pada Saka.


" Iya, itu dari dokter Indra." sahut Alna dengan nada ketus.


" Buang!" perintah Saka dengan nada diktatornya. Alana tambah kesal dengan sikap Saka yang kekanakan. Ia juga tidak menanggapi dokter Indra juga. Bahkan pertemanan dengan dokter itupun ia tolak dengan tegas.


Alana tidak menjawab perintah Saka, Alana langsung memejamkan mata dan membelakangi Saka. Menaikan selimut menutupi seluruh tubuhnya dan membenamkan kepalanya ke dalam selimut itu juga. Ia sebel dengan Saka karena tidak percaya dengan dirinya. Dan selalu mencemburui untuk hal hal yang ga penting.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2